Pagi itu di dermaga desa Meulingge,
seorang pemuda bernama Farid berangkat meninggalkan kampung halamannya.
Ditepian dermaga kedua orang tua dan satu orang adik nya melepas kepergiannya
dengan air mata. Di dalam boat ia bertemu dengan seorang dosen Unsyiah yang
baru selesai melakukan penelitian di Pulau Aceh. Melihat tas carrier besar Farid
dosen itu pun bertanya hendak kemana kepada Farid, Farid pun mengatakan bahwa
ia ingin merantau ke Semarang. Alasannya memilih Semarang karena ia memiliki
seorang teman disana, berbekal semangat dan selembar ijazah ia pun membulatkan
tekadnya untuk merantau. Sesampainya di pelabuhan Lampulo Banda Aceh, terlihat
wanita berkerudung cokelat menantinya untuk mengantarnya ke bandara. Wanita itu
adalah Nabila, adiknya yang kini kuliah di UIN Jurusan Bahasa Inggris. Mereka
bersantai sambil menikmati rujak di salah satu warung dekat Bandara
Iskandar Muda, karena penerbangan masih beberapa jam lagi, kakak beradik ini
pun melepas rindu dengan diskusi tentang kuliah adiknya. Beberapa saat setelah
itu, ia pamit sambil mencium kening adiknya di bandara. Farid pun terbang
meninggalkan kota tempat ia tumbuh besar dan menuntut ilmu selama ini. Sesampai
di Semarang ia disambut oleh Reza, teman lamanya sewaktu sekolah SMA dulu
di Banda Aceh, dengan motor tua yang masih antik mereka pun melaju membelah
Kota Semarang. Dalam perjalanan ia bertekad untuk membiayai kuliahnya dengan
uang pribadi.
Tak
pernah terpikir oleh saya menjadi guru atau pengajar untuk anak anak sekolah
dasar. Benar saya memiliki cita cita menjadi seorang dosen, tapi saya tidak
memiliki niat dan harapan menjadi pengajar seperti ini. Tapi itu dulu, ternyata
manusia hanya bisa berencana dan Allah lah yang menentukan semua perjalanan
hidup kita. Kini aku merasa nyaman dan bahagia menjadi pengajar. Walaupun saya
tidak ahli dan terlalu pintar setidaknya saya sudah mencoba mencintai apa yang
dahulu belum saya cintai. Sebelum masuk kuliah orang tua menyarankan agar saya
mengambil jurusan dokter atau keguruan. Jelas sebagai anak muda yang terkadang
susah diberi pilihan maka saya menolak semua saran dari orang tua saat itu.
Alasannya jelas karena saya merasa fashion yang saya mengerti dan sukai adalah
dunia sosial, politik dan pemerintahan. Aneh sih kisah nya saat menjadi
pengajar, beberapa sahabat saya yang dahulu berjanji untuk tidak akan menjadi
guru eh ternyata sekarang sudah bergelar S.Pd. lucu sekaligus keren menurut
saya.
Terus apa sih enaknya menjadi seorang relawan pengajar ?
Terus apa sih enaknya menjadi seorang relawan pengajar ?
![]() |
| Anies Baswedan |
Relawan di Aceh sangat merindukan kedatangan Mas Anies di Bumi Serambi Mekkah. Kita semua ikut turun tangan bukan karena ingin dilihat sebagai aktivis, atau untuk mendapatkan uang ataupun jabatan. Melainkan karena kesamaan mimpi dan harapan untuk indonesia yang lebih baik dan kuat. Masalah negeri ini yang banyak berarti masalah kita semua sehingga semua harus turun tangan untuk menyelesaikannya tanpa peduli apa suku, agama ataupun latar belakang lainnya. Tak ada lagi yang boleh mengatakan ini tugasnya Pemerintah ataupun Menteri.
Di
malam yang sejuk dan penuh dengan ketenangan. Menjadi kebiasaan ketika mata
susah terpejam untuk diisi dengan menulis di blog yang saya anggap sebagai buku
kecil dengan isi pikiran saya tentang pendidikan yang terinspirasi dari satu
sosok yang terus bergerak di dunia pendidikan. Anies Baswedan lah sosok yang
menginspirasi saya untuk mencoba peduli dan cinta terhadap dunia pendidikan. Di
samping itu ayah selalu memberikan kami teladan untuk selalu dekat dengan dunia
pendidikan. Jika pendidikan di up grade maka dunia akan takut sama kita.
Lihat cina 30 tahun lalu tak ada satu pun yang takut dan menyegani, kini ketika mereka mulai meng upgrade pendidikan maka dunia mulai takut dan segan. Lihat negara mana yang tak segan dengan mereka, ujar Anies Baswedan. Ini penggalan kalimat yang saya ingat dalam seminar yang disampaikan mas Anies Baswedan. Jadi ingat malam itu kita diskusi masalah sumber daya manusia bersama teman teman yang di mulai oleh Ketua Bem Fisip, sambil ditemani teh tarik mulanya hanya membahas sedikit tentang Turun Tangan eh akhirnya sampai juga ke Anies Baswedan dan berakhir ke dunia pendidikan. Begini ulasan diskusi kecil kami yang berjam – jam sebelum menonton bola.
Tentu
banyak yang bertanya apa alasan saya masuk turun tangan dan mendukung
Anies Baswedan. sosok yang saya kenal sejak tahun 2008 lalu ini selalu
menginspirasi. Saya adalah anak manusia yang bermimpi akan sebuah
masyarakat dengan tingkat pendidikan yang baik. Mas Anies memiliki
banyak gagasan dan karya nyata di bidang pendidikan seperti Indonesia
Mengajar, Indonesia membaca, dll dan saya menjadikan beliau salah satu
inspirasi. Setelah saya aktif di dunia politik yang kecil kecilan saya
melihat banyak anak muda anti dengan politik dan saya sangat suka dengan
ide dan gagasan Mas Anies dengan turun tangannya. Mengajak semua orang
untuk merasa memiliki masalah negeri ini dan ikut menuntaskan janji
kemerdekaan yang belum tercapai.


