Aceh Singkil

Ulama Besar dari Singkil: Syekh Abdul Rauf Al - Singkili

14:52:00


 
Syekh Abdur Rauf Al - Singkili atau Syiah Kuala
Mendengar nama Syekh Abdul Rauf Al Singkili, saya percaya bahwa hampir seluruh masyarakat Aceh pernah mendengar nama beliau, tapi masyarakat Aceh lebih mengenal dengan sebutan Syiah Kuala, bahkan Indonesia dan Dunia mengenal beliau lewat karya dan keilmuan yang dimilikinya. Beliau adalah Ulama besar dan tokoh tassawuf dari Aceh yang pertama kali mengembangkan ajaran Tharekat Syattariah di Indonesia. Banyak ulama besar di Aceh dan berbagai daerah lain di Indonesia adalah murid beliau, diantaranya adalah Syaikh Burhanuddin Ulakan RA dari Pariaman, Sumatera Barat. Untuk menghargai jasa beliau terhadap kemajuan Islam dan pendidikan di Aceh, nama Beliau menjadi disematkan menjadi salah satu nama kampus di Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala.


Pernah waktu itu, saya bersama Uncu berangkat ke Padang dan bertemu dengan tokoh - tokoh agama dan masyarakat disana, mereka begitu menghormati sekali kami yang berasal dari Aceh Singkil, mereka selalu bertanya tentang Syekh Abdul Rauf Assingkili. Saya merasa dan yakin sekali, begitu kuatnya pengaruh dan perkembangan agama Islam di Sumatera Barat sangat dipengaruhi oleh Ulama Burhanuddin yang merupakan murid Beliau. Bahkan sebahagian besar tokoh yang saya jumpai menyatakan keinginan untuk berziarah ke Makam Syekh Abdur Rauf di Singkil.

Syekh Abdur Rauf lahir di Desa Suro pada tahun 1620, namun ada juga yang berpendapat bahwa beliau lahir tahun 1615. Nama asli beliau adalah Aminuddin Abdur rauf Bin Ali Al - Jawi Al - Fansuri As Singkili. Beliau adalah putra dari seorang Arab asli yang dulu menetap di Singkel, atau saat ini dikenal dengan Kabupaten Aceh Singkil. Keluarga besar beliau adalah keturunan dari ulama Parsi, Syekh Al - Fansuri yang menikahi seorang wanita setempat dari Fansur " Barus " dan menetap di Singkel.

Personal Story

Cerita Menjadi Ajudan #2 : Silaturahmi Yang Tak Terbatas

15:38:00



Saat Meninjau Lokasi Banjir
Salah satu hal yang paling saya syukuri selama berkerja adalah jalinan silaturahmi yang tidak terbatas. Di zaman yang serba canggih dan maju ini, jalinan silaturahmi merupakan satu hal yang sebetulnya sulit dijaga dan dipertahankan. Banyak faktor yang menyebabkan, antara lain kemajuan teknologi yang memudahkan orang berkomunikasi tanpa perlu bertemu, semua akses berita, kabar dll dilakukan di ruang media sosial. Ada yang rapat dan diskusi di grup whattshap, hingga rapat dengan menggunakan video conference.

Sebagai ajudan, salah satu tugas kita itu adalah ikut kemana pun Bupati pergi dan berkegiatan. Baik kegiatan bertemu masyarakat, acara kedinasan, membuka acara, dan banyak kegiatan lain. Semakin sering kita turun ke lapangan, maka sebanyak banyak kita bersilaturahmi dengan masyarakat. Berbeda dengan kepala dinas yang hanya membidangi satu atau beberapa bidang pekerjaan saja, kalau Bupati itu semua lapisan masyarakat, seluruh urusan perkantoran dan untuk lebih jelasnya bahwa apapun kejadian dan kegiatan serta yang masih berada dalam wilayah kabupaten Aceh Singkil, secara tidak langsung itu merupakan tugas dan tanggung jawab Bupati. Tetapi tidak semua tanggung jawab langsung Bupati, tetapi ada yang tanggung jawab moral maupun kedinasan.

Personal Story

Cerita Menjadi Ajudan #1 : Perkenalan

14:52:00



Tak tau kenapa, tiba - tiba saya pengen menuliskan kisah suka duka menjadi seorang ajudan kepala daerah. Ide ini sih awalnya muncul pas saya cerita ke kakak saya saat travelling ke Pulau Banyak, kita berbagi pengalaman lucu yang saya alami saat kerja dan cerita tentang study mereka di Australia, terus kak Riza nyahut dan bilang, " semua cerita ini bagus dek untuk dituliskan, banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa dibagi kepada orang lain katanya.

Sebetulnya saya juga bingung sih mau ngisi blog ini dengan tulisan apa. Baiklah, saya akan bercerita tentang perjalanan suka duka menjadi seorang ajudan Bupati. So, sebelum bercerita panjang lebar tentang gimana sih kehidupan para ajudan, ada baiknya saya memperkenalkan diri kepada pembaca. Oa, cerita ini tentu tidaklah sama dengan cerita ajudan lain dari daerah yang berbeda, cerita ini adalah kisah yang saya alami dan jalani. Anggap saja ini pengalaman pribadi yang tidak elok rasanya jika untuk menggambarkan secara keseluruhan kehidupan ajudan.

