Kualitas sumber daya
manusia merupakan kunci keberhasilan masa depan bangsa. SDM yang unggul dan
berdaya saing akan mengantar Indonesia sejajar dan disegani bangsa lain. – B.J. Habibie
Presiden ke – 3 Indonesia
Saya percaya dan meyakini bahwa
ilmu pengetahuan menjadi modal paling penting untuk membangun suatu negara.
Dengan ketersediaan generasi yang berilmu, bertaqwa, maka akan menjadikan
sumber daya menjadi lebih inovatif dan produktif.Sehingga, bangsa ini akan dapat bersaing di
ranah internasional.Setiap daerah di Indonesia
tentu mempunyai visi misi yang ingin di capai dalam rencana pembangunan,
sehingga dijabarkan dalam berbagai kebijakan dan program pembangunan, tak
terkecuali Kabupaten Aceh Singkil, kampung halaman tercinta kita.
Jejen Musfah Dosen Magister UIN Jakarta & Pengurus PGRI
BULAN Mei ialah masa orangtua mencari sekolah yang tepat untuk
anak-anak mereka. Kegiatan ini menguras tenaga, pikiran, dan uang orangtua.
Sekolah negeri menjadi pilihan pertama karena kualitas, gratis, atau jauh lebih
murah jika dibandingkan dengan sekolah swasta. Keluarga dari kelas atas,
menengah, apalagi miskin mengincar sekolah negeri. Setiap tahun, pendaftarnya
selalu jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan kuota yang disediakan
panitia. Kondisi ini sering dimanfaatkan oknum guru dan kepala sekolah untuk
melakukan jual beli kursi.
Singkil
sebagai salah satu kabupaten di provinsi Aceh memiliki julukan “Singkil Kota Batuah “, biasanya sih kita
mendengarnya saat ada sambutan dari pejabat atau ceramah agama oleh ustadz di
peringatan hari besar. Hal ini karena di daerah inilah lahir salah satu ulama
yang sangat terkenal di Aceh, bahkan juga dunia, Syeikh Abdurrauf Assingkili.
Jika kita mencerna makna dari julukan diatas, julukan itu memiliki makna bahwa Singkil
adalah kota yang keramat.
Jika kita
melihat perjalanan sejarah, Singkil mengalami dua kali perpindahan mulai dari
Singkil lama hingga Singkil baru yang saat ini ramai didiami masyarakat. Berbagai
pelaku sejarah banyak menuliskan bahwa Singkil mengalami masa kejayaan pada
abad ke 18. Kala itu Singkil menjadi kota bandar untuk perdagangan ekonomi di Pantai
Barat Selatan untuk berbagai komoditas, bahkan banyak yang di ekspor ke
Eropa dan Amerika. ( A. Doup 1899 ).
Sebuah kisah yang
menginspirasi ketika membaca tulisan sahabatku. begitu besar misi dan
mimpinya dan begitu peduli ia kepada anak-anak bangsa. Semoga tercurahkan
selalu ilmu yang menebar manfaat. Sungguh suatu kebanggan jika generasi muda
adalah ia yang peduli terhadap negerinya dan prestasi anak bangsa. sebuah
cita-cita besar untuk mencerdaskan anak bangsa berbagi pengetahuan dan
mengajarkan mereka nilai-nilai moral. Karena sungguh sia-sia jika ilmu yang tak
di sertai dengan moral dan kepribadian yang unggul.
Tahun 2019 itu menjadi penting karena ada banyak keputusan dalam
hidup yang harus saya ambil dan jalani. Mulai dari merintis usaha dan memilih jalan
hidup, serta memulai membangun sebuah rumah tangga, ibadah yang kata banyak
orang itu merupakan ibadah paling berat, paling lama dan paling besar pahalanya karena akan dijalani
seumur hidup. Sangking gugupnya, saya masih tidak menyangka perjalanan hidup saya sudah sejauh ini.
Hai, nama saya Rahmat Hidayat Munandar, lahir dan tumbuh besar di Rimo, sebuah desa kecil di Kabupaten Aceh Singkil. Saya suka membaca dan Travelling, namun sedang belajar untuk suka dan mencintai menulis. Dari waktu ke waktu terus belajar membaca dan mendengarkan. Memahami setiap kejadian yang ku alami saat melakukan perjalanan untuk dijadikan pelajaran dan mencoba untuk menuliskannya.