Catatan Penting untuk Negara ; Bencana Sumatera di Tanah Gayo
![]() |
| Kondisi Masyarakat dari Aceh Tengah dan Bener Meriah ke Aceh Utara via jalan KKA untuk mencari Sembako |
Tulisan ini lanjutan dari tulisan pertama tentang perjalanan saya selama berada di lokasi Bencana di Tanoh Gayo. Pertama, negara perlu membangun arsitektur komando bencana yang tegas dan otomatis. Setiap bencana dengan dampak lintas kabupaten dan akses strategis—seperti Tanoh Gayo—harus langsung berada di bawah kendali komando nasional yang dipimpin satu otoritas dengan kewenangan penuh. Komando ini harus memiliki mandat langsung untuk menggerakkan TNI, Polri, BNPB, Kementerian Perhubungan, Pertamina, Bulog, hingga BUMN logistik tanpa menunggu koordinasi berjenjang yang berlarut. Dalam situasi darurat, keterlambatan satu hari saja berarti memperpanjang penderitaan ribuan warga.
Kedua, Bandara Rembele harus ditetapkan sebagai simpul logistik dan udara darurat nasional saat bencana. Negara tidak boleh menjadikan bandara hanya sebagai titik kedatangan pejabat, tetapi sebagai pusat operasi: gudang logistik, pos BBM udara, dan base heli. Minimal beberapa helikopter harus disiagakan penuh selama masa tanggap darurat, bukan datang-pergi tanpa keberlanjutan operasi. Dengan jarak tempuh yang singkat ke dua kabupaten, optimalisasi udara sebenarnya dapat memutus isolasi wilayah dalam hitungan jam, bukan minggu.
Ketiga, negara harus memiliki protokol jaminan BBM saat bencana. Kelangkaan BBM di tengah operasi penyelamatan adalah kegagalan sistemik. Pemerintah pusat perlu memastikan distribusi BBM khusus untuk operasi kemanusiaan, alat berat, dan transportasi udara sebagai prioritas absolut. Tanpa BBM, helikopter, alat berat, dan kendaraan logistik hanyalah besi tak bernyawa. Ini bukan soal teknis semata, tetapi soal keberpihakan kebijakan.
Keempat, pengerahan pasukan zeni dan batalyon bantuan terdekat harus menjadi prosedur baku, bukan opsi. Wilayah Gayo dengan karakter geografis pegunungan dan longsor membutuhkan kehadiran pasukan zeni untuk membuka akses darat darurat, membangun jembatan sementara, serta menyiapkan titik pendaratan heli. Mengandalkan sumber daya lokal yang terbatas dalam bencana sebesar ini adalah keputusan yang tidak adil bagi daerah.
Kelima, negara perlu membangun skema distribusi logistik berbasis masyarakat. Pengalaman di lapangan menunjukkan warga siap menjadi bagian dari solusi. Negara bisa menetapkan titik-titik drop logistik terakhir yang dapat dijangkau kendaraan, lalu mengorganisir warga dan relawan secara sistematis untuk menjangkau wilayah terisolir. Pola ini jauh lebih cepat dan murah dibanding menunggu akses jalan sepenuhnya pulih, sekaligus memperkuat rasa kehadiran negara di tengah masyarakat.
Keenam, untuk mencegah krisis berkepanjangan, pemerintah pusat harus mengendalikan rantai pasok dan harga kebutuhan pokok di wilayah sekitar Gayo. Kerja sama dengan pedagang di Aceh Utara dan Lhokseumawe untuk membawa sembako ke titik-titik terdekat harus difasilitasi negara, dengan pengawasan harga yang ketat. Membiarkan warga berjalan puluhan kilometer hanya untuk membeli beras dan BBM adalah potret kegagalan perlindungan sosial dalam kondisi darurat.
Ketujuh, bencana ini perlu diakhiri dengan audit nasional penanganan bencana Tanoh Gayo. Audit ini penting bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi untuk membongkar titik-titik lemah sistem: komando, logistik, komunikasi, dan pengambilan keputusan. Hasil audit harus dibuka ke publik sebagai bentuk pertanggungjawaban negara dan pijakan perbaikan ke depan.
Pada akhirnya, bencana di Tanoh Gayo harus dipahami sebagai peringatan keras bagi negara. Ketangguhan masyarakat tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi kehadiran negara. Justru di situlah negara seharusnya hadir paling kuat: ketika rakyat berada dalam kondisi paling lemah. Jika pelajaran ini tidak diambil, maka yang akan datang bukan hanya bencana alam berikutnya, tetapi krisis kepercayaan terhadap negara itu sendiri.
Negara seharusnya belajar dari peristiwa ini. Bencana di Tanoh Gayo bukan semata soal hujan, longsor, atau medan yang sulit, melainkan soal ketiadaan komando nasional yang bekerja cepat dan efektif. Kepala daerah tidak mungkin dipaksa memikul beban lintas wilayah dan lintas sektor sendirian, terlebih ketika akses udara, logistik strategis, dan pengerahan pasukan berada sepenuhnya di tangan pusat. Dalam situasi seperti ini, negara tidak cukup hadir melalui kunjungan pejabat dan konferensi pers, tetapi harus hadir dalam bentuk keputusan cepat, otoritas tunggal, dan distribusi sumber daya yang nyata di lapangan.
Ke depan, wilayah-wilayah rawan bencana seperti Tanoh Gayo harus diperlakukan sebagai zona prioritas mitigasi nasional, bukan sekadar wilayah administratif kabupaten. Negara perlu memastikan adanya skema komando darurat yang otomatis aktif saat bencana besar terjadi: penempatan unsur TNI–Polri dalam jumlah memadai, dukungan zeni dan logistik, penguasaan rantai pasok BBM, serta optimalisasi transportasi udara dengan helikopter yang standby, bukan sekadar singgah. Tanpa itu, setiap rencana mitigasi hanya akan berhenti di atas kertas.
Lebih dari itu, negara mesti menempatkan masyarakat bukan sebagai objek penderita, tetapi sebagai mitra utama penanganan bencana. Warga yang siap berjalan kaki puluhan kilometer, mengangkut logistik dengan segala keterbatasan, adalah modal sosial yang luar biasa. Namun modal ini hanya akan efektif jika negara hadir mengorganisir, memastikan logistik tersedia, jalur distribusi jelas, dan harga kebutuhan pokok tetap terkendali. Membiarkan warga bertahan dengan swadaya setelah berminggu-minggu bencana adalah bentuk kelalaian yang tidak bisa dibenarkan.
Bencana ini seharusnya menjadi alarm keras bagi negara: kehadiran negara tidak boleh bergantung pada cuaca politik atau kalender kunjungan pejabat. Ketika rakyat berjalan kaki membawa beras dari Aceh Utara ke Gayo, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya ketangguhan warga, tetapi wibawa dan kapasitas negara itu sendiri. Jika pelajaran ini kembali diabaikan, maka bencana berikutnya hanya akan mengulang cerita yang sama—dengan korban yang mungkin lebih besar.
Terisolir di Tengah Bencana Tanoh Gayo: Catatan Ketika Alam Memberi Pelajaran
![]() |
| Sesaat sebelum kita memulai perjalanan menuju jalan Bener Meriah - KKA Lhokseumawe dengan jalan kaki |
“Bencana tidak selalu datang dengan peringatan; kadang ia hadir pelan, lewat hujan yang tak kunjung berhenti. Malam itu Kami datang sebagai tamu di sebuah kota, lalu bermalam sebagai orang-orang yang terisolir.”
Senin malam itu, tepat 25 November 2025 setelah menghadiri acara pelantikan pengurus KONI Aceh masa bhakti 2025 – 2029 di Anjong Mon Mata, saya berencana berangkat menuju Takengon, karena cuaca hujan yang tak henti kami menunda keesokan paginya dan merubah plan yang semula naik mobil bersama rombongan lalu naik kendaraan umum Hiece. Tak ada mentari, sinarnya tertutup gumpalan awan yang menurunkan hujan, sepanjang waktu hujan tak henti turun membasahi bumi. Jam 11.00 WIB mobil berangkat menyusuri jalanan yang tak begitu padat, namun tak bisa dengan kecepatan tinggi karena curah hujan yang tinggi menghalangi jarak pandang, tak ada pemandangan yang mengesankan karena tertutup kabut hujan, tepat pukul 20.00 WIB saya tiba di Hotel Renggali, Takengon.
Suasana malam itu tidak seperti biasa, karena sepanjang jalan hujan sehingga cuaca begitu dingin. Renggali hari itu ramai oleh rombongan Palang Merah Aceh yang selama 3 hari kedepan melaksanakan Musyawarah untuk memilih nakhoda baru dan rombongan Motor Gede yang touring dari Jakarta. Karena telat, saya dapat kamar yang jauh dari loby hotel dan membuat saya kesulitan, karena harus membawa koper ditengah guyuran hujan dengan jarak yang lumayan.
🌿 Kuala Baru: Antara Pembangunan dan Keindahan Alam yang Menakjubkan
| Jalan Kuala Baru - Bulusema. |
Cerita Menjadi Ajudan #8 : Mengenal Aceh Singkil Langsung dari Desa
| Kunjungan Kerja Pj Gubernur Aceh ke Kuala Baru |
Ajudan bukan sekadar pendamping, tetapi penjaga kesinambungan antara “apa yang dilihat di lapangan” dan “ apa yang diputuskan di kantor”.
Menjadi ajudan bupati memberi pengalaman berharga, tidak hanya berada di kantor untuk menyiapkan berbagai rapat bersama pimpinan, namun melahirkan banyak kisah perjalanan, pengalaman lapangan, melihat langsung persoalan dan pelajaran hidup yang terus membekas hingga kini menjadi referensi dalam melihat persoalan.
Salah satu anugerah terbesar selama menjadi ajudan adalah berkesempatan berkeliling dan mengunjungi berbagai pelosok daerah. Ini bisa kita rasakan karena dimana dan kemana pun bupati pergi, biasanya kita selalu ikut mendampingi. Ada perbedaan sih ajudan yang ikut saat sang Bupati sudah memenangkan pilkada, dan ajudan yang sudah ikut saat proses pilkada itu berlangsung, apalagi jika terlibat dalam proses pemenangan yang mengharuskan kita banyak berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat. Dan saya berada sejak proses pendaftaran hingga pilkada itu selesai. Jika kita pernah terlibat dalam pilkada, kamu pasti paham dalam sehari ada berapa desa yang kita kunjungi untuk sosialisasi, jadwal yang luar biasa padat untuk kunjungan ke berbagai desa.
Oia, yang berat itu mendampingi mulai dari pilkada hingga terpilih adalah tanggung jawab moral kita karena kita mengikuti setiap tahapan, kita mendengar keluhan dan harapan masyarakat secara langsung, dan setelah terpilih mereka juga menagih janji pembangunan kita. Apalagi saya selain mendampingi sebagai ajudan, juga pemikir dan pengatur berbagai kegiatan agar semua berjalan lancar. Kita sudah belanja masalah saat pilkada, dan ini saatnya membayar janji itu. Kamu bisa bayangkan gimana pusingnya jika kita tidak memiliki menagemen dalam menyelesaikannya.
Untuk Seluruh Kader Demokrat, Jaga Lisan, Jangan Sakiti Rakyat, Perjuangkan Harapan Rakyat
Partai Demokrat sebagai bagian dari
pemerintahan dalam koalisi yang dibangun bersama, mendukung penuh segala upaya
kebijakan yang diambil oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, terkait dinamika
yang luar biasa beberapa hari terakhir ini di berbagai wilayah yang serius dan
perlu mendapatkan atensi penuh dari kita semua, seluruh elemen bangsa. Tujuannya
adalah mencari solusi yang terbaik, meredakan situasi, dan pada akhirnya bisa
kembali beraktivitas seperti sedia kala. Dan yang paling penting, mencegah
terjadinya korban jiwa dan kerusakan di berbagai daerah.
Partai Demokrat juga menyampaikan dukacita, bela sungkawa atas meninggalnya almarhum Affan Kurniawan, dan sejumlah saudara kita di berbagai kota lainnya yang juga sungguh menjadi tragedi. Dan, kita berusaha sekuat tenaga agar insiden tragedi tersebut tidak terulang di waktu-waktu mendatang.
