Terisolir di Tengah Bencana Tanoh Gayo: Catatan Ketika Alam Memberi Pelajaran

By Si Anak Rimo - December 13, 2025

Sesaat sebelum kita memulai perjalanan menuju jalan Bener Meriah - KKA Lhokseumawe dengan jalan kaki

“Bencana tidak selalu datang dengan peringatan; kadang ia hadir pelan, lewat hujan yang tak kunjung berhenti. Malam itu Kami datang sebagai tamu di sebuah kota, lalu bermalam sebagai orang-orang yang terisolir.

Senin malam itu, tepat 25 November 2025 setelah menghadiri acara pelantikan pengurus KONI Aceh masa bhakti 2025 – 2029 di Anjong Mon Mata, saya berencana berangkat menuju Takengon, karena cuaca hujan yang tak henti kami menunda keesokan paginya dan merubah plan yang semula naik mobil bersama rombongan lalu naik kendaraan umum Hiece. Tak ada mentari, sinarnya tertutup gumpalan awan yang menurunkan hujan, sepanjang waktu hujan tak henti turun membasahi bumi. Jam 11.00 WIB mobil berangkat menyusuri jalanan yang tak begitu padat, namun tak bisa dengan kecepatan tinggi karena curah hujan yang tinggi menghalangi jarak pandang, tak ada pemandangan yang mengesankan karena tertutup kabut hujan, tepat pukul 20.00 WIB saya tiba di Hotel Renggali, Takengon.

Suasana malam itu tidak seperti biasa, karena sepanjang jalan hujan sehingga cuaca begitu dingin. Renggali hari itu ramai oleh rombongan Palang Merah Aceh yang selama 3 hari kedepan melaksanakan Musyawarah untuk memilih nakhoda baru dan rombongan Motor Gede yang touring dari Jakarta. Karena telat, saya dapat kamar yang jauh dari loby hotel dan membuat saya kesulitan, karena harus membawa koper ditengah guyuran hujan dengan jarak yang lumayan.

Rabu 26 November, di restaurant hotel, kami menikmati malam dengan segelas sanger ditengah hujan yang tak berhenti, suasana malam itu ramai oleh rombongan kita Palang Merah yang berasal dari semua kabupaten / kota yang hadir. Tiba – tiba terdengar suara seperti gemuruh yang sedikit panjang, karena malam hari kami berpikir ini awan yang bergerak kencang atau pesawat yang melintas, tak terpikir bencana itu datang.

“ Huuuussssstttttt “ suara longsor yang begitu besar terjadi di seberang Danau Laut Tawar, kita baru menyadari ini longsor esok paginya karena terlihat jelas dari hotel longsor yang menenggelamkan salah satu café di tepi danau, jika kami tak salah namanya Café Horas. Dan kabar angin pun terdengar bahwa longsor semalam telah meratakan café dan menimbun 7 masyarakat.

Hari itu pesan mulai ramai di whattshap, terdengar bahwa banjir terjadi dimana – mana dan Singkil dilanda banjir besar. Takengon dilanda longsor di banyak titik yang memutus akses darat ke berbagai daerah, namun belum parah, kami masih sempat keluar dari hotel menuju kota untuk membeli beberapa bekal dan makanan. Keesokan pagi, akses hotel pun putus total untuk keluar menuju kota, jarak ke kota yang begitu dekat pun tak dapat kita lalui karena di bukit ada banyak titik longsor yang membuat badan jalan dipenuhi pohon pinus dan lumpur tebal.

Alam marah, bencana hidrometereologi membuat semua panik, listrik mati, jaringan telekomunikasi putus, BBM kosong, dan disusul bahan pokok yang mulai habis dan hilang, tanoh gayo benar – benar terisolir. Kami terisolir di hotel, tak bisa memberi kabar kepada keluarga dan semua mulai resah, tak tau informasi apa yang terjadi di luar. Genset hotel tak bisa hidup karena solar tak dapat melintasi bukit menuju hotel. Kondisi hotel saat itu berbeda, dijalanan penuh dengan lumpur, bahkan lumpur yang turun dari balik bukit sedalam 20 senti, bahkan air gunung masuk ke dalam hotel, ini membuat kita harus menenteng sendal jika ingin keluar hotel. 

Perjalanan Menerobos Longsor

 

“ Tak ada pilihan lain selain kita turun tangan menerobos longsor, kita gotong royong membersihkan jalanan “ ujar Bang Khalidi, Ketua PMI Pidie.

Pak Murdani memimpin di depan, walau peralatan terbatas dan semua diupayakan, namun tak berhasil karena dibawah longsoran tanah ada banyak batang pohon yang tak mampu untuk kita potong dengan singso. Sekitar 4 jam kemudian alat berat masuk dan mulai bekerja, perlahan jalanan bersih dan kita sepakat meninggalkan hotel menuju kota. Titik kumpul kita adalah mesjid Ruhama yang berada di jantung kota, tak jauh dari pendopo bupati. Cuaca sudah mulai terang, hujan perlahan berhenti walau kadang gerimis.

