Kontemplasi Menjelang 100 Hari Kabinet Merah Putih, Sebuah Catatan Irman Gusman
Menjelang 100 hari kerja Kabinet Merah-Putih,
ada beberapa hal penting yang saya catat tentang jejak langkah dan
gagasan-gagasan Presiden Prabowo Subianto. Kita beruntung mempunyai seorang
presiden dan kepala negara yang tepat pada masa yang tepat, meskipun tantangan
yang terbentang di dalam dan luar negeri terasa berat.
Tekad Prabowo untuk membersihkan birokrasi dan menjalankan pemerintahan yang
kredibel perlu diapresiasi. Ia tampaknya tulus melakukan perbaikan di berbagai
bidang untuk mengangkat citra dan reputasi negara dan bangsa ini. Tekad yang
kuat, jiwa yang patriotik, serta semangat yang berkobar-kobar itu harus bisa
diterjemahkan secara cepat dan tepat oleh para pembantunya ke dalam
program-program aksi nyata bagi masyarakat yang setiap saat menilai kinerja
presiden.
Pidato Anies Saat Pelantikan KAHMI ; Memenangkan Masa Depan Indonesia
![]() |
Pidato Anies Baswedan pada Seminar Kebangsaan “ Memenangkan Masa Depan Indonesia” dalam rangka Pelantikan KAHMI di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa 5 Februari 2013 lalu.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Yang saya hormati, senior-senior semua di sini, Bang Akbar, Pak Nazar, Pak Darmansyah, Bang Laode dan seluruhnya. Izinkan saya meneruskan apa yang sudah dimulai Prof Erani tadi.
Kuncinya kalau kita mau memenangkan masa depan adalah kualitas manusia Indonesia, dan saya cenderung menggunakan istilah manusia Indonesia, bukan sumber daya manusia Indonesia, karena kita harus sudah melihat pengembangan manusia Indonesia itu lebih dari sekedar resources or economic activity. Tapi dalam analisa ekonomi saya setuju, bahwa manusia salahsatu komponen dari faktor produksi, misalnya. Tetapi dalam membicarakan manusia, kita harus melampaui sekedar sumber daya manusia.
Staf Khusus Presiden #1: Saatnya Anak Muda Membangun Indonesia
Pesan BJ Habibie, Saat Mengunjungi Kantor Garuda 7 Tahun Lalu
![]() |
| BJ Habibie dengan N250 Gatot Koco |
Jika melihat perjalanan hidup saya sejak letnan sampai bintang dua, jabatan-jabatan saya hampir semuanya berkaitan dengan tugas operasi. Pernah bertugas di staf operasi, pernah menjabat Danton, Danki, Danyon, dan Danbrig. Pernah bertugas di daerah operasi Timor-Timur, 5 tahun dan di Bosnia. Lama bertugas di jajaran Brigif Lintas Udara. Mestinya penugasan saya selanjutnya berhubungan dengan tugas-tugas sebelumnya. Tetapi penempatan jabatan selanjutnya, ibaratnya tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan saya dijadikan Asisten Staf Politik (Assopol) ABRI.
Sebetulnya dalam hati saya mempertanyakan, mengapa sebagai Assospol ABRI. Saya tidak pernah bertugas aktif di teritorial, di dunia politik dan sejenisnya. Tapi lagi-lagi, saya bismillah ikhlas dan rida menjalani tugas menjadi Assopol ABRI. Pada saaat saya menjadi Assopol ABRI atau Pangkostrad waktu itu. Sesuai dengan latar belakang perjalanan karier saya, saya sempat disebut-sebut menjadi jabatan Kasum ABRI. Kasum ABRI, Letjen TNI Tarub katanya meminta saya – yang disebutnya mantan Pangdam II/Swj, Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono – mengganti beliau dengan jabatan tersebut. Sementara yang disiaokan menjadi Pangkostrad adalah Prabowo Subianto. Tentu, saya menyatakan siap saja. Akhrinya, Prabowo Subianto memang menjadi Pangkostrad, dan saya memandang memang jabatan tersebut untuk Prabowo Subianto. Tetapi untuk saya, tiba-tiba ada perubahan, saya bukan menjadi Kasum, tetapi menjadi Kassospol ABRI.
Edisi Tokoh : Kisah Panjang Dibalik Perjalanan Karir SBY #2
Tahun berikutnya dibuka kesempatan ujian masuk Sesko lagi, tetapi karena saya belum lama menjadi Danyon di daerah operasi tidak boleh ikut ujian. Jadi, tahun kedua saya tidak masuk dan tahun ketiga pun tidak masuk karena tahun ketiga tidak dibuka tes ujian masuk Seskoad. Akhirnya, saya baru berkesempatan masuk Seskoad pada tahun keempat dari angkatan saya. Tetapi tidak apa-apa, karena saya yakin tidak berarti kalau masuk Seskonya belakangan lantas kariernya ketinggalan atau jelek. Saya yakinkan hati saya dengan pikiran ini. Saya mengikuti ujian masuk Seskoad di Timor-Timur, dan Alhamdulilllah akhirnya saya bisa mengikuti seleksi dan lulus untuk mengikuti pendidikan Seskoad.
![]() |
| Jalan Perbatasan Kalimantan / Dokumentasi Kementerian PUPR |
Menyatukan Asa Dalam Forum Kemajuan Pendidikan Daerah 2018
| Malam Apresiasi FKPD 2018 di Ancol |
setelah saya buka kembali buku catatan FKPD 2018, forum ini memiliki tujuan antara lain, merefleksikan perjalanan dan dampak gerakan pendidikan daerah, memanen pembelajaran prinsip dasar gerakan pendidikan daerah, menjadi ruang apresiasi dan inspirasi antara Indonesia Mengajar, Penggerak dan Pegiat, serta mendorong inisiatif - inisiatif baru gerakan pendidikan di Indonesia
Saya punya satu kebiasaan yang susah hilang sampai saat ini. Saya selalu meninggalkan sepotong hati saya untuk setiap tempat yang pernah saya diami, selalu menuliskan setiap kenangan pada sudut kota, terlebih tempat - tempat yang punya nilai dalam perjalanan hidup saya. Tempat itu memiliki energi tersimpan yang ketika dikunjungi akan menumbuhkan kembali semangat lama.
![]() |
| Anies Baswedan |
Belum lama ini Majalah terkemuka Amerika Serikat, Foreign Policy (FP) merilis Top World 100 Public Intellectuals (100 Tokoh Intelektual Publik Dunia). Satu diantaranya adalah anak bangsa Indonesia, Anies Baswedan (39), Rektor Universitas Paramadina Jakarta. Ini mengagumkan, karena Anies berada sejajar dengan banyak tokoh terkemuka di dunia, seperti Fetullah Gulen, Yusuf Al Qardawi, Habermas, Thomas Friedman, Samuel Hantington, Francis Fukuyama, Muhammad Yunus, Salman Rusdhie, Orhan Pamuk, Aitzaz Ahsan, Noam Chomsky, Al Gore, Paus Paulus (Pope Benedictus XVI), dan sebagainya. Hasil voting yang melibatkan 500 ribu responden di seluruh dunia, menempatkan Anies pada posisi ke-60. Sementara itu, di dalam negeri, Majalah MADINA mencatat nama Anies sebagai satu dari 25 tokoh Islam damai di Indonesia. Sungguh, sebuah prestasi yang mengagumkan.
Anies dihargai dunia bukan hanya karena intelektualnya yang cemerlang, tetapi juga karena keterlibatannya dalam berbagai kegiatan yang mendorong demokratisasi di Indonesia. Sejak mahasiswa, Anies terlibat dalam gemuruh perubahan. Sebagai anak muda, ia memendam kegelisahan, derap langkahnya adalah perubahan. Tatkala menjadi Ketua Senat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), ia menjadi satu dari sekian aktivis yang berhadapan langsung dengan barisan serdadu pembela Soeharto, jauh sebelum sang diktator lengser pada 1998.
Tulisan ini menjadi sangat menarik karena saat itu saya berada dalam kondisi kegundahan hati, dan cerita ini memberikan semangat untuk kuat dan selalu totalitas dalam setiap pengabdian. Banyak yang tidak tau kesulitan dan perjalanan karir SBY saat masih aktif di TNI. Berikut potongan kisah yang sengaja tidak saya edit, karena merupakan penyampaian langsung oleh pak SBY dengan segala ciri khas kesantunan bahasanya.








