Gambaran Kabupaten Aceh Singkil

By Keumala Bangsa - September 26, 2018


Sejarah Kabupaten Aceh Singkil yang ada saat ini dimulai dari adanya sebuah kota Singkil yang merupakan daerah pusat kerajaan. Pengembangan daerah ini selanjutnya diteruskan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kota Singkil di fungsikan sebagai mana layaknya sebuah kota yang kelahirannya dimulai pada masa penjajahan Belanda sehingga Singkil difungsikan sebagai pusat kota dagang dan pusat pelabuhan dagang dipantai Selatan Aceh, pada masa itu (diperkirakan pada abad ke 15 M).

Kabupaten Aceh Singkil merupakan daerah otonom di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kabupaten Aceh Singkil merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan sebagai salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Aceh, dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Singkil. Pelantikan Bupati Aceh Singkil pertama kali dilakukan di Jakarta pada tanggal 27 April 1999 oleh Menteri Dalam Negeri. Peresmian Kabupaten Aceh Singkil dilakukan oleh Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Aceh (Bapak Prof. DR. Syamsuddin Mahmud) pada tanggal 14 Mei 1999 di lapangan Daulat Singkil.

Karakteristik Lokasi dan Wilayah

Kabupaten Aceh Singkil memiliki luas daerah 1.857.88 Km2 yang terbagi kedalam 11 Kecamatan, 16 Mukin dan 116  Desa yang terdiri dari dua wilayah, yakni daratan dan kepulauan. Kecamatan Simpang Kanan merupakan kecamatan yang terluas yaitu 289,96 Km2 atau 15,61 Persen dari luas wilayah kabupaten sedangkan yang paling sempit adalah Kecamatan Pulau Banyak dengan luas 15,02 Km2.
Luas Kecamatan di Aceh Singkil




















Kabupaten Aceh Singkil memiliki batas wilayah administrasi yang meliputi sebelah Utara berbatasan dengan Kota Subulussalam, sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara dan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Trumon Kabupaten Aceh Selatan.

Secara geografis Kabupaten Aceh Singkil terletak 2002’-2027’30” Lintang Utara dan 97004’-97045’00” Bujur Timur. Kabupaten Aceh Singkil merupakan salah satu kabupaten dari 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh yang berada pada perbatasan Provinsi Aceh dengan Provinsi Sumatera Utara, diantaranya berbatasan dengan Kabupaten Pak-pak Bharat, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kepulauan Nias. Kabupaten Aceh Singkil terdiri dari dua wilayah, yakni daratan dan kepulauan. Pada bagian daratan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Aceh Selatan dan Kota Subulussalam, sedangkan Kepulauan yang menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Singkil adalah Kepulauan Banyak yang berbatasan langsung dengan Kepulauan Kabupaten Simeulue dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara.

Topografi
Wilayah Kabupaten Aceh Singkil berada di daerah pesisir dan daerah sebelah Utara merupakan daerah dataran dengan kemiringan antara 0-8 %. Sedangkan pada daerah yang menjauhi pesisir merupakan daerah yang berbukit-bukit dengan kemiringan antara 8-30%. Dengan kondisi kemiringan lahan seperti ini masih memungkinkan untuk pengembangan perkebunan.
Kondisi ketinggian lahan menunjukan bahwa Kabupaten Aceh Singkil berada di antara ketinggian 0-100 m dpl. Daerah pesisir di sebelah Selatan dan daerah di sebelah timur berada pada ketinggian antara 0-5 m dpl. Sedangkan pada daerah di sebelah Utara memiliki kondisi yang relatif berbukit-bukit dengan ketinggian antara 5-100 m dpl.

Adapun Kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil yang memiliki ketinggian wilayah diatas permukaan laut (DPL) yang terbesar adalah Kecamatan Suro Makmur dengan tinggi 74 meter sedangkan yang paling rendah adalah Kecamatan Kuala Baru yaitu 6 Meter.
Geologi

Kabupaten Aceh Singkil merupakan daerah dengan fisiografi wilayah perbukitan yang didominasi oleh sistem perbukitan berupa bukit lipatan. Diantara bukit-bukit terdapat sungai dan anak-anak sungai yang bermuara ke Samudera Hindia. 

Pada bagian selatan, fisiografi terdiri atas dataran aluvial sungai dan endapan pasir laut yang sebagian besar merupakan ekosistem rawa yang unik. Disamping itu, terdapat juga bahan induk tanah berupa bahan organik yang sebagiannya telah terdekomposisi membentuk gambut. Pada bagian selatan juga terdapat daerah kepulauan yang umumnya didominasi oleh bahan induk bukit kapur dan endapan pasir.

Sebagai daerah yang dilalui oleh patahan aktif maka wilayah Kabupaten Aceh Singkil termasuk dalam daerah dengan resiko bencana yang tinggi sebagai akibat dari proses geologis, terutama pada bagian selatan yang merupakan daerah pesisir pantai. Salah satu bencana paling besar dan paling akhir adalah  terjadinya gempa bumi pada tanggal 28 Maret 2005 yang menyisakan banyak kerusakan sarana dan prasarana.

Kabupaten Aceh singkil dilalui oleh patahan aktif Sesar Semangko yang diperkirakan bergeser sekitar 11 mm/thn. Konsekuensinya, wilayah Kabupaten Aceh Singkil merupakan daerah rawan gempa dan longsor. Disamping itu, bagian utara wilayah kabupaten merupakan daerah yang rawan erosi karena sebagian besar material pembentuk tanah terdiri dari bahan induk berupa batuan liat, batu kapur, dan pasir kuarsa.

Dilihat dari ketinggian permukaannya, Kabupaten Aceh Singkil berada pada ketinggian 0-1000 meter dpl, yang sebagian besarnya berada  diketinggian 0-25 meter dpl (diatas permukaan laut) yaitu 43,54 Persen dari luas wilayah, ketinggian 25-100 meter dpl seluas 27,73%,Sedangkan wilayah yang berada pada ketinggian 100-500 meter dpl sekitar 22,58% dan ketinggian 500-1000meter dpl sekitar 5,85% dan lebih jelas dapat dilihat pada Tabel II-2 berikut:

Bentuk permukaan bumi yang relatif datar di wilayah Kabupaten Aceh Singkil memberikan implikasi ketersediaan lahan untuk pengembangan secara ekstensif berbagai kegiatan ekonomi produktif, khususnya pertanian lahan basah. Disamping itu, sebagian wilayah yang berada di pesisir pantai serta daerah kepulauan memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata alam dan perikanan laut. Daerah-daerah yang berpotensi untuk pengembangan wisata alam dan perikanan laut meliputi kecamatan: Singkil, Singkil Utara. Kuala Baru, dan Kepulauan Banyak.

Hidrologi
Secara hidrologi, Kabupaten Aceh Singkil memiliki potensi sumberdaya air yang sangat besar bersumber dari air sungai, danau, rawa-rawa dan mata air. Potensi sumberdaya air terbesar bersumber dari air sungai. Sungai Krueng Singkil (Lae Singkil) adalah sungai utama yang bermuara ke Samudera Hindia dan merupakan pertemuan dari dua sungai, yaitu: Lae Cinendang dan Lae Soraya. Lae Cinendang memiliki hulu di Pakpak Bharat Sumatera Utara, sedangkan Lae Soraya berhulu di Lawe Alas Aceh Tenggara. Di samping itu terdapat beberapa sungai lainnya yang relatif lebih kecil, diantaranya: Lae Sulampi, Lae Siragian dan Lae Silabuhan.

Kawasan rawa gambut dalam yang terdapat di bagian barat Kabupaten Aceh singkil berfungsi sebagai daerah transisi antara daratan dan lautan sehingga berpotensi untuk mencegah rembesan air laut ke darat dan sekaligus sebagai sumber cadangan air tanah.  Disamping itu, sebagian besar daerah rawa-rawa gambut tersebut adalah bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) sebagai Kawasan Suaka Alam (KSA) atau Kawasan Pelestarian Alam (KPA) sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pemanfaatan air tanah yang bersumber dari mata air dilakukan dengan pembuatan sumur bor dan pemanfaatan air tanah dangkal dilakukan dengan metode penggalian sumur yang umumnya terdapat di daerah yang agak tinggi. Sedangkan di daerah yang agak rendah seperti Kota Singkil, Kuala Baru dan Singkil Utara, air sumur tidak layak diminum karena berbau, berwarna, dan berasa legang.

Sumberdaya air yang sangat besar seperti diuraikan di atas sangat berpotensi digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri, irigasi, perikanan, peternakan dan lainnya. Jumlah cadangan air yang tersedia dari Lae Singkil yang memiliki luas sekitar 2.194,68 Ha diperkirakan debit air nya 982 Juta m3/tahun dengan debit rata-rata 55 m3/detik dan Lae Cinendang memiliki luas sekitar 833,28 Ha dengan debit air sebesar 580 Juta m3/tahun (sumber : Dinas PU Pengairan Aceh Singkil). Lae Singkil yang melewati Kota Singkil juga berpotensi menyebabkan banjir tahunan pada daerah sekitar aliran sungai. Ditambah lagi kondisi sebagian fisik lahan yang berbentuk rawa-rawa gambut mengakibatkan mudahnya terjadi genangan air yang agak lama.

Klimatologi

Iklim di wilayah Kabupaten Aceh Singkil termasuk dalam tipe iklim tropis. Hari hujan pada tahun 2015 rata-rata 114 hari/tahun dengan curah hujan 228,5 mm/bulan. Curah hujan yang tinggi terutama pada malam hari sangat cocok untuk kondisi tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit, hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat menanam sawit sebagai komoditi unggulan daerah, selain nilai ekonomis tanaman ini sangat menjajnijkan, tapi ntuk tanaman karet belum populer untuk dikembangkan. Komoditi pertanian juga sangat baik tumbuh  di Kabupaten Aceh Singkil, hal ini dapat dilihat dari penyumbang terbesar PDRB Kabupaten Aceh Singkil dari Sektor Pertanian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel II-3 berikut:

Tabel diatas dapat dilihat terjadi curah hujan yang cukup tinggi pada bulan Nopember dan Desember yaitu 447,5 mm/tahun dan 392,5 mm/tahun. Sedangkan yang terendah terjadi pada bulan September sebesar 41 mm/tahun.
Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Aceh Singkil dapat dibedakan atas kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung terdiri dari: Kawasan Resapan air, Kawasan Bergambut, Sempadan Pantai, Sempadan Sungai, Kawasan Sekitar Danau, Suaka Margasatwa Rawa Singkil,  Taman Wisata Alam dan Kawasan Rawan Bencana. Kawasan lindung ini didominasi oleh kawasan suaka margasatwa Rawa Singkil dan taman wisata alam.

Kawasan budidaya meliputi Kawasan Pemukiman, Pertanian Lahan Basah, Pertanian Lahan Kering, Tanaman Pangan dan Holtikultura, Tanaman Tahunan/Perkebunan, Hutan Produksi, Kawasan Peternakan/Pengembalaan dan Pertambakan. Kawasan budidaya didominasi oleh lahan perkebunan yang sebahagian besar merupakan areal perkebunan besar. Sedangkan kawasan perkebunan rakyat belum terkelola baik secara ruang sehingga dikategorikan sebagai bagian dari pertanian lahan kering dan kawasan transmigrasi.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar