Kapan Nikah ?

By Si Anak Rimo - July 01, 2016


Suatu waktu seorang teman bertanya perihal tentang cinta dan pernikahan, ia mulai melempar pertanyaan siapa pacar ku dan kapan aku akan menikah ? “ Calon nya belum ada dan mohon doa agar segera bisa menyusul “ jawab ku.
 

Seperti seorang sales pun dia mulai menyebutkan satu persatu teman wanita kita saat sekolah dulu, saya pun hanya tersenyum. Hampir setiap bertemu dia selalu saja pertanyaan itu muncul, namun saya selalu santai dan tersenyum menjawab semua pertanyaannya. Satu hal yang selalu ia sampaikan ketika hendak berpisah, “ Waang jangan lamo – lamo menikah, jangan sampai alah tuo baru menikah dan anak ambo alah gadang beko, bia bisa waang mengendong cucu kok panjang umu beko. Tapi kok waang telat nikah, beko anak mantang ketek waang alah tuo da “ Ujarnya.

Mulailah saya teringat akan pertanyaan dan pesan terakhirnya itu.

 

Pesan yang ia sampaikan benar adanya, namun pernikahan bukanlah hal kecil, ia butuh persiapan yang tak sedikit mulai dari kesiapan iman dan mental. Saya masih lebih memilih untuk melanjutkan kuliah saja dulu ketimbang harus menikah, toh aku juga tidak punya pacar atau menjalin hubungan kepada siapapun. Masih terlalu banyak yang harus saya pikirkan dan ingin lakukan. saya ingin melaksanakannya saat masih sendiri, karena setelah menikah semua itu, bila kita tidak mampu mengelola dan mengkomunikasikannya dengan baik justru bisa menjadi pemicu masalah. Padahal sebenarnya itu bukan masalah. Hanya karena ego kita belum habis, kita merasa pasangan kita tidak mendukung bila pendapat kita berseberangan.

Kemarin pagi ia kirimkan pesan lewat BBM, terlihat pemberitahuan ia mengirimkan tiga gambar dan saya tidak membukanya segera. Saya berpikir bahwa ini gambar temannya yang mungkin coba ia beritahukan, setelah mencuci muka akhirnya saya pun membuka. Ayah saya sedang mengendong anaknya sambil meniupkan balon sabun, aku tersenyum dan lega melihat ayah sehat walafiat. Saya pun membalas pesan itu sambil melempar lelucon kecil ciri khas kita sewaktu sekolah dulu.

Sesaat kemudian ia pun menelpon, saya pun mengangkat dan kita berdiskusi panjang lebar membahas maksud gambar yang ia kirimkan. Aku selalu saja tertawa setiap ia bertanya, kadang ia mulai lelah bertanya karena aku terlalu dingin menjawab. Begitulah sahabat, walaupun terkadang aneh tapi selalu menentramkan. Saya selalu bersyukur memiliki banyak sahabat, orang – orang baik yang Allah kirimkan untuk memberi warna pada kehidupan kita. 

Sambil melanjutkan kuliah, saya akan terus berusaha untuk memperbaiki kualitas iman, akhlak dan kesiapan lainnya, karena seorang pria akan menjadi pemimpin di rumah tangganya dan menjadi cermin bagi anak dan istri. Saya yakin suatu saat nanti akan ada orang yang benar – benar hadir dan bersedia mendampingi mengarungi hidup ini, biarlah ia berkelana mengejar mimpinya dan saya mengejar mimpi yang belum tercapai. Saya percaya Allah sudah punya rencana yang indah untuk setiap hambaNya. 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar