| Oleh : riyanti | ||
| Hpku
tiba-tiba berdering, menandakan ada SMS yang masuk. Setelah kulihat
nama pengirimnya, tertulis nama Dina. Ku lanjutkan membaca pesannya
"Mbak, apa kabar?oya, aku mau ngomong sesuatu tapi aku malu
mbak..."katanya. " Nggak usah malu dek, ngomong ja.meski baru kenal,
adik sudah ku anggap saudara sendiri..."balasku. Dia membalasnya"
Ayahku pergi ke Jakarta, bisa nggak kalau mbak ngirimi aku pulsa. nanti
saya ganti setelah ayah balik dari Jakarta". Entah kenapa seketika itu
juga hatiku bertanya-tanya dan merasa aneh,kok bisa-bisanya dia minta
kiriman pulsa padahal kita baru beberapa hari kenal dan itupun
dikenalin seorang teman ewat SMS. Lama sekali SMS itu tidak ku balas
meskipun HP masih berada di genggaman. Hatiku masih bertanya-tanya dan
berusaha membuatnya berpikiran positif. Dalam kondisi masih bingung, dia
membalasnya" Kalau mbak tidak bisa, tidak apa-apa.maaf ganggu..."
katanya. Dan seketika itu juga ku balas " Ya sudah nanti saya kirimi".
Meskipun sudah memberi jawaban seperti itu, hatiku masih ragu dan terus
berpikir, kenapa dia seperti itu padahal baru kenal. Dan dalam proses berpikir tersebut, tiba-tiba ku tersentak dengan mengingat satu ayat dalam Al-Qur'an"Apakah kau mengira bahwa kau telah dikatakan beriman, sebelum Allah menurunkan ujian-ujian padamu" dan sebuah kata bijak "Rejeki itu milik Allah, bukan milikmu. Jika kau meringankan beban orang lain tanpa ragu dan tunda-tunda maka Allah akan meringankan bebanmu tanpa kau duga-duga". Setelah itu, hatiku tiba-tiba sadar dan yakin bahwa Allah pasti berada di balik semua ini dan ingin menguji atas rejeki yang ku miliki. Dan hatiku tiba-tiba lega. Beberapa saat kemudian, hpku berdering lagi. bukan SMS dari seseorang yang masuk melainkan ada laporan bahwa ada transferan pulsa ke hpku. Ku bingung karena yang ngirim itu bukan nomor yang ku kenal. Untuk konfirmasi, akhirnya ku kirim SMS pada nomor yang mentransfer itu. Dan spontan dibalas" Maaf, tadi saya salah kirim. Tapi tidak apa-apa, itu buat Anda saja". Setelah mendapat jawaban SMS itu, tak terasa air mengalir hangat dipipiku. Ku terharu sekaligus tak percaya atas semua yang terjadi. Dengan spontan pula, mulutku berucap"Allahu Akbar...allahuakbar...allahuakbar..." sekaligus beristighfar karena beberapa saat yang lalu ku meragukan sesuatu kehendak Allah. Sungguh, ketika hatiku bimbang dan ragu, Allah menjawabnya dengan cepat. Dia menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada manusia adalah KehendakNya. Rejeki adalah milikNya sehingga kita tidak boleh ragu untuk meringankan beban orang lain meskipun orang itu baru kita kenal dan tak kenal sekalipun karena Dialah yang akan menjaga diri dan harta kita. Allahuakbar... | ||
BAYANGAN hidup jauh dari keluarga, saudara,
dan teman dekat seringkali membuat kita tidak kuliah di luar daerah,
apalagi luar negeri. Faktor penahan ini termasuk bahasa dan budaya yang
berbeda dengan di Tanah Air.
Tahukah kamu, pengalaman studi di luar negeri dapat menjadi titik penting selama kamu menjadi mahasiswa. Kamu dapat merasakan pengalaman langsung mempelajari berbagai budaya dari teman-teman internasionalmu. Kamu juga dapat mengeksplorasi nilai-nilai budaya sendiri untuk ditampilkan di negara asing.
Sebagai gambaran, setidaknya ada 10 alasan mengapa kamu harus kuliah ke luar negeri. Berikut ini adalah lima alasan kedua seperti dilansir Surviving College, Kamis (28/6/2012).
Terbebas dari rutinitas
Jika kamu termasuk mahasiswa yang sangat aktif di kampus, terlibat dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, maka kamu akan terbiasa dengan jadwal yang padat. Pertemuan kelompok, kuliah penuh, proyek klub, kerja paruh waktu, dan magang menyibukkanmu setiap hari. Selalu ada alasan mengapa kamu berpikir semua sistem itu akan berantakan ketika kamu tidak hadir.
Tetapi kamu harus tetap menjaga pemikiran ini: seseorang akan selalu ada di sana ketika kamu tidak ada. Kamu tidak perlu mengorbankan hidupmu hanya karena kamu khawatir semua akan berantakan tanpa kehadiranmu. Kamu bisa mencoba sebuah pengalaman satu semester tanpa kekhawatiran, tanpa kewajiban.
Kesempatan belajar tentang dirimu
Ketika kamu berada di dunia yang benar-benar beda, kamu akan punya kesempatan untuk memikirkan ulang semua kepercayaan dan cara pandangmu, termasuk nilai-nilai yang kamu anut. Kamu dapat memilih untuk menyambut konsep dan persepsi baru karena kamu akan berkesempatan mempelajari banyak hal baru.
Kamu dapat mengeksplorasi warisanmu
Sebagian dari kita mungkin memiliki kakek nenek dari negara tempat kita menuntut ilmu. Ketika kamu merasakan pengalaman budaya di tempat keluargamu dibesarkan, hal itu akan memberimu pemahaman baru tentang siapa mereka. Pengalaman ini juga akan membuatmu mengeksplorasi berbagai hal yang telah menjadi bagian dari dirimu, yang nantinya akan membantumu mengembangkan identitas individumu.
Meningkatkan nilai jual di resumemu
Belajar di luar negeri tidak hanya akan meningkatkan nilai jual akademis dalam resume atau curiculum vitaemu (CV). Pengalamanmu berinteraksi dengan orang dari berbagai negara akan memberi nilai tambah juga di mata para perekrut karyawan.
Meningkatkan nilai gelar akademikmu
Kamu dapat mempelajari bagaimana kondisi budaya yang berbeda dapat mempengaruhi konsentrasimu belajar, berdiskusi, dan berpikir. Seringkali, kampusmu di luar negeri akan memberi kesempatan di mata-mata kuliah tertentu yang tidak bisa kamu ambil di Tanah Air. Kesempatan ini akan membantumu menambahkan perspektif internasional dalam studimu, entah kamu mendalami linguistik, literatur, bisnis, ataupun teknik.
Memang banyak pertimbangan ketika kamu memutuskan untuk hidup di negara lain untuk jangka waktu tertentu. Tetapi ingatlah, keuntungan dari pengalaman studi ini akan lebih banyak ketimbang berbagai kekhawatiranmu itu.(rfa)
Tahukah kamu, pengalaman studi di luar negeri dapat menjadi titik penting selama kamu menjadi mahasiswa. Kamu dapat merasakan pengalaman langsung mempelajari berbagai budaya dari teman-teman internasionalmu. Kamu juga dapat mengeksplorasi nilai-nilai budaya sendiri untuk ditampilkan di negara asing.
Sebagai gambaran, setidaknya ada 10 alasan mengapa kamu harus kuliah ke luar negeri. Berikut ini adalah lima alasan kedua seperti dilansir Surviving College, Kamis (28/6/2012).
Terbebas dari rutinitas
Jika kamu termasuk mahasiswa yang sangat aktif di kampus, terlibat dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, maka kamu akan terbiasa dengan jadwal yang padat. Pertemuan kelompok, kuliah penuh, proyek klub, kerja paruh waktu, dan magang menyibukkanmu setiap hari. Selalu ada alasan mengapa kamu berpikir semua sistem itu akan berantakan ketika kamu tidak hadir.