Aceh Singkil

Tak Pernah Bosan Menikmati Bahari Pulau Banyak

23:59:00


 
Dibawah Jembatan Balibung " Balai Teluk Nibung "
Pulau banyak itu selalu menarik untuk dikunjungi, tak pernah membuat bosan mereka yang datang, bahkan selalu ingin kembali lagi. Waktu berkunjung ke Pulau Banyak minggu lalu, saya pergi dengan kakak dan teman – teman yang rata – rata belum pernah ke Pulo. Kak Riza, Liza dan Mida lebih tepat saya sebut sebagai traveller sejati, rasanya sebutan ini cocok banget buat mereka. Ada yang travelling sendiri keliling berbagai negara di Eropa, hingga beberapa negara Asia. Kemarin itu setelah dari Pulau Banyak mereka akan lanjut ke Pulau Nias di Sumatera Utara. Tak ada lelahnya.

Pulau Banyak sangat berbeda dengan negara Eropa yang jauh lebih maju dan indah. Namun ternyata pulau banyak punya keunikan tersendiri yang sulit kita temukan di daerah lain, keindahan bahari yang indah memukau serta pesona alam yang masih asri. Saat berada di kapal, karena banyak yang baru perdana bermain ke Pulo Banyak, saya bercerita banyak tentang apa aja sih yang ada disana dan kita harus ngapain saja nantinya selama disana, pokoknya saya cerita banyak layaknya seorang sales yang mempromosikan produknya.  

Dunia Pendidikan

Ada Tangis di Penghujung November

22:26:00

Bersama Pengajar Muda angkatan XV dan XVII
  Ketika aku bermimpi sendiri, itu hanyalah sebuah mimpi. Ketika kita bermimpi bersama, itu adalah awal sebuah kenyataan. Ketika kita berkerja bersama, mengikuti mimpi kita, itu adalah penciptaan surga di dunia. – Anonim

Senyumnya masih sama, seperti yang kusaksikan di penghujung November setahun lalu. Senyum penuh harapan dan optimisme, namun terlihat rasa lelah yang mendalam, mereka baru saja melakukan perjalanan dari Jakarta – Medan dan diteruskan langsung ke Aceh Singkil. Masih teringat jelas sekali, dibawah sinaran purnama yang menerangi, kami menanti kedatangan 8 ( delapan ) pengajar yang akan mengabdi selama setahun menghabiskan waktu di daerah ini. Berkumpul bersama masyarakat yang heterogen, menyelamani akar rumput kebudayaan, menyatu dalam nafas urat nadi kehidupan, semua suka duka selama disini pasti membekas dalam hati dan pikiran mereka, benar kata inisiator  gerakan ini, setahun mengajar seumur hidup menginspirasi.

Dalam tulisan ini, izinkan saya menyebut delapan pengajar muda ini sebagai pelita pendidikan, pelita itu adalah Pari, Bimbim, Adit, James, Nia, Yulia, Angga dan Batari. Saya yakin sebelum menjadi pengajar muda, mereka belum pernah mendengar kata Aceh Singkil. Wajar saja sih, karena daerah ini sangat jarang terdengar di kalangan mahasiswa di ibukota.

Dunia Pendidikan

Menyatukan Asa Dalam Forum Kemajuan Pendidikan Daerah 2018

16:58:00


Malam Apresiasi FKPD 2018 di Ancol
 “ Mengikuti Forum Kemajuan Pendidikan Daerah terasa seperti pulang ke rumah sendiri. rumah yang dipenuhi dengan kerja keras, ketulusan dan harapan akan masa depan pendidikan republik ini “.

Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari forum pendidikan ini, mewakili Aceh Singkil bersama dengan Bang Pandu, dan Mas Edho sebagai perwakilan daerah penempatan pengajar muda. Bersyukur banget bisa kenal dan akrab dengan mereka, sosok tangguh yang saya rasakan ketulusan mereka untuk kemajuan daerah. Bang Pandu adalah Kepala Seksi di Dinas Pendidikan dan Mas Edo adalah salah satu guru sekaligus pemerhati pendidikan di Kota Baharu, kampung kelahiran beliau. Ketemu teman satu daerah saja bikin kita semakin semangat, apalagi bisa berkumpul dengan penggerak dari daerah se Indonesia lainnya. 

Selama kita mengikuti kegiatan mulai tanggal 22 s / d 24 Oktober 2018 di Ancol, Jakarta. Dengan tema “ Perjalanan Cita-cita Pendidikan Indonesia”, ada banyak sekali cerita lucu, menarik dan inspiratif yang membuat kita bisa saling belajar. Kita yang hadir sangat beragam sekali latar belakangnya, mulai dari Dinas Pendikan daerah, Kepala Sekolah dan Guru dari sekolah-sekolah, serta komunitas-komunitas pendidikan. Selain mendapatkan banyak ilmu baru, hal yang terpenting yang saya dapatkan adalah semangat dan harapan baru. 

setelah saya buka kembali buku catatan FKPD 2018, forum ini memiliki tujuan antara lain, merefleksikan perjalanan dan dampak gerakan pendidikan daerah, memanen pembelajaran prinsip dasar gerakan pendidikan daerah, menjadi ruang apresiasi dan inspirasi antara Indonesia Mengajar, Penggerak dan Pegiat, serta mendorong inisiatif - inisiatif baru gerakan pendidikan di Indonesia