Terisolir di Tengah Bencana Tanoh Gayo: Catatan Ketika Alam Memberi Pelajaran
![]() |
| Sesaat sebelum kita memulai perjalanan menuju jalan Bener Meriah - KKA Lhokseumawe dengan jalan kaki |
“Bencana tidak selalu datang dengan peringatan; kadang ia hadir pelan, lewat hujan yang tak kunjung berhenti. Malam itu Kami datang sebagai tamu di sebuah kota, lalu bermalam sebagai orang-orang yang terisolir.”
Senin malam itu, tepat 25 November 2025 setelah menghadiri acara pelantikan pengurus KONI Aceh masa bhakti 2025 – 2029 di Anjong Mon Mata, saya berencana berangkat menuju Takengon, karena cuaca hujan yang tak henti kami menunda keesokan paginya dan merubah plan yang semula naik mobil bersama rombongan lalu naik kendaraan umum Hiece. Tak ada mentari, sinarnya tertutup gumpalan awan yang menurunkan hujan, sepanjang waktu hujan tak henti turun membasahi bumi. Jam 11.00 WIB mobil berangkat menyusuri jalanan yang tak begitu padat, namun tak bisa dengan kecepatan tinggi karena curah hujan yang tinggi menghalangi jarak pandang, tak ada pemandangan yang mengesankan karena tertutup kabut hujan, tepat pukul 20.00 WIB saya tiba di Hotel Renggali, Takengon.
Suasana malam itu tidak seperti biasa, karena sepanjang jalan hujan sehingga cuaca begitu dingin. Renggali hari itu ramai oleh rombongan Palang Merah Aceh yang selama 3 hari kedepan melaksanakan Musyawarah untuk memilih nakhoda baru dan rombongan Motor Gede yang touring dari Jakarta. Karena telat, saya dapat kamar yang jauh dari loby hotel dan membuat saya kesulitan, karena harus membawa koper ditengah guyuran hujan dengan jarak yang lumayan.