Tetapi kamu harus tetap menjaga pemikiran ini: seseorang akan selalu ada di sana ketika kamu tidak ada. Kamu tidak perlu mengorbankan hidupmu hanya karena kamu khawatir semua akan berantakan tanpa kehadiranmu. Kamu bisa mencoba sebuah pengalaman satu semester tanpa kekhawatiran, tanpa kewajiban.
Kesempatan belajar tentang dirimu
Ketika kamu berada di dunia yang benar-benar beda, kamu akan punya kesempatan untuk memikirkan ulang semua kepercayaan dan cara pandangmu, termasuk nilai-nilai yang kamu anut. Kamu dapat memilih untuk menyambut konsep dan persepsi baru karena kamu akan berkesempatan mempelajari banyak hal baru.
Kamu dapat mengeksplorasi warisanmu
Sebagian dari kita mungkin memiliki kakek nenek dari negara tempat kita menuntut ilmu. Ketika kamu merasakan pengalaman budaya di tempat keluargamu dibesarkan, hal itu akan memberimu pemahaman baru tentang siapa mereka. Pengalaman ini juga akan membuatmu mengeksplorasi berbagai hal yang telah menjadi bagian dari dirimu, yang nantinya akan membantumu mengembangkan identitas individumu.
Meningkatkan nilai jual di resumemu
Belajar di luar negeri tidak hanya akan meningkatkan nilai jual akademis dalam resume atau curiculum vitaemu (CV). Pengalamanmu berinteraksi dengan orang dari berbagai negara akan memberi nilai tambah juga di mata para perekrut karyawan.
Meningkatkan nilai gelar akademikmu
Kamu dapat mempelajari bagaimana kondisi budaya yang berbeda dapat mempengaruhi konsentrasimu belajar, berdiskusi, dan berpikir. Seringkali, kampusmu di luar negeri akan memberi kesempatan di mata-mata kuliah tertentu yang tidak bisa kamu ambil di Tanah Air. Kesempatan ini akan membantumu menambahkan perspektif internasional dalam studimu, entah kamu mendalami linguistik, literatur, bisnis, ataupun teknik.
Memang banyak pertimbangan ketika kamu memutuskan untuk hidup di negara lain untuk jangka waktu tertentu. Tetapi ingatlah, keuntungan dari pengalaman studi ini akan lebih banyak ketimbang berbagai kekhawatiranmu itu.(rfa)
Belajar di luar Indonesia, apa yang pertama kali terpikir di
dalam benak kita apabila ingin melanjutkan menuntut ilmu di luar negeri?
Pastinya, yang pertama kali terpikir adalah besarnya biaya pendidikan
dan biaya hidup.
Berbeda dengan kawan-kawan yang beruntung mendapatkan beasiswa. Mereka tidak perlu bersusah payah memikirkan biaya menuntut ilmu dan biaya hidup. Pastinya, mereka pun bisa melanjutkan belajar dengan tenang, tanpa adanya gangguan ekonomi.
Namun, sekarang ini keadaan sudah berubah. Biaya pendidikan di luar negeri ternyata tidak jauh beda dengan biaya pendidikan di Indonesia. Bahkan, berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri, biaya pendidikan di negara tetangga kita justru lebih murah dibanding dengan di Indonesia.
Pada awalnya, saya sendiri berpikir, untuk melanjutkan biaya di luar negeri memerlukan uang yang sangat banyak. Selain itu, kita pun sudah harus punya bekal untuk biaya hidup dan keperluan kita selama melanjutkan pendidikan di sana.
Kenyataannya, kini biaya pendidikan di Indonesia meningkat begitu pesat. Biaya pendidikan tersebut, apabila dikalkulasi sudah mahal, padahal seharusnya biaya pendidikan tidak mahal. Bagaimana dengan nasib kawan-kawan kita, yang tidak memiliki keuangan cukup untuk merasakan pendidikan?
Tidak perlu khawatir atau takut untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Tidak perlu agen pendidikan ataupun perantara. Karena sekarang ini zaman sudah berubah dan canggih. Hanya dengan mendaftar online dan menyertakan persyaratan yang ditentukan, kawan-kawan sudah bisa mendaftar.
Alhamdulillah saya berkesempatan kuliah di luar negeri, walaupun hanya di negara tetangga, Malaysia. Namun, pengalaman yang saya dapatkan tidak akan pernah terbayar dengan apapun juga.
Semua berawal dari keinginan saya ingin melanjutkan jenjang pendidikan. Selain itu, saya pun ingin sekali merasakan pendidikan di luar Indonesia, sekaligus mengenal kawan-kawan dari negara lain.
Kebetulan, pada awalnya saya mendapatkan beasiswa dari salah satu Universitas di Indonesia. Namun, saya tidak ingin terikat. Akhirnya, setelah bermusyawarah dengan orangtua, alhamdulillah orangtua masih mampu membiayai. Saya pun memutuskan tidak mengambil beasiswa tersebut. Yang saya ambil hanyalah beasiswa atau uang penelitian, yang akan diganti oleh kampus walaupun tidak banyak. Setidaknya saya bisa memperoleh pengalaman kerja di sini.
Setelah setengah perjalanan masa pendidikan di Malaysia, orangtua saya mengalami masalah ekonomi dan meminta saya melanjutkan pendidikan di Indonesia. Tetapi, saya tetap memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sini dengan cara bekerja separuh waktu (part time).
Kebetulan saya juga aktif di organisasi Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia. Sehingga, saya memperoleh banyak pengalaman organisasi, sekaligus mengenal kawan-kawan yang juga menuntut ilmu di Malaysia.
Banyak suka duka yang saya alami selama kerja paruh waktu di sini. Pekerjaan yang saya jalani itu yakni menjadi salah satu asisten riset di salah satu Universitas, promotor salah satu kartu komunikasi di Malaysia, menjadi customer service salah satu telekomunikasi Malaysia, menjaga stand salah satu bank syariah Indonesia cabang KL di Bandung exhibition, Tenaga Harian Lepas (THL) di Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia, membantu para tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia, menjadi guru ngaji privat, dll.
Suka duka dan pengalaman yang saya alami tidaklah tergantikan dengan apapun juga. Saya sangat bersyukur masih bisa melanjutkan pendidikan di Malaysia. Karena dari pengalaman saya, ternyata di sini banyak sekali kawan yang bermodal nekad ataupun pinjam uang, tapi akhirnya mereka berhasil membawa gelar S1, S2 dan S3. Bahkan, ada yng meraih gelar Profesor dari hasil perjuangan mereka.
Apalagi setelah diadakannya Indonesia World Student Symposium (ISWS) di Malaysia. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia bekerjasama dengan Kedutaan Republik Indonesia di Kualalumpur, beserta kawan-kawan yang belajar di beberapa negara seperti Turki, Jerman, Jepang, Korea, Australia, London, dll.
Kawan mahasiswa dari seluruh bagian negara, menceritakan pengalaman mereka yang bermacam-macam hingga akhirnya berhasil melanjutkan pendidikan di luar negeri. Dari yang hanya iseng mengisi formulir beasiswa di internet, sampai dengan yang modal nekad dan akhirnya berhasil. Semua itu memberikan motivasi yang besar kepada saya dan kawan-kawan Indonesia, yang ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Selama ada kemauan pasti ada jalan. Tidak pernah ada kata terlambat, untuk memulai sesuatu yang baik untuk diri Anda dan orang-orang tercinta di sekitar Anda. Alhamdulillah, saat ini saya sedang menunggu kelulusan gelar master saya dan insyaAllah akan melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya.