Ketua rombongan beserta tim mencari informasi bagaimana akses pulang ke daerah, semua tak bisa dan terputus total. Mulai dari Bener Meriah, Beutong hingga Blang Kejeren juga putus total. Sambil menunggu arahan selanjutnya, kita menikmati kopi di jalanan kota sambil numpang charge handphone yang sudah menipis.

“ Kita tak bisa keluar menuju Bener Meriah, longsor di beberapa titik membuat kita tak bisa melintas, mungkin besok sudah bisa karena lokasinya sangat dekat dengan kota, pasti cepat diperbaiki “ ujar salah satu tim kita

Semua rombongan PMI bermalam di Kota Takengon, kita menginap di salah satu hotel, yang lainnya tersebar di beberapa hotel. Kondisi malam itu sudah gelap karena listrik padam total, penginapan juga kesulitan air, ya kita menginap di hotel yang tak ada lampu. tak masalah sih lampu padam asal jangan di luar karena cuaca dingin. Semua akses sudah putus total dan mulai terlihat kepanikan karena warga banyak yang mencari tempat charger hp atau senter, jalanan kota ramai orang melintas, sebahagian besar juga para pelancong yang berkegiatan di Takengon, lalu tak bisa keluar. Malam itu gelap, hanya beberapa yang hidup lampu, salah satunya pendopo Bupati. Terang benderang namun sunyi, tak ada aktivitas yang terlihat dari kejauhan. Pemerintah masih sangat santai, ini terlihat karena kita berada di sekitaran pusat pemerintahan, sebahagian besar masih sibuk dengan urusan starlink dan BBM.

Menembus jalanan menuju Bener Meriah

Pagi itu setelah kita menyiapkan bekal alakadarnya, kita sepakat berangkat ke Bener Meriah, ada puluhan mobil yang tergabung dalam rombongan. Kita tak menyangka bahwa longsor dan banjir ini sangat parah, baru keluar dari Kota Takengon saja sudah sangat parah, sepanjang jalan kita melihat rumah yang tertimbun longsor dan jalan yang putus, tak lupa kita berhenti di beberapa lokasi longsor untuk berdiskusi dengan warga. Kita tak bisa lewat akses Bireun karena jalan putus, dan memutuskan ke Ibukota Bener Meriah, kita menetapkan markas PMI Bener Meriah sebagai camp dan titik kosentrasi untuk mengambil langkah selanjutnya.

Kondisi Bencana di Tanah Gayo

Tak ada yang menyangka bahwa bencana ini begitu besar dan berkepanjangan, memutus semua akses, udara dan darat, hingga membuat kebutuhan pokok sangat langka dan mengalami kenaikan yang tak masuk akal. Pagi itu setelah bermalam di Bener Meriah beberapa hari, saya gundah karena informasi yang kita dapatkan tidak pasti, banyak informasi atau kabar burung yang berseliweran.

“ Semua akses memang putus total dan bahkan 2 bulan belum tentu bisa dilalui, kami sudah coba masuk namun tak bisa “ ujar salah satu tim kita

Ada yang mengatakan “ Jalan Beutong sudah mulai dikerjakan, karena tak banyak kerusakan pasti lebih cepat, apalagi Bupati Nagan itu punya perhatian lebih ke Beutong, pasti cepat dikerjakan, apalagi disana memang ada alat berat yang sebelumnya sedang bekerja “ kata warga yang dari Nagan. Terlalu banyak kami mencari informasi, sehingga kita tak tau lagi mengambil keputusan.

Kebetulan BBM mobil kita masih ada setengah lagi, kita memutuskan pamit ke ketua untuk menerobos jalan di Beutong, dan jalan KKA. Kita pengen lihat sendiri bagaimana kerusakan dijalan, sambil menunggu perbaikan kita bisa tidur di mobil nantinya. Berbekal sedikit diskusi dengan masyarakat, kita melaju menuju jalan KKA, baru beberapa ratus meter dari markas kita, pemandangan longsor dan jalan putus sudah luar biasa dahsyat, tak masuk diakal ini akan bisa diperbaiki dalam waktu dekat. Kita mencoba jalan lain untuk bisa menuju Buntul, ternyata mobil belum bisa melalui akibat banyak sekali kerusakan dan titik longsor dan jalan putus, sepanjang jalan kita melihat warga mulai membersihkan rumah yang terkena longsor.  Jalanan masih ramai dan toko – toko berjualan walau dengan lampu padam. Titik paling ramai itu adalah posko BPBD dan titik yang memiliki starlink, banyak masyarakat berkumpul mencari jaringan untuk memberi kabar keluarga.

Jalan menuju KKA Aceh Utara putus total dengan kerusakan yang luar biasa, kami pun menutup opsi ini. Memang tak mungkin lagi mobil bisa melintas kecuali berjalan kaki. – Opsi 1 dihapus

Kita balik kanan, namun tak kembali ke markas. Kita memilih mencoba jalur beutong dan Blang Kejeren. Sebelum menyusuri jalan, kita ke terminal melihat apakah ada mobil yang masuk dari dua kabupaten ini, teryata tidak ada sama sekali. Dan saat mobil kita sudah menuju beutong pun, kerusakan disana sangat parah dan tak mungkin untuk dilalui. Di dekat penginapan di Takengon, kita bertemu anggota TNI yang berjalan kaki dari jalan Gayo Lues untuk ke Takengon, tak mungkin bisa diperbaiki dalam waktu dekat katanya. Barang – barang mereka tinggalkan, dan keesokan harinya mereka menyewa becak untuk diantarkan ke Bandara Rembele.

Mereka pun bertanya ke kita tentang kondisi Bener Meriah, saya menjelaskan tentang opsi satu - satunya melalui pesawat, tentu dengan harga tiket yang pada malam itu kisaran Rp. 3.800.000. Masalahnya tak hanya harga tiket, untuk mengirim dan menarik duit pun kita tak bisa karena antrian yang begitu panjang.  

Saya menggambarkan suasana hari itu di Takengon, BBM kosong dan antrian kendaraan luar biasa panjang bahkan bisa 2 km karena tersambung sampai ke arah RSUD, Polres dan Telkom dan kantor Bupati ramai karena ada aliran listrik dan jaringan starlink, di kantor terlihat pejabat silih berganti keluar dan ada rapat sepertinya, warga silih berganti masuk untuk menuliskan pesan yang bisa dikirimkan lewat Diskominfo, warung kopi yang biasa mangkal di trotoar jalan sangat ramai karena bisa ngopi sambil charger hp. Harga semuanya naik, bahkan saat kita makan pagi harga sangat tinggi kenaikan, karena memang harga sembako juga kita dengar sudah sampai 500 ribu untuk satu karung beras. Bahkan harga segitu pun barang tidak ditemukan karena habis. Tak banyak lalu lintas alat berat karena sepertinya di kabupaten ini terbatas sekali alat berat, ditambah BBM yang kosong, belum lagi antrian ATM hanya bisa kita menarik di Bank Aceh, panjang antrian hampir 100 meter. Kita pun memilih santai sejenak bersama segelas sanger ditemani suara genset di depan kantor bupati untuk melihat suasana karena BBM kita yang semakin menipis. Mesjid - mesjid banyak tak memiliki air karena lampu yang padam.

Di dinding pagar perkantoran, masyarakat menyampaikan kekecewaannya kepada Pemkab Aceh Tengah dalam menyikapi bencana, mereka membentangkan spanduk berisi kritikan, saya rasa wajar dan saya sepakat karena tidak melihat kegesitan pemerintah dalam menghadapi bencana ini. Selain berdiskusi saya juga mendengar keluhan warga yang mulai kesulitan terhadap kebutuhan pokok.  Ada juga yang berkata seperti ini “ Pemda kami seperti baru belajar berenang, dan tenggelam pula “ ujar salah satu masyarakat di dekat spanduk itu.

Saya menilai bahwa pemerintah daerah sepertinya kesulitan dan tak mampu membangun akses komunikasi ke provinsi dan pusat sehingga berhari - hari kondisi ini semakin sulit. Benar bahwa dua kabupaten ini tidak bisa lagi diakses dengan jalur darat, tak ada juga kita temukan helikopter yang mengangkut bahan pokok dan BBM untuk membantu akses pembersihan lokasi longsor. Karena tak ada masuk pada hari itu, kondisi kian parah dan harga semakin naik.  

Kita seperti berpikir apakah Jakarta tau kondisi bencana ini ?

Kok seperti adem ayem kala itu kondisinya. Karena banyak solusi harus via udara, wajar daerah tak mampu, namun kita melihat upaya itu sangat minim. Dan saya menilai bahwa masyarakat gayo sangat lembut dan baik hati, tak banyak yang protes dan mengeluh, mereka sabar dan setia menanti langkah dari pemerintah. Namun keesokan harinya saya melihat ada unjuk rasa sedikit terkait bencana ini di halaman kantor bupati, menuntut agar bertindak cepat karena kondisi kian sulit dan percepat bantuan pasca bencana terutama sembako dan BBM karena takut banyak masyarakat mati kelaparan.  

Karena tak ada akses yang bisa kita lalui untuk keluar dari tanoh gayo, kita memutuskan kembali ke markas di Bener Meriah dan menanti bersama arahan selanjutnya. Markas kita hanya berjarak 300 meter dari Bandara Rembele, sehingga keluar masuk pesawat pasti terdengar dan terlihat oleh kita. Sebenarnya hari pertama kita di Bener Meriah, kita mendapatkan tiket untuk terbang dengan pesawat sesuai arahan dari PMI Pusat, semua perwakilan dan ketua kabupaten / kota harus segera balik agar bisa memberikan pelayanan di daerah masing – masing. Karena saya memiliki rombongan, rasanya tak mungkin saya kembali sendiri. Ini berlawanan dengan hati nurani. Saya memutuskan untuk bertahan bersama rombongan sampai semua kita bisa kembali.

Cerita tentang jalan kaki ini kita sudah dapatkan di malam pertama kita di Bener Meriah. Ketua PMI Aceh Utara Pak Tantawi memilih opsi jalan kaki pulang karena ada Ibunya yang tinggal di Aceh Utara, ia meminta tim untuk mengantar ke titik paling jauh, kita menunggu kabar dari beliau, karena sesampai disana ia akan memberi kabar tentang kondisi jalan dan berapa jam yang dibutuhan untuk sampai ke Aceh Utara.

“ Besok gerak terus jalan kaki dan jangan berharap ada perbaikan jalan dalam waktu cepat, ngak mungkin bisa diperbaiki jalan ini karena kerusakannya luar biasa, gerak terus jalan kaki “ ujar Pak Tantawi.

Di langit Bandara Rembele Bener Meriah, ini satu – satunya akses udara untuk menurunkan logistik dua kabupaten, yaitu Bener Meriah dan Aceh Tengah. Jarak dari kota Takengon ke Rembele ini hanya 30 menit, sangat dekat. Bandara yang sangat indah juga luas untuk ukuran kabupaten, saban hari kami memantau perkembangan di Bandara. Namun tak banyak aktivitas di langit gayo, diawal waktu itu ada hercules kecil turun membawa sembako, lalu bertambah kegiatan untuk pesawat komersil, namun dengan harga yang sangat tinggi. Sudah mencapai 8 jt karena jalur penerbangan yang semakin jauh. Kotanya tak besar, sehingga kami sering berkeliling melihat situasi atau sekedar mencari jajan. Tak banyak tanda – tanda pemerintah akan hadir untuk memperbaiki atau membuka akses jalan yang rusak, alat berat juga begitu, hampir seminggu kita disana ada satu alat berat yang bergerak menuju arah KKA, namun terhenti karena BBM yang kosong.

Saya harus menceritakan kondisi ini, walaupun sedikit pahit. Di 5 hari pertama bencana itu, kita sering di café yang memiliki listrik dan jaringan starlink, Oia untuk Bener Meriah, ada beberapa titik yang memiliki jaringan, Pertama perkantoran Bupati, Polres, Markas PMI, café penginapan Rembele. Waktu itu di salah satu tempat kita bertemu dengan aparat dengan pangkat perwira, banyak diantara mereka yang juga mencari jaringan, namun kondisi pakaian yang begitu rapi dan sepatu sangat bersih. Dan satu waktu saya bertanya, apa kegiatan ini pak ?

“ Belum ada kegiatan pasti karena belum ada arahan “ katanya

Saya lemas, tidak terlihat mobilisasi pasukan dan tim di lapangan, memang ada yang terus bergerak di lokasi namun tidak masif dalam jumlah besar, dalam hati saya berkata jika kondisi begini memang tidak ada harapan lagi ada perbaikan akses jalan dalam waktu dekat. Saya menyesalkan kondisi ini, tentu keputusan besar ada di pemangku wilayah, yaitu Bupati yang harus berkoordinasi dengan jajaran Forkopimda.

Awalnya banyak yang mengira markas PMI adalah posko untuk bencana, karena kondisi hari itu banyak masyarakat yang berjalan kaki dari sudut – sudut desa menuju kota, jumlahnya sangat banyak, ada santri – santri di Bireun dan Lhokseumawe yang turun pulang kampung, ada juga yang naik pick up beramai – ramai, mereka takut ada longsor susulan dan kebutuhan stok makanan yang menipis. Mereka singgah bertanya, lalu kita pun banyak mengarahkan ke posko utama di Kantor Bupati.

Kami yang tak biasa dengan cuaca dingin Bener Meriah, kesulitan jika malam hari, banyak kita yang tidak memiliki jaket, karena memang tak tau akan berada di kondisi ini. Malam hari suasana kabut yang sangat tebal dan angin berhembus, rasanya sampai ke tulang, beberapa malam saya tidur di dalam mobil, kadang di rumah warga dan kadang di markas, bagi lelaki tak masalah sih karena kita bisa dimanapun.

Expedisi Marsose Jalan KKA Aceh Utara


Sore itu, 2 Desember saya keliling di markas karena sangat ramai didatangi masyarakat. Tak sengaja bertemu salah satu sahabat saya yang tepat sebulan lalu kami di Aceh Singkil, melakukan expedisi sungai Singkil bersama, Ponjria.

“ Jeh, kok ada Bang Rahmad disini “ katanya

“ Itulah, kita pun heran kok bisa ada disini dan bertemu lagi. Saya menjawab kalau lagi ada acara dan kita sudah ada disini sejak sebelum bencana itu datang “ kata ku.

Kami pun sepakat untuk memilih pulang dengan jalan kaki bersama rombongan via jalur KKA Aceh Utara. Jarak dari Markas ke Aceh Utara lebih kurang 100 km, karena kami rombongan terakhir jadi bisa lebih singkat, ada 30 km terpotong lebih karena kami naik kendaraan, 20 kilo dari markas ke titik terakhir dan kampung kamp yang lebih dari 20 km dari titik ujung Gunung Salak bisa kami gunakan motor warga. Sebahagian rombongan lain berjalan kaki juga, ada dari Blang Pidie dan Pidie Jaya, Banda Aceh dll. Rombongan terakhir didominasi oleh kaum perempuan dan anak – anak. Mereka memilih jalan Bireun karena jalannya lebih mudah dan tujuannya ke arah Banda Aceh. Kami via Aceh Utara karena ingin pulang ke Singkil lewat jalur Medan.

Tepat 3 Desember, kami pulang meninggalkan Bener Meriah, sebelum pulang kami ke Mapolres Bener Meriah untuk meminta Kabag Ops, Pak Gatot yang sudah terlebih dahulu komunikasi dengan tim Ponjria agar kami bisa menitipkan mobil dan meminta tolong untuk dapat diantar ke titik paling jauh yang bisa dilalui mobil. Alhamdulillah kita cukup jauh naik mobil sehingga dapat memangkas waktu, kita diantar sampai ke simpang 3 Buntul, suasana masih sangat ramai dan terlihat pejalan kaki yang beriringan berjalan. Tak disangka saya juga bertemu Izal, anak muda Rimo yang kini menetap dan membangun usaha di Bener Meriah. Ia menceritakan pengalaman berjalan kaki dari Lhokseumawe ke Bener dengan meminggul beras untuk jaga – jaga jika kehabisan makanan, ditambah ojek yang membantu perjalanan dengan tarif yang tak biasa.

Saat perjalanan ini, kami menyebutnya Expedisi Marsose, rombongan PMI yang terpisah saya sendiri bersama Bang Adek, kita bergabung di tim Ponjria dkk karena kita sudah mengantarkan teman kita dari Subulussalam yang kebetulan hamil, naik hercules bersama suaminya untuk bisa keluar, kebetulan pesawat ini dari skuadron di Riau, mereka pun diterbangkan kesana.

Kita bersembilan waktu itu, Ada Saya, Bang Adek, Ponjria, Muallim, Yuni, Ois, Zaheed, Ranjau, Ambia. Mereka ini sebenarnya berada di Bener Meriah dalam project pembuatan video untuk promosi wisata tanoh Gayo, berhari – hari di gunung dan mereka turun setelah beberapa hari bencana ini, sebenarnya mereka sudah masuk dalam DPO “ Daftar Pencarian Orang “ hilang. Bahkan dalam perjalanan di salah satu desa, ketika diceritakan bahwa mereka lagi di gunung saat bencana itu, oh ini mereka yang kemarin hilang dan dicariin ya, ujar salah seorang warga.

Dalam perjalanan, hanya saya yang paling sedikit membawa bekal, karena seluruh baju dan peralatan saya tinggalkan di dalam mobil di Bener Meriah, saya hanya membawa baju di badan, dan satu tablet dan satu baju plus makanan supermi dan minuman, ini pun saya meminjam tas kecil Ponjria. Selebihnya mereka membawa tas carrier besar yang muatannya kira – kira 25 kg ke atas. Diawal perjalanan, Bang Adek minta mundur dan memilih tinggal saja karena jalannya ekstrem, namun tim membujuk jika tinggal satu maka tinggal semua.

Sebetulnya ada laptop satu, saya titip ke tas Bang Adek. Di salah satu titik paling sulit dan bahaya, karena saya dan bang adek tidak pakai sepatu atau sendal gunung, ia terpeleset tepat di jalan dan jatuh, tepat di depan saya dan jika tidak ditopang tangan terlebih dahulu ini akan berdampak bahaya, karena jalan yang curam dan penuh bebatuan gunung. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dalam perjalanan ini, mulai dari kebersamaan dalam menghadapi bencana, kesetiaan, kemurahan hati masyarakat gayo. Sewaktu kami berjalan, kondisi dalam hujan sehingga tidak begitu lelah, di beberapa desa yang masih didiami warga, diletakkan kursi dan meja kecil di pinggir jalan dengan tulisan, SILAHKAN DIMINUM. Banyak rumah yang hancur, namun mereka masih menyiapkan diri untuk melayani kami yang berjalan.

