Aceh Singkil

Singkil Kota " Batuah "

Wednesday, May 22, 2019


Singkil sebagai salah satu kabupaten di provinsi Aceh memiliki julukan   Singkil Kota Batuah “, biasanya sih kita mendengarnya saat ada sambutan dari pejabat atau ceramah agama oleh ustadz di peringatan hari besar. Hal ini karena di daerah inilah lahir salah satu ulama yang sangat terkenal di Aceh, bahkan juga dunia, Syeikh Abdurrauf Assingkili. Jika kita mencerna makna dari julukan diatas, julukan itu memiliki makna bahwa Singkil adalah kota yang keramat.
 
Jika kita melihat perjalanan sejarah, Singkil mengalami dua kali perpindahan mulai dari Singkil lama hingga Singkil baru yang saat ini ramai didiami masyarakat. Berbagai pelaku sejarah banyak menuliskan bahwa Singkil mengalami masa kejayaan pada abad ke 18. Kala itu Singkil menjadi kota bandar untuk perdagangan ekonomi di Pantai Barat Selatan untuk berbagai komoditas, bahkan banyak yang di ekspor ke Eropa dan Amerika. ( A. Doup 1899 ).

Tulisan Bersama

Perubahan Yang Termimpikan

Sunday, May 19, 2019


Sebuah kisah yang menginspirasi ketika membaca  tulisan sahabatku. begitu besar misi dan mimpinya dan begitu peduli ia kepada anak-anak bangsa. Semoga tercurahkan selalu ilmu yang menebar manfaat. Sungguh suatu kebanggan jika generasi muda adalah ia yang peduli terhadap negerinya dan prestasi anak bangsa. sebuah cita-cita besar untuk mencerdaskan anak bangsa berbagi pengetahuan dan mengajarkan mereka nilai-nilai moral. Karena sungguh sia-sia jika ilmu yang tak di sertai dengan moral dan kepribadian yang unggul.

Menjadi PR bagi kita yang ingin menjadikan kota kelahiran sebagai kebanggan dan mampu mencetuskan perubahan untuk para generasinya dan  saatnya menyusun strategi untuk menjadikan minat para pelajar dan generasi muda agar mencintai ilmu dan giat menggali pengetahuan. sebuah kebiasaan " membaca " yang masih begitu asing bagi mereka atau mengganggapnya hanya keboringan semata. Semoga perubahan itu dapat terwujud untuk para sahabatku, yang berjuang dan bersemangat menuntut ilmusemoga kelak cita-cita kita bersama mampu kita wujudkan, karena pemuda seharusnya yang bergerak merintis perubahan besar, karena saya yakin para sahabat semua mempunyai mimpi yang besar dengan ide-ide yang brilian.

Catatlah semua mimpi-mimpi itu, karena  kita kan bersama-sama mewujudkan kerja nyata itu tetap berkarya, kitalah yang harus bergerak untuk  para penerus generasi bangsa !!

Ditulis oleh Juni Astuti


Dunia Kerja

Cerita Menjadi Ajudan #5 : Social Enterpreneur atau Berkebun

Sunday, May 19, 2019


Desain Warkop Keumala Coffee and Book

Tahun 2019 itu menjadi penting karena ada banyak keputusan dalam hidup yang harus saya ambil dan jalani. Mulai dari merintis usaha dan memilih jalan hidup, serta memulai membangun sebuah rumah tangga, ibadah yang kata banyak orang itu merupakan ibadah paling berat, paling lama dan paling besar pahalanya karena akan dijalani seumur hidup. Sangking gugupnya, saya masih tidak menyangka perjalanan hidup saya sudah sejauh ini. 

Berkerja sebagai ajudan ternyata tidak menjamin kita dari sisi finansial, sehingga saya mulai berpikir untuk mencari usaha yang dapat menambah penghasilan dan memutar kepala untuk terus berpikir dan mencari inovasi. Sebetulnya sejak dulu niat banget pengen bisa berkebun kayak ayah, walaupun tidak begitu luas dan banyak, namun akan terasa nikmat dan produktif jika rutin dan tetap memberi pemasukan. Hal ini sangat membantu ayah dalam menghidupi rumah tangga dan membiayai kami sekolah. Walaupun sebenarnya harga TBS " Tandan Buah Segar " saat ini sangat fluktuatif, bahkan setahun terakhir menunjukkan grafik yang terus menurun. 

