Sore itu sebelum lari sore saya membuka email untuk mengecek informasi tentang hasil Direct Assesment, email itu pun serasa menghempaskan satu pengharapan. Bagi saya ini merupakan salah satu kesedihan yang sangat dalam di tahun 2016 silam.
Friends Coffee, Salah satu tempat langganan untuk menulis
Mad, lagi sibuk apa sekarang ?
Pertanyaan ini selalu datang kala bertemu
dengan teman - teman yang lama tak berjumpa. Mereka pasti mikir kalau saya
pasti lagi mengerjakan satu project . Saya sadar sih, belakangan ini jarang
banget sudah menulis blog atau ngak serajin dulu untuk meng-update instagram
stories saya. Ada banyak alasan sih kenapa saya sejak tahun 2017 sudah jarang
menulis di Instagram.
Kunjungan ke Kuala Baru
Dua tahun yang lalu saya menjalani hari – hari yang sangat melelahkan
sekaligus menyenangkan bagi saya. Saya terjun langsung dalam kontestasi politik
/ pemilukada di Kabupaten Aceh Singkil. Kita pasti dapat membayangkan berada dalam
satu arena pertarungan politik di zaman yang serba digital seperti sekarang
ini. Lelah banget sih, tapi saya merasa bahagia karena dapat menerapkan ilmu
yang kita pelajari selama ini di kampus.
Sebelum
menuliskan tentang Turun Tangan Rimo, kita akan bercerita sedikit tentang apa
sih gerakan Turun Tangan itu. Turun Tangan adalah gerakan yang diinisiasi oleh Anies
Baswedan pada Juli 2013. Gerakan ini didasari keyakinan bahwa setiap orang
dapat ikut terlibat untuk melunasi janji kemerdekaan Republik ini. Mendorong
keterlibatan orang untuk menyelesaikan masalah yang ada di lingkungannya, “ Think
Big, Start Small, Act Now”.
Sejatinya saat
Anies Baswedan menginisiasi Turun Tangan, gerakan ini diharapkan lebih besar
dari Gerakan Indonesia Mengajar karena tidak hanya terlibat dalam satu bidang
permasalahan saja. Turun tangan ada di berbagai kota besar seperti Banda Aceh,
Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Malang dll, hampir tersebar di
seluruh kota – kota besar. Kita mengharapkan kehadiran Turun Tangan Rimo ini
nantinya dapat menjadi platform crowdsourcing dimana setiap orang, dimana saja
dan kapan saja bisa menyumbangkan ide, tenaga, waktu, uang untuk sama – sama
bergerak melunasi janji kemerdekaan. Diharapkan nantinya mereka yang menjadi alumni ataupun lahir
dari Turun Tangan adalah pemimpin – pemimpin masa depan yang memiliki wawasan
kelas dunia, pemahaman akar rumput dan sudah malang melintang di permasalahan
masyarakat.
Kabupaten
Singkil resmi memekarkan diri dari Kabupaten Aceh Selatan pada 1999. Sejak
itulah daerah terletak di paling selatan Provinsi Aceh atau di pesisir pantai
barat Pulau Sumatera ini mencoba mandiri, termasuk dari industri pariwisata. Singkil
berbatasan dengan Kabupaten Aceh Selatan, Kota Subulussalam, dan Sumatera
Utara. Sebagian besar wilayah Singkil merupakan dataran yang umumnya berada di
sisi selatan. Daerah perbukitan mewarnai bagian utara dengan ketinggian
rata-rata 53 meter di atas permukaan laut. Sementara daerah kepulauan berada di
Kepulauan Banyak. Iklimnya tropis. Cuacanya dipengaruhi oleh angin musiman yang
biasanya bertiup dari barat laut atau barat daya.
Masyarakatnya heteregon, hasil akulturasi dari suku Aceh, Sumatera Barat
(Minang), dan Sumatera Utara (Nias). Percampuran budaya ini dapat ditemui dalam
kesenian dan kebudayaan. Paling mudahnya, amatilah saat mereka bertutur. Akan
terlihat Bahasa Aceh, Bahasa Aneuk Jamee (Minang), dan Bahasa Pak-pak (Sumatera
Utara), dengan langgam yang khas. Namun ada satu bahasa khas di Pulau Tuangku,
yaitu Bahasa Haloban di Desa Haloban.
Desa
Haloban di Pulau Tuangku diyakini sebagai tempat pertumbuhan penduduk pertama
di Pulau Banyak. Pulau Banyak saat masih satu kecamatan dulunya berpusat di
Haloban. Masyarakat yang pertama kali menduduki Pulau Tuangku (dulunya bernama
Pulau Tulale) tak terlepas dari hasil kerjasama Raja dari Sumatera Barat dengan
Kerajaan Aceh. Sultan Malingkar Alam asal Padang saat itu menjadi raja yang
memimpin perkembangan Pulau Banyak. Dari Haloban lahir bahasa khas yang namanya
sama dengan nama desa. Haloban kemudian menjadi ibu kota Kecamatan Pulau Banyak
Barat, saat Pulau Balai dijadikan sebagai pusat Kecamatan Pulau Banyak.
Kabupaten Singkil ibarat bongkahan mutiara di
ujung selatan Aceh yang perlu diasah sehingga menghasilkan beragam bentuk
perhiasan. Daerah ini memiliki sejumlah sumber kekayaan alam baik di daratan
maupun kepulauan yang akan memukau setiap orang yang melihatnya secara
langsung.
Di daratan ada Rawa Singkil dengan
keanekaragaman hayati yang terjaga. Sejumlah flora dan fauna langka dapat
dijumpai seperti orangutan sumatera, harimau sumatera, badak sumatera, beruang
madu, monyet ekor panjang, wak-wak, kura-kura, dan puluhan spesies burung
seperti beo, perling, cucak, kutilang, bangau tongtong dan buaya yang
menampakkan diri saat kita menelusuri hutan Rawa Singkil yang mungkin sama
seperti di Hutan Amazon.
Kepulauan Banyak adalah anugerah tersendiri
bagi Kabupaten Singkil. Keindahan alam bahari yang luar biasa dapat disaksikan
di sejumlah gugusan pulau di Kepulauan Banyak, yang menyimpan sejumlah titik
atraksi wisata yang cukup populer saat ini, seperti untuk aktivitas island
hopping, senorkeling, diving, surfing, dan kayaking.
Segala potensi pariwisata di Kabupaten
Singkil tersebut dirasa masih membutuhkan perhatian lebih terutama dari
Pemerintah Pusat sehingga membuatnya benar-benar menjadi perhiasan yang siap
dipasarkan. Kami ingin jadikan sektor pariwisata sebagai core economy-nya Kabupaten
Singkil, sebagaimana semangat membangun industri pariwisata Indonesia saat ini
di bawah komando Presiden Jokowi. Selain sektor pariwisata, Kabupaten Singkil
juga memiliki potensi di bidang perikanan, perkebunan, dan pertanian. Karena
itu pemerintahan Singkil sangat terbuka untuk pihak-pihak yang ingin membangun
dan berinvestasi untuk mengembangkan sektor-sektor industri di Singkil menjadi
lebih baik. Kami berharap profil pariwisata Singkil ini dapat menjadi referensi
yang tepat bagi Anda.
" Saat
kita kelelahan menghadapi berbagai kemanjaan anak anak yang mengharuskan kita
sabar. Hadirkanlah gambaran bahwa bahwa satu diantara mereka kelak akan menarik
tangan mu ke syurga ". - Si Anak Rimo
Lakukanlah segala yang kamu
kerjakan dengan penuh cinta atau jangan lakukan sama sekali. Sampai saat ini
aku selalu saja lebih suka memilih satu atau dua rumah tempat aku berteduh,
lalu berkerja dan memberikan semaksimal mungkin atas yang kita miliki. Bagiku
dunia pendidikan adalah energi tak terbatas dan menjadi suatu kehormatan
menjadi bagian dari ikhtiar pendidikan, dan aku harus mencari energi itu dalam
setiap momentum yang ada.
Aku mau ceritain tentang kegiatan yang diinisiasi oleh teman - teman Pengajar Muda dari Indonesia yang bersafari ke sekolah - sekolah tempat penempatan Indonesia Mengajar di Aceh Singkil. Ada satu cerita yang sepertinya Allah selalu memberikan waktu yang luang untuk selalu bisa berkegiatan dengan pengajar muda. Ceritanya bermula saat hendak berangkat ke kantor dan aku menumpang dengan Bang Fajar, beliau berkerja di Dinas Pendidikan. Padahal biasanya saya jarang banget menumpang dengan Bang Fajar, tapi hari itu ndak tau kenapa bisa pergi ke kantor bareng. Tiba - tiba Bang Fajar bersama dengan salah satu Kasi, Bang Sugianto bilang harus singgah dulu di penginapan Hotel Keluarga karena ada tamu dari Indonesia Mengajar yang akan berkunjung ke Dinas Pendidikan.
Hai, nama saya Rahmat Hidayat Munandar, lahir dan tumbuh besar di Rimo, sebuah desa kecil di Kabupaten Aceh Singkil. Saya suka membaca dan Travelling, namun sedang belajar untuk suka dan mencintai menulis. Dari waktu ke waktu terus belajar membaca dan mendengarkan. Memahami setiap kejadian yang ku alami saat melakukan perjalanan untuk dijadikan pelajaran dan mencoba untuk menuliskannya.