Sebenarnya dalam perjalanan kita juga membutuhkan uang cash untuk mempercepat waktu, karena di beberapa titik ada ojek honda yang mau membantu mengantarkan kita sesuai tarif yang telah disepakati. Saat kami sampai di Desa Camp, warga patungan membangun satu posko bersama untuk melayani siapapun yang terdampak dari bencana ini, walau dengan kawan nasi seadanya mereka memberikan yang terbaik. Cuaca hujan yang tak berhenti dan lampu yang padam serta kabut yang begitu tebal, membuat kita kesulitan untuk terus berjalan kaki. Kondisi malam itu opsi kita sebenarnya tidak memungkinkan jalan kaki karena hujan deras, namun sulit juga jika kita membuat tenda di Gunung.

Setelah berdiskusi akhirnya kita meminta bantuan abang ojek untuk membawa kita semua. ada yang sendiri dan ada juga yang tarik tiga, kebetulan saya tarik tiga dengan teman, honda yang kita tumpangi lampunya tidak terang dan memang tidak terlihat karena kabut yang begitu tebal.

Ada banyak sekali jalan yang rusak akibat longsor, andai sedikit saja lupa atau salah kemudi sedikit dari abang RBT, kita sudah meluncur ke dalam jurang yang begitu dalam. Karena hampir di setiap simpang ada titik longsor yang memutus dan mengambil separuh badan jalan, lumpur yang licin dan hujan yang membasahi membuat perjalanan ini menguji adrenalin kita. Bahkan di tengah hutan dan gunung, ada yang berjalan kaki, karena kondisi serba sulit, jika tak punya uang opsi kita hanya jalan kaki dan saat itu cuaca sangat tidak mendukung. Di motor yang lain ada yang mengatakan,

“ bang, jangan balap – balap kali anak saya udah tiga bang “ kata Bang Adek

Kita semua jantungan juga karena kondisi malam hari dan kendaraan lumayan balap. Jika pun kita jatuh ke jurang tidak akan ada yang tau pada malam itu karena memang tidak terlihat sedikit pun. Tanpa disangka akhirnya kami pun sampai di Gunung Salak, pos terakhir yang bisa dilalui akses kendaraan roda empat. Dalam hati kita panjatkan Puji Syukur ke Allah SWT yang memberikan kita kekuatan dan jalan untuk terus melangkah dan bisa melewati cobaan ini.

Refleksi Diri

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa dalam bencana, yang pertama runtuh bukan hanya jalan dan bukit, tetapi juga rasa aman yang selama ini kita anggap biasa. Ketika akses terputus, listrik padam, dan kabar dari luar tak lagi sampai, saya belajar betapa rapuhnya manusia tanpa solidaritas. Namun justru di titik paling rapuh itu, kemanusiaan tumbuh paling kuat.

Saya melihat bagaimana masyarakat Gayo yang kehilangan rumah dan harta masih menyediakan air minum di tepi jalan, menyiapkan nasi seadanya, dan membuka pintu bagi orang asing yang berjalan kaki dalam hujan. Mereka tak banyak bertanya siapa kami, dari mana kami datang, atau apa kepentingan kami. Cukup satu hal: kami sama-sama manusia yang sedang berjuang bertahan.

Perjalanan ini juga memaksa saya bercermin. Tentang pilihan untuk bertahan bersama rombongan, tentang keputusan untuk berjalan kaki, tentang menerima keterbatasan tanpa mengeluh. Saya belajar bahwa kepemimpinan bukan soal tiba lebih dulu di tujuan, tetapi soal memastikan tak ada yang ditinggalkan di tengah jalan. Bahwa keberanian sering kali hadir dalam bentuk sederhana: tetap melangkah, meski tak tahu apa yang menunggu di depan.

Di tengah gelap, dingin, dan sunyi pegunungan, saya memahami satu hal penting: hidup tidak selalu menuntut kita menjadi kuat, tetapi menuntut kita untuk terus berbenar—berbenar dalam niat, dalam sikap, dan dalam keberpihakan kepada sesama. Bencana ini akan berlalu, jalan akan dibuka kembali, tetapi pelajaran tentang kemanusiaan, kebersamaan, dan tanggung jawab nurani semoga menetap lebih lama di dalam diri saya.

Perjalanan ini bukan hanya tentang bertahan hidup di tengah bencana, tetapi juga tentang menyaksikan bagaimana negara kerap absen ketika rakyatnya paling membutuhkan kehadiran. Di Tanoh Gayo, yang runtuh bukan sekadar jalan dan bukit, tetapi juga kecepatan respons, kejelasan komando, dan rasa percaya masyarakat terhadap pemerintahnya sendiri. Dalam keterisolasian total, kami tidak sedang menunggu mukjizat—kami hanya menunggu negara bekerja.

Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana warga saling menguatkan, bergotong royong membersihkan jalan, menyediakan air minum, dan berbagi makanan di tengah kelangkaan. Ironisnya, solidaritas warga bergerak jauh lebih cepat daripada sistem negara yang seharusnya hadir pertama. Ketika masyarakat sudah berjalan kaki menembus longsor, negara masih sibuk mencari jaringan, menunggu arahan, dan berputar-putar dalam birokrasi.

Perjalanan ini memaksa saya berpikir ulang tentang makna pembangunan dan kesiapsiagaan. Daerah yang selama ini menjadi lumbung kopi, destinasi wisata, dan penyangga ekonomi gayo ternyata rapuh ketika satu jalur utama putus. Tidak ada rencana cadangan yang bekerja, tidak ada sistem logistik darurat yang siap, dan akses udara yang seharusnya menjadi penyelamat berubah menjadi komoditas mahal yang tak terjangkau rakyat biasa.

Saya juga belajar bahwa keberanian warga untuk tetap bertahan sering kali disalahartikan sebagai ketabahan tanpa batas. Kesabaran masyarakat Gayo bukan alasan untuk membiarkan mereka menunggu terlalu lama. Negara tidak boleh berlindung di balik kesabaran rakyatnya. Dalam bencana, yang dibutuhkan bukan sekadar empati di podium, tetapi keputusan cepat, kehadiran nyata, dan keberpihakan yang jelas.

Perjalanan kaki ini mengajarkan saya satu hal yang pahit namun jujur: ketika negara gagal hadir tepat waktu, rakyat akan menemukan caranya sendiri untuk selamat. Namun keselamatan yang dicapai dengan berjalan kaki, ibu yang menjaga anak dari dinginnya malam, dan doa di tengah jurang bukanlah cerita heroik yang patut dirayakan. Ia adalah tanda bahwa ada sistem yang tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Dan dari perjalanan inilah saya belajar, bahwa berbenar tidak cukup hanya dengan bertahan—berbenar juga berarti berani bersuara, agar bencana yang sama tidak kembali memisahkan negara dari rakyatnya.

Curahan Hati dan Catatan Untuk Perbaikan 

Tulisan ini menggambarkan kondisi tanoh Gayo sampai tanggal 04 Desember 2025. Dan saya melihat ternyata belum banyak perbaikan yang masif untuk mengatasi kesulitan ini. Berbicara banyak daerah yang masih sulit dijangkau, Rembele menjadi kunci jika komando penanganan bencana ini diambil pusat. Seorang bupati tak mampu menggerakkan komando lintas daerah, terlebih ini menyangkut lalu lintas udara.  Tak banyak pasukan organik yang berada di wilayah dua kabupaten ini, selain Mapolres dan beberapa kompi Brimob. Bataliyon yang ada sedang melaksanakan Satgas ke Papua, kondisi pasukan sangat terbatas disana.

Namun yang menjadi masalah saya lihat adalah lemahnya komando penanganan di kepala daerah, ini menjadi catatan Presiden agar semua daerah yang rawan dan memiliki potensi bencana, harus mendapat pembekalan bagaimana memitigasi dan melakukan penanganan cepat jika bencana itu terjadi. Kondisi di lapangan benar - benar lemah dan lambat. Rembela itu kunci, karena jaraknya yang dapat menjangkau dua kabupaten. Namun kondisi hari itu berbeda, negara terlambat hadir dan minim sekali sumber daya yang diturunkan, tak banyak helikopter yang terbang di langit Gayo, hercules masuk di beberapa hari setelah bencana namun dengan kapasitas yang kecil, tak mungkin ini mampu menjangkau masyarakat yang begitu banyak. 

Pengalaman saya saat perjalanan kaki, semua masyarakat mau dan siap menjadi tim yang membawa logistik untuk menyisir daerah yang terisolir, tentu ada banyak metode sih untuk ini, mulai dari air drop, atau logistik di drop ke titik terakhir yang bisa dilalui mobil, kemudian masyarakat atau pasukan saling bergotong royong, karena jaraknya masih sangat terjangkau dan hampir di semua titik longsor yang belum tersentuh ada ruang untuk heli, atau kita drop dari udara saja. Hercules datang silih berganti membawa logistik dalam jumlah besar, lalu heli menjadi garda terdepan dalam menyalurkan logistik di daerah yang sulit akses darat. Namun, kelangkaan BBM kala itu seperti tak menemukan solusi, tak banyak BBM yang masuk, sehingga semua sulit bekerja. 