Jadi, untuk kawan-kawan di Indonesia, gapailah cita-cita Anda. Niat baik akan Allah berikan jalan. Berusaha, berdoa dan bekerja semaksimal Anda. Kesuksesan sudah menunggu Anda. Salam hangat untuk semua kawan-kawan di Indonesia.
Asri Noer Rahmi
Wakil Ketua Umum 1 PPIM
Perempuan Keumala : Bukti Perempuan Bukan Makhluk Lemah
By Si Anak Rimo - October 19, 2012
![]() |
| Cover Novel "Perempuan Keumala" |
'Perempuan Keumala',
Sebuah cerita berlatar belakang sejarah mengenai Laksamana Malahayati,
laksamana perang perempuan pertama di dunia dari tanah Rencong yang
memimpin tidak kurang dari 1000 pasukan Inong Balee, pasukan perang yang
beranggotakan kaum perempuan.
Perempuan Keumala Sejarah
menunjukkan, bahwa di ujung barat kepulauan Nusantara terdapatlah sebuah
Kerajaan Islam Aceh Darussalam, yang tercatat sebagai satu dari lima
kerajaan Islam terbesar di jamannya. Sebagai sebuah kerajaan yang
terletak di ujung barat, maka Kerajaan Aceh Darussalam menjadi pintu
gerbang pelayaran di Selat Malaka. Oleh karenanya tidak mengherankan
bahwa Kerajaan Aceh Darussalam memiliki Armada Laut yang luar biasa
kuatnya.
Dalam perjalanan sejarah, pada
masa pemerintahan salah seorang Sultan yaitu Baginda Sultan Alaiddin
Riayat Syah Al Mukammil pada abad ke 16 - 17 tepatnya pada tahun 1589
hingga 1604, sejarah mencatat nama besar seorang pahlawan perempuan
yaitu Laksamana Malahayati.
Ia adalah seorang Laksamana
perang perempuan yang memimpin lebih kurang 1000 orang pasukan Inong
Balee (satu-satunya pasukan yang terdiri dari kaum perempuan) dengan
gagah berani. Menjadi menarik, karena Laksamana Malahayati bukan saja
hanya Laksamana pertama di Indonesia, melainkan ia adalah seorang
Laksamana perempuan pertama di dunia.
Dalam sejarah perjalanan
pengabdiannya pada Kerajaan Aceh Darussalam ia juga telah membuktikan
keberaniannya dengan membunuh Cornelis De Houtman, seorang Belanda
pertama yang menginjakkan kaki di bumi Nusantara. Tidak salah bila
Laksamana Malahayati juga telah ditetapkan sebagai salah satu pahlawan
perempuan Indonesia sebagai jasanya membela tanah air.
Dari sepak terjang pengabdiannya
pada Kerajaan Aceh Darussalam, jelas Laksamana Malahayati memiliki
andil besar dalam mempertahankan tanah tumpah darahnya. Selain Laksamana
Malahayati, telah banyak dikenal pula pahlawan-pahlawan perempuan dari
tanah rencong yang terkenal keberaniannya, seperti, Laksamana Muda Tjut
Meurah Inseuen, Laksamana Leurah Ganti, Cut Meutia, dan seorang pahlawan
perempuan yang sudah sangat dikenal yaitu Cut Nyak Dien.
Selain itu juga pada masa abad
ke 17 Kerajaan Aceh Darussalam telah pula diperintah oleh ratu-ratu
perempuan yang sangat berpengaruh, yaitu Ratu Tajul Alam Safiatuddin
Syah, Sri Ratu Nur Alam Nakiatuddin Syah, Sri Ratu Inayat Syah
Zakiatuddin Syah dan Ratu Kumala Syah. Berangkat dari perjuangan yang
telah dilakukan oleh perempuan pada masa lampau, maka dapat dikatakan
bahwa perempuan Aceh memiliki keberanian yang tinggi.
Alumni
Fisip Universitas Indonesia yang kini bekerja sebagai dosen dan Ketua
Jurusan Public Relation Universitas Indonusa Esa Unggul ini mengaku
mengalami sejumlah peristiwa spiritual, sebelum akhirnya memutuskan
menulis cerita ini.
Penulis :
''Buku
ini saya tulis setelah melalui riset selama 2 tahun. Kebetulan saya
sedang menyelesaikan thesis S-2 saya di Aceh waktu itu. Beberapa
pekerjaan saya jalani sekaligus. Selain menyelesaikan thesis, saya juga
terlibat dalam program Rehabilitasi dan Rekonstruksi BRR di Aceh pasca
tsunami. Bersamaan dengan itu saya melakukan riset untuk buku pertama
saya ini,'' cerita Endang Moerdopo.
''Peristiwanya
memang agak unik. Waktu itu saya sedang bermeditasi di salah satu
lokasi di Aceh. Tiba-tiba saya merasa sedang bersilaturahmi dengan
seorang wanita yang mengaku bernama Laksamana Malahayati.
Bersamaan dengan itu muncul hasrat saya untuk meneliti perjalanan hidup pahlawan besar ini. Selama riset saya juga mengalami berbagai peristiwa spiritual yang sulit diurai satu persatu,'' kenang Endang yang memiliki hobi menari Bali dan menjabat Wakil Ketua Puri Gita Nusantara, sebuah kelompok kesenian yang diketuai Permana Agung, Kepala Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan RI ini.
Bersamaan dengan itu muncul hasrat saya untuk meneliti perjalanan hidup pahlawan besar ini. Selama riset saya juga mengalami berbagai peristiwa spiritual yang sulit diurai satu persatu,'' kenang Endang yang memiliki hobi menari Bali dan menjabat Wakil Ketua Puri Gita Nusantara, sebuah kelompok kesenian yang diketuai Permana Agung, Kepala Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan RI ini.
Banyak Friksi Endang menyadari, sebagai orang yang tidak berasal dari Aceh, menulis Perempuan Keumala bukan tanpa resiko.
''Saya
sadar pasti saat peluncurannya nanti akan banyak friksi yang terjadi.
Bisa jadi karena aku bukan orang Aceh, tapi seakan sok tahu menulis
tentang seorang Inong Aceh. Juga karena karakteristik masyarakat Aceh
sendiri,'' katanya.
Tetapi
ibu satu anak ini maju terus. Ia yakin 'pesan' yang ia terima ini harus
disampaikan. ''Seperti kata mas Arswendo Atmowiloto, siapapun pembawa
pesan tidaklah penting, ketika pesan itu sendiri bertujuan sebagai
sebuah kebangunan kesadaran akan sebuah pilihan,'' katanya mengutip
kalimat Arswendo yang memberikan komentar dalam buku terbitan PT
Grasindo itu. Bagi Endang, menjadi penyampai pesan adalah sebuah
anugerah.
''Tidak
semua orang memiliki kesempatan untuk dapat ber'silaturahmi' dengan
sosok sang Laksamana. Karenanya kubagikan pengalaman silaturahmi ku
dengan sang Laksamana kebanggaanku pada pembaca semua,'' paparnya.
Mereka membuktikan bahwa
perempuan bukan mahluk lemah dalam mempertahankan cita-cita, agama dan
hak asasinya, walaupun tidak melupakan tugas utama kodrat mereka sebagai
ibu yang melahirkan anak-anak negeri penerus perjuangan.
''Hal inilah yang penting untuk
disosialisasikan kepada perempuan pada saat ini, khususnya bagi
perempuan Aceh dan bagi para perempuan di seluruh Indonesia pada
umumnya. Dengan demikian jelaslah bahwa perjuangan perempuan telah
dilakukan sejak jaman dahulu kala. Hal ini dibuktikan dari adanya
sejarah yang bukan hanya untuk dikenang, tetapi dapat dijadikan sebuah
semangat untuk membangun jiwa perempuan yang kuat dan berkarakter,''
pungkas Endang.
***
(FHAZ MAGAZINE)



