Dengan tabungan seadanya saya mulai berpikir untuk keluar dari zona nyaman, kondisi saat ini sih saya masih sangat nyaman dengan penghasilan tetap di instansi tempat berkerja saat ini. Pilihan saat  itu yang terbayang adalah membeli kebun atau membuka satu warung kopi. Setelah berpikir dan berdiskusi panjang dengan teman - teman, akhirnya saya memilih untuk membuka satu warung kopi. 

Saya sangat bersyukur dan hampir tak percaya, Allah SWT memberikan saya keberanian ditengah berbagai kegundahan dan rintangan untuk lebih cepat mewujudkan mimpi - mimpi kecil secara bersamaan, membangun satu pustaka kecil, merintis warung kopi, serta yang terpenting adalah membangun mahligai rumah tangga yang pernah saya pinta dalam doa kepadaNya.

Dunia Kerja

Cerita Menjadi Ajudan #4 : Ketika Lelah Menghampiri

Saturday, February 23, 2019



Menjadi ajudan itu banyak suka dukanya. Kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana rutinitas ajudan mendampingi pimpinan dalam berkerja. Sebetulnya saya lebih nyaman disebut asisten pribadi atau Aspri sih ketimbang ajudan, karena fashion saya sebenarnya mengurusi hal – hal yang tak pernah terlihat sih. Seperti menyusun jadwal rapat dan pertemuan, menyiapkan bahan dan pidato, mengkondisikan setiap acara yang dihadiri, mengatur pertemuan dengan tamu serta banyak lagi diluar itu yang harus saya kerjakan. Penat, frustasi dan sumpek menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Bahkan terkadang job desk cenderung sulit ditebak. Namun, itu sudah tidak zamannya lagi jika kita harus mengutuk kondisi ini, untuk mengatasi semua itu, meluruskan sudut pandang merupakan kunci agar waktu kerja yang sangat padat menjadi nyaman dan biasa saja. Karena jika hal ini tidak ditangani dengan baik, maka stress akan dengan mudah mengelayuti pikiran.

Kebanyakan teman – teman yang berkerja di pemerintahan atau di swasta, berkerja mulai pukul 08.00 s/d 16.00. Terkadang terasa sangat melelahkan sekali, karena harus berkerja 8 jam dalam sehari. Saya biasanya berkerja itu mulai pukul 08.00 - 00.00 sih, karena kita harus selalu melekat. Walaupun tidak dikantor selalu, kadang kita di tengah masyarakat dan di kantor, terus kembali ke pendopo. Biasanya saya nyuri waktu buat istirahat itu saat di mobil, berhubung saya lebih sering berada di mobil pengawalan, jadi bisa tidur dan istirahat. Tapi ya gitu, kadang saat kita pengen tidur sebentar, handphone itu hampir setiap waktu berdering.

Sebagai ajudan kita dituntut harus memiliki kecapakan mendasar, seperti manajemen waktu, standart protokol, teknik komunikasi, menguasai komputer, serta banyak hal lainnya. Namun, tulisan ini hanya membatas tentang manajemen waktu yang saya jalani sehari – hari. 

Aceh Singkil

Makmur Syahputra #2 : Memulai Karir Dari Pegawai Negeri

Saturday, February 09, 2019


Setelah menyandang gelar sarjana, beliau sempat gundah untuk menentukan arah perjalanan karirnya. Hal ini wajar dialami oleh seorang sarjana, karena saat itu abang dan kakak ipar dll telah banyak yang sukses memulai karir. Namun kegundahan itu perlahan hilang saat wisuda, Abangda beliau Haji Raja Usman datang ke acara wisuda beliau sambil membawa titipan pesan dari Drs. Sukardi Is, Bupati Aceh Selatan kala itu.

" Isi pesan beliau adalah agar Makmur Syahputra pulang ke daerahnya, untuk mengabdi dan bersama dengan teman – teman lain membangun Aceh Selatan. Pesan ini tidak hanya lahir begitu saja, melainkan karena selama ini Bupati Aceh Selatan melihat bahwa Makmur adalah mutiara yang harus dibawa pulang untuk membangun, tidak hanya membangun jalan, jembatan, gedung, malaikan juga membangun aspek kehidupan di tengah masyarakat ".

Waktu itu, jika ada pegawai yang pensiun, pejabat yang memegang tanggung jawab di instansi tersebut dapat mengusul pengganti untuk diangkat menjadi pegawai. Kebetulan kala itu Bapak Bachrum Syah akan memasuki masa pensiun dengan jabatan terakhir sebagai Sekretaris Wilayah.