Kumpulan Ide #5 : Membangun Pendidikan Aceh

By Si Anak Rimo - May 15, 2016


Bersama adik - adik Kampung Jawa
" Saya punya suatu impian. Saya yakin ini juga menjadi impian kita semua. Suatu saat nanti, setiap anak di Aceh ini akan mendapatkan pendidikan yang bermutu, dimana pun mereka berada dan apapun latar belakang ekonomi, suku dan agamanya ".

Pasca berakhirnya perang dunia ke II, ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi pilar pembangunan di banyak negara untuk mempercepat kemajuan. Negara yang menjadikan pendidikan dan teknologi sebagai pondasi utama pembangunan telah terlebih dahulu merasakan manfaat kemajuan di berbagai bidang seperti Jepang, Amerika, Inggris dan masih banyak negara lainnya. Tak terkecuali Indonesia yang sedang berusaha untuk meningkatkan sumber daya manusianya melalui  pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang pembangunan. Pembangunan sumber daya manusia lewat pendidikan  tertulis langsung dalam pembukaan Undang – Undang Dasar 1945, salah satu janji kemerdekaan yang harus dilunasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
 
Aceh sebagai provinsi paling Barat Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang dan gemilang atas nikmat kemajuan pendidikan dan teknologi saat itu. Sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan Aceh berabad – abad silam sangat dipengaruhi oleh perhatian yang besar dari kerajaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain. 

Konflik yang berkepanjangan dan bencana maha dahsyat tsunami mempengaruhi terlambatnya usaha pembangunan dunia pendidikan di Aceh selama ini. Konflik bersenjata puluhan tahun telah menjadikan pendidikan Aceh tertinggal dari daerah lain di Indonesia. Sejak bergulirnya reformasi pada tahun 1998 dan diberikannya otonomi kepada daerah untuk mengatur dan mengelola rumah tangganya sendiri, tak terkecuali dunia pendidikan. Namun banyak daerah tidak menjadikan pembangunan sumber daya manusia dan teknologi menjadi pilar pembangunan. 

Dunia pendidikan Aceh memiliki banyak masalah yang sulit untuk diselesaikan, besarnya postur anggaran untuk pendidikan tidak serta merta menyelesaikan masalah, karut marut implementasi pendidikan dalam konteks otonomi daerah jelas menambah kerumitan untuk mengubah benang kusut pendidikan di Aceh selama ini. Dunia pendidikan sering dijadikan lahan basah untuk menggali pundi pundi rupiah dan mutasi jabatan yang kerap dijadikan alat para penguasa, masa depan anak anak bangsa dipertaruhkan oleh kepentingan para pengambil kebijakan, terlebih karena besar nya anggaran dan melimpahnya proyek di dunia pendidikan. Isu pendidikan dan pengembangan teknologi tidak mendapat perhatian yang luas dan kerap dianggap tidak begitu penting sehingga kerap hilang timbul dalam pembahasan para penguasa dan jarang dibahas di seminar – seminar, terlebih di tahun – tahun politik yang mendekati pemilukada 2017.

Kepala sekolah, guru dan birokrat di dinas pendidikan sejatinya harus lebih fokus memikirkan masa depan anak didiknya daripada risau memikirkan mutasi yang kerap silih berganti. Kondisi ini dapat dicegah dengan usaha mensterilkan dunia pendidikan dari segala bentuk kepentingan politik dan ekonomi yang praktis dan tidak berpihak  kepada masa depan kemajuan dunia pendidikan. 

Saatnya Aceh Bergerak 

Salah satu permasalahan dunia pendidikan Aceh ialah tidak meratanya distribusi guru terutama di daerah pedalaman. Insan pendidikan dan para pengambil kebijakan tentu telah memikirkan program untuk mengisi kekosongan guru di daerah pedalaman, terlebih sejak lahir dan berhasilnya gerakan Indonesia Mengajar dan program SM3T dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayan. Sebuah program yang mengirimkan sarjana – sarjana terbaik untuk mengajar di pelosok Indonesia selama setahun. Keberhasilan ini menggugah banyak daerah memformulasikan konsep ini untuk kepentingan kemajuan pendidikan. Beberapa daerah dan kampus telah memulai program seperti Lampung Mengajar, Banten Mengajar, Solo Mengajar, UI Mengajar, Undip Mengajar, dll. Pendidikan telah menjelma menjadi sebuah gerakan yang tidak hanya dilakukan pemerintah, melainkan oleh semua elemen seperti mahasiswa, pengusaha, aktivis, masyakat dan kaum terdidik lainnya. 

Turun tangan bersama untuk pendidikan yang lebih baik terlihat jelas ketika program Kelas Inspirasi dilaksanakan di Banda Aceh dan Aceh Besar November 2015 lalu, ratusan relawan dan pegiat pendidikan dari berbagai profesi hadir ambil bagian, mulai dari dokter, pengusaha, politisi, wartawan, fotografer, tentara, polisi, pilot, dll. Menariknya mereka yang ambil bagian tidak hanya berasal dari Aceh melainkan banyak dari luar kota, mereka hadir untuk mengajar sehari dan berbagi inspirasi kepada anak – anak di sekolah. 

Beberapa tahun terakhir di  pusat ibukota provinsi, perkembangan gerakan dan komunitas yang bergerak di berbagai bidang semakin aktif, terutama bidang pendidikan dan sosial yang semakin masif terlebih di kalangan anak muda dan mahasiswa. Gerakan dan komunitas ini terus bergerak hadir pada setiap masalah, berbuat menjalankan solusi secara mandiri untuk membantu tugas pemerintah. Kondisi ini menjadi tanda bahwa gelora semangat turun tangan untuk ambil bagian melunasi janji kemerdekaan ini telah menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. Mereka yang ambil bagian untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat tidak lagi dianggap sebagai pengorbanan melainkan sebuah kehormatan yang harus diambil. 

Tawaran Model Program 

Perkembangan gerakan dan komunitas pendidikan di Aceh dapat dijadikan salah satu barometer untuk melihat kepedulian masyarakat terhadap dunia pendidikan. Kampus kampus di Aceh seperti Unsyiah, UIN Arraniry, Unimal dll juga memiliki banyak sumber daya manusia yang telah dan siap ambil bagian dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah Aceh harus menjadikan momentum ini untuk melahirkan sebuah program “ Gerakan Aceh Mengajar “ dengan berkerjasama langsung dengan Yayasan Indonesia Mengajar dan  kampus-  kampus di Aceh. Sebuah usaha untuk menghidupkan kembali tradisi mengajar yang dilakukan para pendiri bangsa kala itu.  Program yang akan merekrut, melatih, dan mengirim generasi muda terbaik bangsa ke berbagai daerah di Aceh untuk mengabdi sebagai Pengajar di Sekolah Dasar (SD) dan masyarakat selama satu tahun. 

Tentu tak banyak yang mau jika harus mengajar selamanya di pedalaman, tanpa jaringan telpon dan akses internet, tetapi lain halnya jika bertugas hanya setahun dengan jaminan penuh dari pemerintah terhadap segala kebutuhan selama pendidikan dan penugasan nantinya. Waktu setahun akan memberikan banyak pengaruh dan pengalaman luar biasa kepada para pengajar dan masyarakat. Program ini tentunya akan selaras dengan tema peringatan hari pendidikan tahun 2015 lalu, yaitu “ Pendidikan sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila “ . Sebagai gerakan yang memiliki cakupan se provinsi, gerakan ini sebaiknya berada dibawah naungan Pemerintah Provinsi, baik itu dikelola Dinas Pendidikan Aceh atau pun LPSDM, lembaga yang selama ini fokus pada pengembangan sumber daya manusia di Aceh. Namun, pemerintah provinsi tetap menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah penempatan dan stakeholder lainnya guna mendukung terlaksananya program ini dengan baik.

Anggaran Pendapat Belanja Aceh yang begitu besar dan dana abadi pendidikan dapat menjadi sumber pendanaan berbagai gerakan ini, ditambah lagi hadirnya sponsor dari berbagai perusahaan dan swasta yang berkontribusi tentu akan memperluas effect dan manfaat program ini. Selama ini pembangunan sering terfokus pada insfrastruktur dan kerap lupa untuk membangun pondasi sumber daya manusia yang utuh, terutama daerah yang jauh dan berada di pelosok. Lewat headline media cetak masyarakat sering disajikan data tentang besarnya anggaran, pertarungan dan kisruh politik yang tiada akhir hingga berbagai proyek yang terbengkalai, isu pendidikan seperti berapa banyak anak-anak di Aceh yang terpaksa putus sekolah, berapa banyak sekolah yang kekurangan guru atau bagaimana tantangan kepala sekolah memajukan sekolahnya, kerap tidak menarik untuk diletakkan di halaman depan media cetak.

Gerakan ini sejatinya tidak membutuhkan dana yang begitu besar, tetapi lebih kepada kesungguhan dan tekad yang kuat untuk terus bergerak meningkatkan sumber daya manusia dan kepedulian yang kolektif. Jika Indonesia Mengajar mengirimkan sekitar 50 pengajar muda setiap angkatan, Pemerintah Aceh nantinya dapat mengirimkan 60 pengajar yang disebar di daerah terpencil yang selama ini minim perhatian dan publikasi agar gerakan baru ini dapat dijalankan dengan efektif. Untuk menunjang keberhasilan program ini, perekrutan yang ketat dan bertahap menjadi kunci agar mendapatkan pengajar yang memiliki nilai akademik yang baik, pengalaman organisasi yang mumpuni dan jiwa kepemimpinan, tak mesti sarjana lulusan pendidikan yang dapat mendaftar, melainkan semua jurusan seperti ekonomi, teknik, fisipol, kedokteran, pertanian dll. Hal ini dipertegas UNESCO dalam laporan The International Commission on Education for Twenty-first Century, yang menyatakan bahwa " memperbaiki mutu pendidikan pertama-tama tergantung perbaikan perekrutan, pelatihan, status sosial, dan kondisi kerja para guru; mereka membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, karakter personal, prospek profesional, dan motivasi yang tepat jika ingin memenuhi harapan stakeholder pendidikan" (Delors, 1996).

 Gerakan Aceh Mengajar memang tidak akan meyelesaikan semua permasalahan pendidikan di Aceh, tapi setidaknya program ini memiliki misi ganda yaitu mengirimkan generasi terbaik calon pemimpin Aceh untuk mengisi kekosongan dan kekurangan guru di pedalaman, wahana belajar kepemimpinan agar menjadi pemimpin masa depan yang berkelas dunia dan memiliki akar rumput keacehan yang kuat, mensosilisasikan nilai nilai perdamaian, menjadi duta pemerintah untuk mengirimkan harapan kepada masyarakat sekaligus mengenalkan daerah pedalaman yang selama ini tidak banyak di angkat ke publik. Model pembangunan pendidikan telah lama dicontohkan negara Kuba dalam memberantas tingginya angka buta aksara, dihadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB), Fidel Castro menyatakan bahwa 1 Januari 1961 dicanangkan sebagai tahun pendidikan ( The Year of Education ). 

Kampanye dan mobilisasi besar – besaran dilakukan disegala penjuru, para brigaditas ( relawan )  slogan “ the people should teach the people “ dikirim dengan membawa buku dan bendera Kuba dan lampu paraffin ( simbol kampanye ), sedangkan di kantor dan lahan – lahan perkebunan terpampang besar slogan “ if you know, teach; if you don’t know, learn.”. Gerakan revolusi besar besaran memberantas buta huruf ini juga melanda berbagai organisasi, penyair menulis puisi, penyanyi menulis lagu, pers memuat berita serta para fotografer mengabadikan berbagai kegiatan. Model ini tentu ini dapat menjadi dasar untuk melahirkan sebuah gerakan bersama untuk membangun dunia pendidikan Aceh, apalagi Aceh memiliki lembaga yang selama ini mengurus peningkatan sumber daya manusia ( LPSDM ), lembaga yang setiap tahun mengirim anak muda terbaik Aceh untuk belajar di dalam dan luar negeri, melalui program ini setidaknya pemerintah dapat mengirimkan peraih beasiswa tersebut untuk menjadi pengajar setahun, baik sebelum atau sesudah menyelesaikan study beasiswanya.

Kondisi pendidikan di Pulau Aceh dapat kiranya menjadi bukti betapa pentingnya kepedulian itu. Secara geografis pulau ini  memang dekat dengan ibukota provinsi, tetapi secara ikatan perasaan jauh dari perhatian dan pembangunan. Sebuah pulau yang dapat dipandang dari pinggiran pantai Ibukota yang dapat ditempuh hanya beberapa jam perjalanan menggunakan boat nelayan. Namun suasana pendidikan di sana berbeda dari daerah lain, minimnya jumlah guru dan sarana penunjang pendidikan, ditambah lagi banyaknya anak – anak yang takut bermimpi telah membuat harapan masyarakat semakin tipis akan masa depan anaknya. Tugas pemimpin dan kaum terdidik ialah menyalakan kembali harapan – harapan yang mulai redup itu. Pilihan di Sekolah Dasar ini dilandasi bahwa sebahagian sekolah dasar di pelosok masih banyak kekurangan guru, guru harus berlari mengejar waktu untuk bergantian mengajar di setiap kelas. Wajah masa depan Aceh berada di ruang – ruang kelas, namun bukan berarti bahwa hanya tenaga pendidik dan institusi pendidikan yang memiliki tanggung jawab, namun secara moral ini adalah tanggung jawab semua komponen bangsa. Kehadiran program ini nantinya akan memberi warna yang baru terhadap peningkatan dan warna pendidikan dan menjadi sebuah pengalaman berharga bagi pengajar dan masyarakat setempat, kenangan yang akan terus dikenang untuk merajut tenun kebangsaan yang lebih baik. Pengalaman hidup yang akan terus membangun akar rumput keacehan yang semakin kuat

Setelah program ini berjalan, satu program lainnya yang mendukung untuk membarengi ialah Festival Aceh Mengajar, kegiatan yang akan mengumpulkan anak anak terbaik dari desa tempat para pengajar ditempatkan, sebuah festival yang akan memperlihatkan permasalahan dan kondisi terkini di pedalaman nantinya berupa foto, tulisan, hasil karya ataupun cerita dari anak didik para pengajar di penempatan. Ini untuk menggambarkan bahwa walaupun mereka berada di pelosok, mereka adalah mutiara yang selama ini terpendam, hanya kesempatan yang baik tidak mereka dapatkan. Di berbagai seminar dan talk show, ajakan kepada masyarakat luas untuk bergerak bersama sering didengungkan, tetapi ruang untuk bergerak bersama itu kerap samar bahkan tidak begitu luas. Melalui program ini nantinya pemerintah mengundang masyarakat untuk hadir dan melihat langsung berbagai masalah pendidikan yang ada di pedalaman, berinteraksi dengan anak dan para pengajar nya. Masalah pendidikan ini terlalu rumit dan kompleks, sehingga seluruh elemen harus ambil bagian untuk menyelesaikannya, apapun profesi dan latar belakangnnya. 

Pendidikan sebagai hulu telah membawa ribuan bahkan jutaan masyarakat Aceh meraih kesejahteraan. Gubernur, bupati, pengusaha, pendidik, birokrat, dan para profesional lainnya merupakan contoh nyata hasil dari sebuah produk pendidikan. Pendidikan haruslah menjadi tangggung jawab dan ikhtiar kolektif seluruh elemen masyarakat, terutama mereka yang telah terlebih dahulu merasakan kesejahteraan atas nikmat keterdidikan. Ikhtiar ini haruslah menjelma menjadi sebuah gerakan dan bukan hanya sebagai program semata, karena jika program perasaan memilikinya masalahnya ada di pelaksana, tetapi harus menjadi  gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Aceh: masyarakat peduli dan merasa memiliki, pemerintah memfasilitasi, dunia ekonomi peduli dan Ormas / LSM mengorganisasi.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar