Kecantikan Wanita Aceh ; Jejak Mata Biru di Lamno

By Si Anak Rimo - January 21, 2019


Wanita Aceh
Jika berbicara tentang sejarah Aceh, kita akan dihadapkan pada perjalanan panjang dan rasanya tidak akan terlepas dari cerita tentang Si Mata Biru. Selalu saja menarik untuk membahas kenapa bisa ada daerah di provinsi paling Barat di Indonesia memiliki gadis bermata biru. Pembahasan tentang Mata Biru pun telah tersiar ke seluruh penjuru negeri ini, bahkan dunia internasional pun tak luput dari daya magnet betapa kaya nya sejarah Aceh, terutama tentang Mata Biru Lamno. Mata Biru telah menarik banyak rasa penasaran masyarakat luar akan keunikan ini, karena hanya Aceh yang memiliki cerita mata biru dan tidak ada di bagian Indonesia lainnya. Wajar saja jika banyak media mengatakan bahwa Aceh adalah salah satu provinsi yang memiliki banyak gadis cantik.

Bagaimana sebenarnya cerita tentang Si Mata Biru ?

Sejak kecil aku sering mendengar istilah ini dari cerita – cerita orang dan dari sebuah lagu karangan Sabirin Lamno, judulnya dara Portugis. Begini lirik lagu tersebut,
" Sitangke bungoeng harom be mangat ta pandang nikmat peunoh pesona,
Dara portugis si puteh lumat turunan barat di nanggroe daya,
Neujak tamasya u Aceh Barat neu singgah siat di Lamno Jaya
Dara Portugis di sinan tempat si gadis barat nyang cantek rupa dara Portugis "

Begitulah sepotong lirik dari lagu yang bercerita tentang Mata Biru Aceh. Ada juga satu judul lagu lagi dari Dolles Marsael tentang Mata Biru. Banyak cerita tentang asal mata biru yang berkembang, menurut cerita penduduk lokal, kaum keturunan Eropa tersebut adalah rombongan keturunan dari umat Muslim yang melarikan diri dari Renquista dari Ratu Isabella dan Ferdinand dari Castilla / Arragorn ( Spanyol sekarang ) hingga ke ujung dunia ketika Andalusia ditaklukkan oleh pasukan Salib. Bila berkunjung ke daerah Kuala Daya dan Lambeusoi tersebut pasti kita akan menjumpai banyak penduduknya yang berkulit putih serta bermata biru seperti bangsa Eropa. Yang telah menjalin hubungan dagang Sejak masa itu, proses perdagangan antara bangsa Eropa dan Aceh yang sering berkunjung ke Kuala Daya untuk melakukan perdagangan pada era Pra Po Teumeureuhom dengan masyarakat setempat terus berlangsung dalam sejarahnya.

Dari beberapa narasumber juga banyak yang menjelaskan bahwa, Konon, di zaman masyarakat Kerajaan Daya menyelamatkan orang-orang Portugis dan menikahkannya dengan penduduk sekitar. Kala itu, kapal perang Portugis terdampar di perairan Lamno. Oleh sultan Daya, mereka diselamatkan dengan syarat mereka mau memeluk Agama islam, dan mereka menyetujui usulan sultan daya dan mereka berasimilasi dengan masyrakat setempat dengan menjadi pemeluk Agama islam yang taat. Versi ini sangat menarik dan diperkuat oleh catatan sejarah penjelajah Marco Polo yang menuliskan tentang “ Kebesaran kesultanan Daya berbaur dengan Prajurit Portugis ”.  

Desa-desa yang menjadi basis keturunan Portugis, yaitu desa Ujong Muloh, Kuala Daya, Gle Jong, Teumareum dan Lambeso, ini hampir semua wanita dan prianya berciri khas kulit putih, rambut pirang dan hidung mancung. Tambahan lagi, para prianya memiliki bulu tebal di tangan dan dada. Masyarakat lamno juga memiliki pemahaman agama yang baik dan mengakar kuat, meski berwajah kaukasia, budaya mereka kental Aceh dan Islam. " Di Lamno pengaruh Islam luar biasa. Tentara Portugis yang telah kawin dengan dengan masyarakat Lamno mengikuti agama Islam," kata Wahidin yang juga keturunan Mata Biru.



Seiring dalam perjalanan si mata biru banyak yang sudah berpindah alamat ke daerah lain karna sudah menikah dengan Pria diberbagai Daerah lain yang ada di AcehMereuhom Daya merupakan sebuah kota dagang yang amat maju pada abad ke 16 banyak memproduksi rempah-rempah dan hasil alam lainya sehingga pedagang dari luar negeri seperti dari Arab, Hindia, China dan Eropa sangat tertarik melakukan pedagangannya di pelabuhan yang sangat megah waktu itu. Sebelum terjadinya Bencana Alam pada 26 Desember 2004 banyak peneliti dari luar Negeri datang ke Kuala Daya untuk meneliti dan melihat lansung si mata Biru. Namun ketika terjadi gempa dan tsunami di Aceh, sebagian daerah Lamno mengalami kehancuran. Salah satu daerah yang sangat Parah adalah Kuala Daya 60% Penduduk Meninggal pada Saat Bencana itu dimana keturunan Portugis bertempat tinggal. Walaupun demikian, sebagian di antara mereka juga ada yang selamat. 

Mulailah aku mengerti tentang kisah  Si Mata Biru itu, beberapa kali pergi kesana untuk melihat langsung Lamno dengan pesona masyarakat mata birunya, suasana yang tenang dan keindahan panorama pantai membuat kita betah berlama – lama disana. pernah suatu ketika aku melihat langsung seorang mata biru di sebuah rumah makan di Lamno, sungguh kita akan terpesona pada keindahan wajah dan mata birunya. Pakaian sederhana dipadu balutan jilbab membuat kita berujar dalam hati, benar kata orang tentang kecantikan Si Mata Biru. Sebahagian masyarakat juga banyak yang memiliki akhiran Lamno, seperti penyanyi terkenal Aceh dan qari Aceh, Sabirin Lamno dan Rajif Fandi AB Lamno. Nama ini menandakan bahwa mereka adalah masyarakat dan memiliki hubungann dengan Lamno. 

Lamno berada di kabupaten Aceh Jaya, berjarak 86 km dari Banda Aceh dan berada di jalur lintas pantai Barat Selatan. Tak begitu sulit jika kita ingin berkunjung kesana, jalanan yang lebar, volume kendaraan yang tak banyak dan pemandangan yang indah membuat perjalanan melalui pantai barat sangat tenang dan jauh dari kebisingan. Sehingga jika kita melakukan perjalanan melalui Pantai Barat Selatan pastilah melewati daerah Lamno. Dahulu sebelum tsunami kita dapat dengan mudah menemui mereka karena jumlahnya yang masih banyak dan tersebar di beberapa desa, namun kini jumlah mereka sangat sedikit dan tersebar di berbagai daerah. Selamat Berkunjung dan mempelajari sejarah Aceh.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar