Tadi saat aku mengerjakan soal – soal untuk
mengikuti Test Toefl bulan depan, rasanya sulit sekali menjawab semua
pertanyaan, tak terpikir lagi oleh ku bagaimana menjawab cerita yang aku tak
sepenuhnya tau artinya. Sebagai mahasiswa politik yang terlambat belajar bahasa
inggris, aku menyadari sepenuhnya bahwa proses ini tidak mudah. Tiba – tiba terpikir
oleh ku andai nanti nilai ku tidak mencapai target, aku terbayang sosok ayah
yang selalu bertanya kapan tes ? Sudah siap untuk Real Test ?. Saat mamak
menelpon pun ia tak pernah lupa bertanya bagaimana les ku, sambilan bertanya
kapan aku mau melanjutkan kuliah lagi. Terkadang ada rasa beban yang bertumpuk
dan belum juga dapat ku urai satu persatu. Tapi aku telah mempersiapkan jika
nanti nilai ku belum mencapai target.
Tadi siang handphone ku terus bergetar, ternyata ada diskusi hangat membahas sebuah
tulisan dari seorang aktivis lingkungan tentang persepsinya akan Gerakan
Indonesia Mengajar. Di malam yang dingin
ini izinkan saya menuliskan rasa terima kasih saya atas tumbuh kembangnya
sebuah gerakan yang hadir untuk melunasi janji kemerdekaan negerinya, tulisan
ini bukan untuk menanggapi tulisan tadi siang yang hangat kita diskusikan di grup,
saya menuliskan ini hanya untuk mengisi malam yang sunyi di pinggiran kota di
tepi sungai Brantas. Udara dan angin yang berhembuh membuat jari – jari ini
terus menari diatas sebuah laptop tua.
Indonesia Mengajar, sebuah gerakan yang di inisiasi oleh Mas Anies
Baswedan di pertengahan tahun 2009, izinkan saya meriview sedikit tentang
lahirnya ikhtiar kolektif untuk melunasi janji kemerdekaan ini.
“ Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia
akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja
untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer
― Pramoedya Ananta Toer
Saya mulai ngeblog itu tahun 2012, usia yang
masih terbilang muda untuk aktif di dunia blog.
Awalnya sih sederhana, waktu itu saya melihat sahabat menulis di
blognya, mulailah rasa ketertarikan tentang blog tumbuh. Beberapa hari kemudian
untuk mengobati rasa penasaran saya memintanya untuk membuatkan sebuah blog
sebagai tempat menulis dan bercerita. Resmilah saya memiliki sebuah blog
bernama " Rahmad Hidayat Munandar ", kebiasan menulis pun terus
tumbuh dan alhamdulillah saya bisa memposting beberapa tulisan. Karena baru
memulai dan masih semangat empat lima aku sering menghabiskan waktu untuk
mempreteli blog baru, sesekali ketika ada kesalahan yang tak dapat ku
selesaikan aku pun bertanya kepada sahabat yang membuatkan blog dahulu, dari Muhari
saya banyak belajar tentang blog dan dunia internet lainnya.
“
Kita harus merencakan mimpi terlebih dahulu sebelum mimpi itu jadi kenyataan "
-
Si
Anak Rimo -
Masih tergambar jelas
dalam ingatan bagaimana saya dahulu memulai mimpi – mimpi untuk menjadi
mahasiswa. Sebuah perjalanan yang tak mudah karena membutuhkan usaha dan kesungguhan
tekad dari sang pemimpi. Waktu itu ditahun 2010, saya sudah menuliskan sebuah nama
kampus, kampus yang akan menjadi tempat menuntut ilmu dan tumbuh berkembang
bersamanya. Sebelum mengikuti ujian masuk bersama atau yang biasa disingkat
dengan “ UMB “, ada sebuah jalur lagi untuk masuk ke perguruan tinggi tanpa tes
yaitu jalur “ Undangan “. Setiap kampus akan memberikan undangan kepada sekolah
– sekolah untuk mengirimkan siswa – siswi terbaiknya untuk mengirimkan berkas
berdasarkan pada nilai – nilai raport. Biasanya mereka yang mendapat undangan
adalah siswa – siswi berprestasi mulai dari peringat satu sampai sepuluh, namun
biasanya sanak – saudara guru juga tak akan ketinggalan. Begitulah dulu ketika
kami hendak masuk ke universitas, banyak tahapan dan jalur yang dapat ditempuh.
Namun tak mudah menembus semua tahapan itu.
Suatu waktu seorang teman bertanya
perihal tentang cinta dan pernikahan, ia mulai melempar pertanyaan siapa pacar
ku dan kapan aku akan menikah ? “ Calon nya belum ada dan mohon doa
agar segera bisa menyusul “ jawab ku.
Seperti seorang sales pun dia mulai menyebutkan satu persatu teman wanita kita saat sekolah dulu, saya pun hanya tersenyum. Hampir setiap bertemu dia selalu saja pertanyaan itu muncul, namun saya selalu santai dan tersenyum menjawab semua pertanyaannya. Satu hal yang selalu ia sampaikan ketika hendak berpisah, “ Waang jangan lamo – lamo menikah, jangan sampai alah tuo baru menikah dan anak ambo alah gadang beko, bia bisa waang mengendong cucu kok panjang umu beko. Tapi kok waang telat nikah, beko anak mantang ketek waang alah tuo da “ Ujarnya.
Seperti seorang sales pun dia mulai menyebutkan satu persatu teman wanita kita saat sekolah dulu, saya pun hanya tersenyum. Hampir setiap bertemu dia selalu saja pertanyaan itu muncul, namun saya selalu santai dan tersenyum menjawab semua pertanyaannya. Satu hal yang selalu ia sampaikan ketika hendak berpisah, “ Waang jangan lamo – lamo menikah, jangan sampai alah tuo baru menikah dan anak ambo alah gadang beko, bia bisa waang mengendong cucu kok panjang umu beko. Tapi kok waang telat nikah, beko anak mantang ketek waang alah tuo da “ Ujarnya.
Mulailah saya teringat akan pertanyaan
dan pesan terakhirnya itu.