Masalahnya sekarang, logistik itu tidak banyak di bandara. Harusnya beberapa helikopter standby di Rembele, beberapa heli memang datang namun membawa pejabat, mereka tidak stay. Untuk menjangkau semua daerah di dua kabupaten ini, tidak lebih dari 10 menit bagi heli, karena beberapa hari waktu itu cuaca juga sangat cerah. Saya rasa logistik di Jakarta atau Medan masih sangat cukup untuk membantu dua kabupaten ini, yang tidak begitu hadir adalah kehadiran Jakarta dengan segala keputusan dan kebijakan cepatnya. Pejabat Jakarta datang silih berganti, namun tidak meninggalkan sosok yang memegang komando agar keputusan cepat itu bisa diambil. 

Dalam perjalanan menuju Aceh Utara via jalan KKA, banyak masyarakat membeli bahan pokok seperti beras dan BBM lalu mereka berjalan berpuluh kilo untuk membawa ke Gayo. Miris sekali memang, mereka harus melapisi beras itu dengan plastik karena lumpur yang sangat banyak. Jika pun kita tidak bisa mengirimkan logistik bantuan, mungkin bisa mengajak pedagang di Lhokseumawe atau A. Utara untuk membawa kebutuhan pokok seperti beras, minyak dll ke titik paling dekat dengan jalan KKA, agar warga tidak lagi perlu turun ke kota membeli, mereka cukup di akses paling ujung, tetapi dengan catatan harga yang sama dengan di kota atau naik sedikit. Ini sebenarnya cerita konyol sih, tapi kita bisa memudahkan jarak tempuh dan efisienkan waktu mereka mencari sembako.

Saya yakin jika Pusat mengirimkan dua Bataliyon untuk membantu Bener Meriah dan Takengon, Yon yang berasal dari daerah terdekat di Sumut atau Provinsi lain, apalagi bisa mengirimkan Zeni, kondisi ini akan sangat cepat berubah. Tetapi harus disupport dengan seluruh sumber daya yang ada pada Jakarta. Tadi saya melihat media sosial, semakin ramai warga Gayo yang berjalan dan naik motor mencari bahan pokok di Aceh Utara dan Lhok, kondisi yang seharusnya tidak terjadi setelah lebih dari 3 pekan bencana.  

Catatan untuk Negara

Negara seharusnya belajar dari peristiwa ini. Bencana di Tanoh Gayo bukan semata soal hujan, longsor, atau medan yang sulit, melainkan soal ketiadaan komando nasional yang bekerja cepat dan efektif. Kepala daerah tidak mungkin dipaksa memikul beban lintas wilayah dan lintas sektor sendirian, terlebih ketika akses udara, logistik strategis, dan pengerahan pasukan berada sepenuhnya di tangan pusat. Dalam situasi seperti ini, negara tidak cukup hadir melalui kunjungan pejabat dan konferensi pers, tetapi harus hadir dalam bentuk keputusan cepat, otoritas tunggal, dan distribusi sumber daya yang nyata di lapangan.

Ke depan, wilayah-wilayah rawan bencana seperti Tanoh Gayo harus diperlakukan sebagai zona prioritas mitigasi nasional, bukan sekadar wilayah administratif kabupaten. Negara perlu memastikan adanya skema komando darurat yang otomatis aktif saat bencana besar terjadi: penempatan unsur TNI–Polri dalam jumlah memadai, dukungan zeni dan logistik, penguasaan rantai pasok BBM, serta optimalisasi transportasi udara dengan helikopter yang standby, bukan sekadar singgah. Tanpa itu, setiap rencana mitigasi hanya akan berhenti di atas kertas.

Lebih dari itu, negara mesti menempatkan masyarakat bukan sebagai objek penderita, tetapi sebagai mitra utama penanganan bencana. Warga yang siap berjalan kaki puluhan kilometer, mengangkut logistik dengan segala keterbatasan, adalah modal sosial yang luar biasa. Namun modal ini hanya akan efektif jika negara hadir mengorganisir, memastikan logistik tersedia, jalur distribusi jelas, dan harga kebutuhan pokok tetap terkendali. Membiarkan warga bertahan dengan swadaya setelah berminggu-minggu bencana adalah bentuk kelalaian yang tidak bisa dibenarkan.

Bencana ini seharusnya menjadi alarm keras bagi negara: kehadiran negara tidak boleh bergantung pada cuaca politik atau kalender kunjungan pejabat. Ketika rakyat berjalan kaki membawa beras dari Aceh Utara ke Gayo, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya ketangguhan warga, tetapi wibawa dan kapasitas negara itu sendiri. Jika pelajaran ini kembali diabaikan, maka bencana berikutnya hanya akan mengulang cerita yang sama—dengan korban yang mungkin lebih besar.



  • Share:

You Might Also Like

0 komentar