Enam
tahun yang lalu, ada seorang anak desa yang hendak merantau ke Jawa untuk
kuliah dan ia telah menyiapkan semua keperluan lengkap dengan tiket penerbangan
dan kos. Kala itu teman teman di tempat yang berbeda sudah menanti, namun tepat
beberapa jam sebelum keberangkatan menuju bandara, orang tuanya melarang dengan
alasan perasaan yang tidak tenang dan takut terjadi apa apa. Setelah diskusi
panjang dan panas, tiket pun dibatalkan dan semua isi koper harus dikeluarkan
kembali. Tak terbayang betapa tak tenangnya pemuda itu ketika harus mengabari
temannya bahwa ia tak jadi berangkat. Sungguh butuh waktu satu tahun untuk
menghilangkan kekecewaan itu.
Aku
bersyukur tahun ini diberi izin untuk merasakan lebaran di kampung orang.
Berkali - kali ditanya apa tidak pulang saja, mencoba memancing agar aku mau
pulang, namun jauh jauh hari aku sudah bilang akan lebaran disini. Semula
hendak Lebaran di Lombok, namun karena persiapan yg tidak matang maka aku tunda
dan pindah ke Solo dan Sragen saja. Oh Ayah dan Ibu, selalu saja rela menahan
rindunya agar anaknya bisa tumbuh dan belajar.
Tinggal
di sebuah desa di kaki bukit tepian sungai bengawan
solo yang sulit sekali sinyal dan masyarakat yang full berbahasa jawa. Sesaat
sebelum shalat Ied aku menangis sejenak, mencoba mengingat isi ceramah tahun
lalu di kampung halaman, aku rindu Ibu. Disini tak ada lontong, THR, ketupat
bahkan daging pun tak aku rasakan, aku bahkan tak mengenal seorang pun di
mesjid ibukota itu selain pakde dan bukde. Namun aku begitu menikmati hari -
hari selama disana, bersama pakde bukde kita menyusuri satu persatu kabupaten
di Jawa Tengah, melihat dan merasakan langsung macetnya arus mudik, melihat
budaya, tapi salahnya aku masih saja malu mengambil gambar setiap perjalanan.
Tahun
ini aku banyak belajar, betapa sulit meminta maaf kepada orang tua lewat telpon
dan sinyal pas-pasan, menyesuaikan makanan, bahkan budaya lebaran yang jauh
berbeda dengan Aceh. Tradisi salaman disini dilaksanakan dua hari setelah
Lebaran, hari Jumat semua kumpul dirumah Mbah dan barulah kita mulai
bersalaman. Jangan tanya berapa kali aku blunder saat perjalanan, banyak sekali
namun Aku nikmati saja semuanya.
Aku
bersyukur Allah selalu pertemukan aku dengan orang orang baik, disini aku
melihat langsung kebahagiaan masyarakat walaupun hidup serba pas-pasan, melihat
bagaimana daerah lain membangun tanahnya, mendengar cerita mereka betapa susah
mencari uang dan mahalnya biaya pendidikan, belajar menyesuaikan pakaian agar
tak mencolok disana dll. Aku beruntung lebaran ini mendapat banyak sekali
keluarga baru, cerita & pengalaman baru yang membuatku terus ingin
menyusuri setiap inci negeri ini, tenun tenun kebangsaan yang terus tumbuh dan
terjaga. Ransel ini pun menjadi teman dan saksi betapa negeri ini sungguh indah
& kaya. Mbah, Bukde, Paklek dan semuanya serasa berat ketika aku meminta
izin untuk kembali, Mbah pun terlihat menangis kecil saat kami meninggalkan
desa. Hanya cinta yang tak mau aku cari lagi, aku biarkan saja ia tinggal di
Aceh sana, agar aku selalu rindu untuk pulang.
Sragen, 10 Juli 2016.
Sragen, 10 Juli 2016.
![]() |
| Pengajar Muda Bersama Bupati Aceh Singkil |
Tahun 2017 ini Pemerintah
Kabupaten Aceh Singkil melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah berkerja
sama dengan Yayasan Indonesia Mengajar untuk mengirimkan pengajar muda di berbagai daerah penempatan selama 5
tahun. Tahun ini ada 8 pengajar muda yang bertugas di Aceh Singkil, antara lain
di Ujung Sialit, Haloban, Lae Balno, Kuala Baru, Lentong, Bulu Ara, Mukti
Lincir, Lae Bangun.
Para pengajar ini lulusan
berbagai kampus, antara lain psikologi dan sastra Universitas Indonesia,
Hubungan Internasional Airlangga, Pertanian UGM, Marketing Binus, Ekonomi, IPB,
dll. Aceh Singkil tidak hanya menjadi tempat mengabdi, melainkan juga sebagai
rumah untuk belajar sekolah kepemimpinan langsung di tengah - tengah
keberagaman budaya dan penduduk masyarakat kita.
![]() |
| Meilisa Wahyuni |
Sebagai seorang kakak, tentu
selalu ada waktu untuk memikirkan bagaimana perjalanan pendidikan adik -
adiknya kelak. Tepat hari pendidikan kemarin, ditengah kesibukan tugas yang
hampir tak mungkin ditinggalkan walau sebentar, saya pergi ke Jampotape untuk
membeli somay langganan sejak kuliah dahulu.
Ada satu cerita yang masih sangat membekas saat perkuliahan dulu. Seorang Abang yang juga berkerja sebagai seorang Manager BUMN bercerita bahwa untuk merekrut seseorang dalam sebuah perusahaan tidaklah hanya dilihat dari kecakapan dan kemampuan saja. Namun, media sosial juga menjadi salah satu pertimbangan dalam melihat kepribadian seseorang sebelum dia masuk dunia kerja.