Kumpulan Ide #8 : Pusat Distribusi Regional Aceh Singkil Ala Fauzan Hidayat Part 2
DUKUNGAN PASOKAN-PERMINTAAN untuk PDR ACEH SINGKIL
Pasokan barang atau komoditas ke PDR Aceh Singkil nantinya berasal dari wilayah-wilayah produsen dekitar PDR, maupun wilayah-wilayah dari luar. sebagai contoh, pasokan gula berasal dari Deli Serdang – Sumatera Utara. Begitu pula dari wilayah Nagan Raya, Subulussalam Kepulauan Nias, Simeulue dan Sibolga serta Kepualuan Banyak dapat memasok berbagai hasil produksi seperti minyak sawit, perikanan, kopra yang dapat didukung oleh investasi untuk komditas tersebut. PDR Aceh Singkil berpotensi untuk dimanfaatkan untuk menyimpan/penjualan produksi tersebut dari produsen.
Contoh komoditas strategis yang dapat didistribusikan melalui PDR singkil adalah semen dengan kebutuhan pada tahun 2020 sebesar 1,5 juta ton untuk wilayah Aceh secara keseluruhan. Sementara seperdua dari wilayah Aceh berada di pantai barat selatan yang sentranya berada di wilayah Kabupaten Aceh Singkil. Semen ini berasal dari Padang, Sumatera Barat. Dengan posisinya yang strategis, PDR Singkil berpotensi melayani kebutuhan bahan pokok dan strategis untuk beberapa wilayah seperti Kota Subulussalam, Aceh selatan, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh jaya dan Simeulue. Begitu pula bagi beberapa kabupaten/kota di Provinsi sumatera Utara seperti Pak-pak Barat, Dairi, Tanah Karo, Sibolga, Tapanuli Tengah dan Kepulauan Nias.
Kumpulan Ide #8 : Pusat Distribusi Regional Aceh Singkil Ala Fauzan Hidayat Part 1
“ Letak geografis yang strategis dan dukungan potensi yang ada sebagai wilayah PDR menjawab tuntutan 3 Juta penduduk dalam mengatasi kelangkaan barang, disparitas harga, dan fluktuasi harga komoditas bahan pokok”
Ditulis Oleh
Fauzan Hidayat S.STP. M.A.
Pembangunan Daerah merupakan suatu upaya berkelanjutan yang harus dilakukan secara terus menerus dalam konteks pembangunan nasional dan dalam rangka pemerataan pembangunan nasional. Berbagai upaya harus dilakukan sehingga dapat menciptakan kondisi perekonomian yang lebih baik di suatu kawasan. Banyak aspek yang menjadi penentu keberhasilan suatu pembangunan. Diantaranya adalah kelancaran mobilitas distribusi komoditas yang terintegrasi dengan baik sehingga dapat menurunkan biaya logistik, memperlancar arus barang, dan meningkatkan pelayanan yang secara otomatis juga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global dan pasar domestik.
Mengulik Visi Pemimpin Daerah : Geliat Kearifan Lokal Aceh Singkil
Ahmad Akbar, M.Pd (Koordinator Guru Penggerak Kab. Aceh Singkil)
Aceh Singkil, satu dari 23 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Aceh. Ditinjau dari sisi budaya, Aceh Singkil dapat dinyatakan sebagai salah satu entitas dalam indahnya keberagaman masyarakat di negeri Serambi Mekah ini. Sebagai sebuah entitas, Aceh Singkil merupakan satu kesatuan wilayah yang telah dihuni oleh masyarakat sejak berabad tahun yang lalu dengan ciri khas budayanya sendiri. Budaya yang terbentuk dari hasil kemampuan masyarakatnya beradaptasi dan berinteraksi dengan alam maupun dengan sesama mereka. Menjalani kehidupan mereka turun temurun secara harmoni dalam alam dan budayanya yang dipenuhi dengan nilai-nilai kebajikan. Nilai-nilai yang merupakan aspek utama dari budaya sekaligus intisari dari budaya itu sendiri, dan kita kenal saat ini dengan istilah kearifan lokal.
Pengendalian Aktivitas Siswa di Malam Hari ala Marthunis
![]() |
| Kadis Pendidikan Aceh, Marthunis S.T., DEA. |
Beberapa waktu yang lalu, kita terhenyak dengan temuan razia tengah malam Walikota Banda Aceh bahwa banyak ditemukan aksi kenakalan yang dilakukan oleh remaja usia sekolah di waktu dan tempat yang seharusnya tidak pantas mereka berada. Sebagai keprihatinan serta langkah preventif agar kenakalan remaja seperti judi online, narkoba, khalwat bahkan aksi kekerasan seperti genk motor, dapat dimimalisir, Dinas Pendidikan Aceh mengedarkan surat ajakan kepada orang tua dan sekolah untuk mengontrol kegiatan siswa pada malam hari.
.jpeg)
" PMI mengajarkan kita bahwa tidak ada perbedaan yang terlalu besar untuk diatasi jika kita bersatu untuk tujuan kemanusiaan".
Palang Merah Indonesia, atau yang sering kita sebut PMI adalah satu organisasi kemanusiaan yang terus saya ikuti dan berjalan bersama dalam setiap program kemanusiaan, terutama dalam membantu masyarakat mendapatkan darah. Biasanya kalau ingat PMI pasti terbayang donor darah. Saya mau cerita satu kegiatan kita bersama keluarga besar PMI, bersama ketua terpilih yang baru saja dipilih beberapa hari lalu, Hidayat Riadi Manik. Kita berkunjung ke dua desa yang berada di pinggiran aliran sungai, Rantau Gedang dan Teluk Rumbia.
Dalam beberapa diskusi, sebenarnya niat mengunjungi korban keganasan buaya ini telah lama bersemayam, namun terkendala waktu dan hal lain, dan PMI menjadi rumah untuk mempercepat semua pengabdian itu. Hari Minggu, kita pun berkunjung ke dua desa ini.
Mengenal sosok Baharudin Lopa, Jaksa yang jujur dan
amanah
Baharuddin Lopa, alias Barlop, demikian pendekar hukum
itu biasa dipanggil, lahir di rumah panggung berukuran kurang lebih 9 x 11
meter, di Dusun Pambusuang, Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935. Rumah itu sampai
sekarang masih kelihatan sederhana untuk ukuran keluarga seorang mantan Menteri
Kehakiman dan HAM dan Jaksa Agung. Ibunda pria perokok berat ini bernama
Samarinah. Di rumah yang sama juga lahir seorang bekas menteri, Basri
Hasanuddin. Lopa dan Basri punya hubungan darah sepupu satu.
Dalam usia 25, Baharuddin Lopa, sudah menjadi Bupati
di Majene, Sulawesi Selatan. Ia, ketika itu, gigih menentang Andi Selle,
Komandan Batalyon 710 yang terkenal kaya karena melakukan penyelundupan. Ketika
menjabat Jaksa Tinggi Makassar, ia memburu seorang koruptor kakap, akibatnya ia
masuk kotak, hanya menjadi penasihat menteri. Ia pernah memburu kasus mantan
Presiden Soeharto dengan mendatangi teman-temannya di Kejaksaan Agung, di saat
ia menjabat Sekretaris Jenderal Komnas HAM. Lopa menanyakan kemajuan proses
perkara Pak Harto. Memang akhirnya kasus Pak Harto diajukan ke pengadilan,
meskipun hakim gagal mengadilinya karena kendala kesehatan.
Lopa buat Pejabat Republik
SUNGGUH mulia Tuhan memperlakukan Prof. Dr. Haji Baharuddin Lopa. Ia dipanggil sang Pencipta pada TANGGAL 3 JULI 2001 di Arab saudi, tak berapa lama setelah menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci Mekah. Kepercayaan Islam meyakini, begitu seseorang selesai menjalankan ibadah itu, ia putih bersih dari dosa, sebersih bayi yang baru lahir.
Kontemplasi Menjelang 100 Hari Kabinet Merah Putih, Sebuah Catatan Irman Gusman
Menjelang 100 hari kerja Kabinet Merah-Putih,
ada beberapa hal penting yang saya catat tentang jejak langkah dan
gagasan-gagasan Presiden Prabowo Subianto. Kita beruntung mempunyai seorang
presiden dan kepala negara yang tepat pada masa yang tepat, meskipun tantangan
yang terbentang di dalam dan luar negeri terasa berat.
Tekad Prabowo untuk membersihkan birokrasi dan menjalankan pemerintahan yang
kredibel perlu diapresiasi. Ia tampaknya tulus melakukan perbaikan di berbagai
bidang untuk mengangkat citra dan reputasi negara dan bangsa ini. Tekad yang
kuat, jiwa yang patriotik, serta semangat yang berkobar-kobar itu harus bisa
diterjemahkan secara cepat dan tepat oleh para pembantunya ke dalam
program-program aksi nyata bagi masyarakat yang setiap saat menilai kinerja
presiden.
Hutan, Solusi Atas Banjir dan Sulitnya Air Bersih di Aceh Singkil
![]() |
| Jembatan Kilangan, Singkil |
Hutan adalah solusi dari dua permasalahan terbesar di Aceh Singkil ; Banjir yang melanda banyak kecamatan, dan air bersih yang kian sulit.
Perjalanan ke hutan kali ini sangat penting dalam menyusun langkah menuju tahun 2025 yang tak lama lagi. Pilkada yang baru selesai sebulan lalu, menguras cukup banyak energi dan pikiran, kita butuh kembali ke alam untuk menyusun kembali resolusi menatap tahun baru. Bersama tim Aceh Singkil Expedition yang berjumlah 12 orang, kita mencoba menyusuri hutan tropis di Batu Tiga Sulfa, surga tersembunyi yang jarang dikunjungi. Lokasinya berada di Simpang Kanan dan Danau Paris, tempat yang dulu menjadi permata para pengusaha kayu.
6 Alasan Kenapa Kita Memilih Pasangan Safriadi Oyon dan Hamzah Sulaiman
Pilkada 2024 adalah momen krusial bagi kita, warga Aceh Singkil. Ini bukan sekadar memilih pemimpin, tapi menentukan arah masa depan daerah kita.
Salah pilih, dan kita akan terus terjebak dalam masalah yang tak kunjung selesai. Aceh Singkil kini terancam oleh kepemimpinan yang gagal melanjutkan pembangunan—proyek vital mangkrak, infrastruktur hancur, dan banjir tahunan yang terus menghantui tanpa solusi. Dalam situasi ini, kita butuh pemimpin yang sudah terbukti mampu membawa perubahan. Oyon adalah jawabannya!
Sebagai kaum muda yang peduli dengan masa depan daerah, kami tidak bisa tinggal diam. Kami telah mengamati dengan seksama dinamika politik dan pemerintahan beberapa tahun terakhir ini. Kami tidak sekadar menjadi penonton pasif; kami ikut terlibat dalam diskusi dan analisis mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi Aceh Singkil. Dari pengalaman dan pengamatan kami, kami memiliki keyakinan bahwa kepemimpinan adalah kunci dari semua persoalan yang ada.
| " Saat menanti kunjungan Pj Gubernur Aceh ke Aceh Singkil " |
" Merci
pour tout l'amour que tu me donnes "
Tidak tau kenapa, dalam berapa malam terakhir saya selalu rindu terhadap sosok yang ada dalam foto ini, rindu yang sebenarnya sulit untuk diungkapkan karena memang sangat jarang menulis secara langsung seperti ini saat merindukan seseorang. Bukan tak beralasan, ditengah dahaga jarangnya hadir kepemimpinan yang memberi teladandalam ikhtiar pembangunan, sosok ini memberi harapan baru waktu itu, walau tak lama, namun ia membekas kuat dalam ingatan kita.
![]() |
| Kampung Inggris, Pare, Kediri Jawa Timur |
Penguasaan bahasa menjadi salah satu sebab kemajuan peradaban. Zaman Keemasan Kekhalifahan Islam saat Bani Abbasiyah antarnya disebabkan puluhan bahkan ratusan ahli bahasa menerjemahkan buku atau teks pengetahuan dari peradaban-peradaban maju dunia saat itu seperti Romawi, Yunani dan Farsi sehingga Bagdad, Ibukota Kekhalifahan Abbasiyah, mempunyai perpustakaan terlengkap yang dikenal dengan Baitul Hikmah.
Di dalam dunia
yang serba cepat seperti saat ini, hal yang dijamin untuk gagal adalah tidak
berani mengambil resiko.
-
Mark Zuckerberg
Tahun lalu, lebih dari 13 NGO ” Non Govermental Organization “ yang menjadikan Aceh Singkel sebagai lokasi project, dan Insya Allah dalam waktu dekat akan ada yang hadir membangun kerjasama baru dengan Singkel. Banyaknya hadir NGO ini bukan tanpa sebab, ada keindahan dan sumber daya alam yang begitu indah dan menyokong oksigen dunia yang masih terjaga. Kondisi ini menjadi momentum yang tepat untuk anak muda untuk mempercepat membangun sumber daya manusia agar menjadi motor penggerak terhadap project internasional di masa depan, dan isu lingkungan yang menjadi perhatian dunia dengan pendanaan luar biasa besar.
Contoh Essay Motivasi Menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar
Apa motivasi Anda bergabung menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar?
Saya percaya bahwa pendidikan adalah eskalator pembangunan paling masif dan efektif untuk negeri seluas Indonesia. Alasan utama menjadi Pengajar Muda adalah ingin belajar dan berbagi atas apa yang saya miliki sebagai bentuk rasa terima kasih saya pada semua kebaikan Negeri ini. Kondisi bangsa yang dipenuhi dengan masalah, saatnya saya ingin ikut ambil bagian untuk berkontribusi melunasi janji kemerdekaan mencerdaskan anak bangsa. Dua tahun terakhir saya berkumpul dengan banyak para purna Pengajar Muda dan beberapa kali bertemu pendiri dan inisiator Gerakan Indonesia Mengajar, ada rasa berbeda tentang semangat berbuat untuk perubahan, saya melihat mereka sosok yang inspiratif dan penuh semangat turun tangan pada setiap kondisi negeri ini. Saya ingin menjadi bagian seperti mereka.
Melalui gagasan merajut tenun kebangsaan bersama rakyat Indonesia dimanapun berada nantinya, mengenalkan Indonesia atas segala kekayaannya kepada masyarakat. Disamping itu, saya ingin belajar akan budaya dan pendidikan di penempatan nantinya untuk saya bawa pulang ke Aceh. Saya punya mimpi dan harapan tentang pembangunan daerah saya terutama bidang pendidikan, untuk itu saya harus menjadi pribadi yang tangguh dan solutif atas setiap permasalahan yang ada dan saya percaya bahwa langkah menjadi Pengajar Muda dapat membentuk pribadi saya sedemikian rupa.
Nama Keumala ini ada sejak tahun 2003 lalu, saat kami masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, dan semua kisahnya berawal dari salah satu buku sejarah Aceh yang melekat dalam ingatan tentang semangat seorang pahlawan wanita di zamannya. Hingga akhirnya lahirlah satu impian, jika kelak dianugerahi seorang anak, maka akan ada nama Keumala yang menyertainya.
Kami punya alasan memberikan nama ini, agar kelak aneuk memiliki satu identitas darimana berasal dan bagaimana kelak menjadi aneuk yang memberi pelita dimana pun berada. Hanya mendengar nama mu, orang lain sudah tau kamu berasal darimana neuk. Sebelum memberi nama ini, lama kami konsultasi serta membaca berbagai buku dan referensi sejarah Aceh.
Dahulu neuk, sebelum menikah dengan ibumu, hal yang pertama ayah sampaikan adalah bahwa nama anak kelak adalah Keumala, jika setuju maka akan lanjut lah kisah ini. Namun jika tak setuju, ayah memilih mimpi ini neuk. Bahkan hari pertama pernikahan harapan ini kembali diingatkan. Beberapa sahabat heran dan protes melihat bagaimana mimpi ini dijaga. Insya Allah ada kebaikan dalam mimpi ini.
Karena dulu ayahnya pengen sekolah di Modal Bangsa, dan di Aceh banyak sekolah favorit dengan nama seperti Modal Bangsa, Sukma Bangsa dll. Nanti jika Allah ridhoi langkah ini, akan lahir juga sekolah namanya " Keumala Bangsa ", semua mimpi tentang pendidikan selalu memakai kata bangsa, Keumala Bangsa dan Pustaka Keumala Bangsa dll, ini seperti impian ibu mu nak pengen punya sekolah TK untuk anak - anak di lingkungannya kelak. Walaupun ada sekolah dengan nama yang hampir sama yaitu TK Kemala Bhayangkari.
Doa kami untuk mu, agar selalu menjadi pelipur lelah orang tua, dan menjadi team besar bersama ibu dan ayah untuk mimpi bersama kita neuk. Cahaya kebaikan ini harus terpancar lebih cerah dari senyummu kelak nak. Tetap sehat dan tersenyum Aneuk Meutuah, Tazkiya Geubrina Keumala.














