Mengenal Aceh Singkil Tempo Dulu

By Si Anak Rimo - July 30, 2012


Daerah ini pernah dikuasai oleh tiga kerajaan kecil (Sabeak). Masing-masing : Negeri dari Marga Angkat, Negeri dari Marga Tendang yang beribukota Panisihan dan Negeri dari Marga Buluara. Ketiga negeri tersebut akhirnya lenyap. Beberapa tahun kemudian muncullah Kerajaan Berguh Tugan di wilayah Simpang Kanan (sungai Simpang Kanan). Tepatnya terletak didekat Kampung Tugan.

Menuju ke arah muara, di sekitar sungai Simpang Kanan tumbuh menjamur kerajaan-kerajaan kecil. Antara lain: Kerajaan Jantan Arus (seberang sungai Simpang Kanan), Kerajaan Bajar Pintor di Hilir Pakiraman, Kerajaan Betahpe didekat Kampung Surau, Kerajaan Kehing dan Raba (keduanya di belakang Cibubukan), Kerajaan Uhuk Latar (di belakang Surau) dan Kerajaan Huta Batu. Menurut trombo, kerajaan-kerajaan kecil itu tunduk kepada Kerajaan Pagaruyung Minangkabau, keturunan dari Cindur Mata. Ketika Putra Maharaja Minangkabau kawin dengan Putri Aceh, wilayah Simpang Kanan dan Simpang Kiri yang disebut juga “Rantau 12” dijadikan Mas Kawin. Dengan demikian kerajaan-kerajaan tersebut menjadi daerah kekuasaan Aceh.

Penobatan raja-raja di semua wilayah kekuasaan Aceh, dilakukan langsung oleh Sultan Aceh. Biasanya dilaksanakan dalam sebuah upacara dengan Surakata dan Keris kebesaran (Bawar). Kemudian di wilayah Singkil Hulu ini, terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil yang disebut “Raja Sinambelas” (Raja 16) yaitu :
Simpang Kanan : terdiri dari Raja Tanjung Mas, Raja Surau, Raja Selatong, Raja Ujung Limus, Penghulu Pakiraman, Penghulu Simsim, Penghulu Rantau Panjang, Penghulu Tanah Merah, Kejeruen Sarasah, O.K. Balau Punaga dan Saping.
Simpang Kiri : terdiri dari Raja Tualang, Raja Kota Baru, Raja Pasir Belo, Raja Binanga, Penghulu Belegen, Penghulu Kumbi, Penghulu Batu-batu, Penghulu Longkip dan Penghulu Samar Dua.

Mereka (baik yang di Simpang Kanan maupun yang di Simpang Kiri) memimpin sepetak wilayah. Wilayah-wilayah tersebut kemudian terkenal dengan nama penguasanya. Misal wilayah yang dipimpin oleh Raja Tualang, dikenal orang sebagai Kerajaan (Negeri) Tualang. Ketika Singkil dianeksasi oleh Belanda dan dijadikan enderafdeeling pada tahun 1840, keduapuluh penguasa (raja) itu disatukan dalam sebuah wadah bernama Dewan Rapat. Tetapi mereka tetap memimpin daerah masing-masing. Kepada raja-raja tersebut, Belanda memberikan juga tongkat jabatan. Raja Tanjung Mas (dari Simpang Kanan) dan Raja Tualang (dari Simpang Kiri) diberi tongkat jabatan berjambul emas, mengingat keduanya adalah raja yang diangkat oleh Kesultanan Aceh pertama kali. Sedang raja-raja lain diberi tongkat jabatan berjambul perak. Setiap raja didampingi pengapit(Mentri) dalam melaksanakan tugasnya.

Sejarah Singkil sangat menarik untuk dikaji, baik dari segi sejarah, sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Hal itu disebabkan kota tersebut pernah mengalami kejayaan, terutama di bidang ekonomi sekitar abad ke-18 ketika Kota Singkil menjadi Banda (pelabuhan) di bagian pantai selatan Aceh dan sekaligus menjadi kota perdagangan. Pada saat itu segala perdagangan lada yang akan diekspor ke Amerika Serikat harus melalui Kota Singkil (A.Doup, 1899). Bahkan kota tersebut menjadi daya tarik penduduk daerah lain sebagai tempat untuk bekerja. Pada saat itu memang ada istilah bagi penduduk di Aceh yang mengatakan pergi ke rantau barat yang berarti pergi ke pantai selatan Aceh untuk mencari nafkah dan sekaligus bertanam lada (C. Snouck Hurgronje, 1906). Daerah Trumon merupakan salah satu daerah penghasil lada di Pantai Barat yang saat itu berada di wilayah Singkil (G.A. Fokker, 1935 dan J.Siegner, 1940).

Menentukan kapan kota Singkil dibangun pertama kali tentunya merupakan pekerjaan yang sangat sulit apabila menentukan tanggal, bulan atau tahun. Pendekatan yang digunakan paling maksimal kemungkinan hanya dapat memperkirakan pada abad keberapa sebenarnya kota Singkil dibangun. Keterbatasan ini kiranya berkaitan dengan bukti sejarah dan empiris yang ada saat ini yang tidak dapat mendukung secara maksimal dalam menentukan kapan kota tersebut sebenarnya mulai dibangun. Oleh karena itu, berbagai pendekatan yang sifatnya tidak langsung, terutama melalui pendekatan sejarah mutlak harus dilakukan dan kemudian dilanjutkan dengan pendekatan empiris melalui sebuah penelitian yang komprehensif dan melibatkan berbagai pakar, terutama dalam bidang Arkeologi dan Paleantropologi. Seperti diketahui bahwa Syekh Abdurrauf Al Singkili lahir pada pertengan abad ke –17 (1616-1693) (Liaw Yock Fang, 1993). Apabila dikaitkan dengan kelahirannya secara tidak langsung menunjukkan bahwa kemungkinan Kota Singkil telah dibangun pada abad tersebut. Hal ini mengingat bahwa Abdurrauf Al Singkili lahir di kota tersebut.

Catatan-catatan asing yang tertua mengenai Singkil masih sedikit didapatkan, kecuali Barus dan Fansur (walaupun dahulunya Singkil juga termasuk wilayah Fansur) yang memang sudah banyak dikenal karena hasil alamnya yaitu kapur barus. Baru setelah abad ke-9 M, di samping Barus dan Fanshur sudah mulai banyak catatan, terutama dari pelawat Islam tentang Niyan (Nias). Buzurg ibn Shahriyar Ramhurnuz (850 M) dalam bukunya Akhbar al Sin wal Hind, menyebutkan bahwa ”penduduk yang ada di sekitar Barus masih primitif. Kalau ada kapal yang karam di laut dekat Fanshur, para pelawat asing tersebut berusaha mencapai Lamuri, karena di sana ada teman sebangsanya dan untuk dapat memudahkan pulang ke negerinya dengan menumpang kapal.”

Agresi Belanda ke Singkil melalui Perang Batu-Batu, menyebabkan wilayah singkil berada dalam sistem pemerintahan langsung (Gubernemen Gebied) seperti halnya Aceh Besar, sebagai daerah yang berhasil dikuasai oleh Belanda melalui perang. Belanda kemudian mendirikan pemerintahan di Singkil, dan antara tahun 1903-1908 Landschap Trumon termasuk dalam kekuasaan onderafdeling Singkil. Apabila ditinjau perkembangan ekonomi Kota Singkil pada abad ke-18 ternyata cukup maju sebagai kota perdagangan. Dijelaskan bahwa nilai ekspor barang dikirim melalui pelabuhan Singkil pada tahun 1851 mencapai 300.000 Gulden. Barang-barang yang paling bernilai diekspor melalui pelabuhan Kota Singkil adalah lada. Hasil bumi lainnya yang berasal dari wilayah Singkil yang di ekspor melalui pelabuhan Singkil adalah minyak nilam, damar, karet, gambir, kelapa, rotan dan kapur barus.

Perkembangan kota Singkil selanjutnya bagaikan sebuah drama yang meninggalkan sebuah tragedi yang memilukan. Pada saat kota tersebut mengalami perkembangan ekonomi yang sangat pesat tiba-tiba pada tanggal 12 Februari 1861, kota Singkil hancur karena dilanda gempa bumi (tektonik) dan gelombang laut yang sangat dahsyat (E.B. Kielstra, 1892). Daerah lain di pantai barat Aceh yang dilanda gempa bumi tersebut adalah sebagian dari wilayah Aceh Selatan, seperti Meukek, Susoh, dan Kuala Batee. Gempa bumi tersebut telah mengakibatkan hancurnya hampir semua infrastruktur yang dibangun pemerintah Belanda sebelum tahun 1852 dan juga telah menghancurkan perkebunan lada penduduk tidak hanya di Singkil, melainkan juga di daerah lain di pantai barat Aceh.

Secara administrasi kota Singkil mempunyai 4 desa, yaitu desa Kilangan, Ujung, pasar, dan desa Pulau Sarok. Pada tahun 1905 penduduk Kota Singkil berjumlah 1.665 orang, namun pada tahun 1930 jumlah penduduk berjumlah 5 kali lipat, menjadi 3.301 orang (W.K.H. Ypes,1907 :284 dan J.Pauw, 1935 : 75). Meningkatnya jumlah penduduk tersebut berkaitan erat dengan status kota Singkil sebagai pusat administrasi dan perdagangan, sehingga merupakan faktor penarik bagi penduduk daerah lain untuk bermigrasi ke daerah tersebut. Selain berfungsi sebagai pusat administrasi, kota Singkil juga berfungsi sebagai pusat perdagangan. Setelah pindah ke kota Singkil Baru, Singkil kembali menemukan kejayaannya sebagai kota perdagangan yang cukup dikenal di pantai selatan Aceh. Kota Singkil merupakan tempat transit barang-barang yang akan diperdagangkan, terutama barang-barang yang berasal dari Alas, Dairi, Simeulue, dan Pulau Banyak, demikian pula sebaliknya (G.A. Fokker, 1936). Pada zaman Belanda, kota Singkil secara teratur dalam dua minggu sekali disinggahi oleh kapal KPM. (J.J. van de Velde, 1987).

Salah satu peninggalan yang cukup penting dan merupakan bukti bahwa kota Singkil merupakan kota perdagangan dapat dilihat dari bentuk rumahnya. Sebagian besar bangunan rumah bertingkat dua, sebelumnya rumah-rumah tersebut berfungsi sebagai tempat berjualan dan tempat tinggal. Pada bagian bawah biasanya digunakan sebagai tempat berjualan, sedangkan di bagian atas berfungsi sebagai tempat tinggal. (Kompas, 1991). Pada saat ini kebanyakan rumah tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal dan hanya sebagian kecil dari penduduk yang menggunakan sebagai tempat berjualan.

Menurut legenda atau cerita orang tua-tua, bahwa asal-usul Singkil itu dari tiga tempat yaitu Kampung Gelombang di alur Lae Souraya Simpang Kiri adalah daerah yang pertama sekali terhempas oleh gelombang pasang naik, dan sebagai muaranya adalah Kuala Kapeng. Akibat erosi sungai, lama-kelamaan menimbulkan tanah yang muncul ke permukaan sehingga sungai menjadi dangkal dan beralih ke daerah lain. Akibat erosi sungai tersebut muncul daerah Paya Bumbung, Rantau Gedang, Teluk Ambon, Kuala Baru. Kampung Singkil Lama, menurut cerita sudah tenggelam. Daerah itu dahulu terletak di depan daerah Kilangan yang bernama Pasir Tangah. Menurut cerita, sekitar tahun 1890 pada hari Jumat terjadi amukan Lautan Hindia (Lautan Indonesia), air laut mengadakan pergeseran yang begitu cepat dengan membawa arus gelombang yang membersihkan pantai pelabuhan Singkil, sehingga hilang dari permukaan. Sebagian dari mereka dapat menyelamatkan diri dan pindah ke daerah Singkil sekarang, yang disebut daerah Singkil Baru, oleh Belanda menamakannya dengan Niew Singkil. Dari tiga daerah itulah disebutkan asal wilayah Singkil. Wilayah Pasir Tangah manakala air surut dapat kelihatan batu-batuan bekas rumah. Daerah ini menjadi lautan yang berbahaya bagi para nelayan, yang disebut Ujung Singkil.

Cerita lain menyebutkan, bahwa Singkil pada mulanya terletak di daerah yang telah mempunyai bahasa sendiri sehingga disebut Singkel, yang berasal dari kata Sikkel (suka, senang atau ingin), yang kemudian berubah menjadi Singkel. Hal ini terjadi dari asimilasi para pedagang Timur Tengah dengan suku Hindia, dan penduduk asli, sehingga muncul suatu kebudayaan tersendiri. Asal kata Singkil juga disebutkan bahwa pada zaman perdagangan dengan perahu layar dahulu, ketika terjadi angin ribut dan badai, maka para awak perahu tersebut menyingkir mencari tempat perlindungan dengan memasuki teluk-teluk yang ada di sekitarnya. Disebabkan kebiasaan menyingkir itu, maka lama-kelamaan menjadi Singkil, yang maksudnya menyingkir.

Nama Singkil mulai banyak terdapat dalam catatan asing sekitar abad ke-16 M, bahkan seorang ulama yang terkenal di Aceh dan juga Nusantara yaitu Syaikh Abdurrauf Syiah Kuala juga berasal dari Singkil. Seorang pencatat bangsa Portugis terkenal bernama Tome Pires, menulis buku laporan mengenai Nusantara dari tempat tinggalnya di Malaka antara tahun 1512-1515 M. Ia menulis mengenai pantai barat Sumatera, seperti Andalor (Andalas), Tiquo (Tiku), Pariaman, Minhac Barras (Nias) serta Baruus (Barus), juga untuk pertama kalinya menyinggung tentang kerajaan Chinquelle atau Quinchell (Singkil). Tome Pires menyebutkan bahwa Kerajaan Singkil berbatasan dengan Kerajaan Barus, di sebelah utara berbatasan dengan Kerajaan Mancopa atau Daya, Aceh Barat (sekarang Aceh Jaya), sedangkan penduduknya yang di pedalaman bersifat kanibal. Raja Singkil pada waktu itu belum beragama. Di wilayah kerajaan Singkil ini banyak menghasilkan damar, sutera, lada, emas. Mempunyai perahu yang laju dan ada sungai-sungai. Kerajaan Singkil itu melakukan hubungan dagang dengan Pasai, Barus, Tiku dan Pariaman. Penduduk yang tinggal di pedalaman memakan daging manusia dari musuh-musuh mereka yang tertangkap. Menurut Veth (1873) nama Sinckel juga sudah mulai ada dalam peta Petrus Plancius pada tahun 1592 M.

Tom Pires juga menyebutkan bahwa Singkil dibagi dalam dua kerajaan, yaitu Singkil Hulu dan Singkil Hilir. Dalam Kerajaan Singkil Hulu terdapat sekitar sebelas kerajaan kecil di kawasan Simpang Kanan, dan sepuluh kerajaan kecil di kawasan Simpang Kiri. Sedangkan kerajaan-kerajaan Singkil Hilir termasuk Pulau Banyak dibagi dalam tujuh daerah kerajaan.

Secara administratif pemerintah kolonial Belanda membagi keresidenan Aceh menjadi dua wilayah yang mereka sebut rechtreeks bestuur gebied daerah yang diperoleh oleh Belanda melalui perang. Kepala pemerintahan disebut districthoofd dan daerah taklukan atau zelfbestuur gebied, juga disebut landschap (swapraja), yang dikepalai oleh zelfbestuurder. Onderafdeling Singkil pada waktu itu termasuk dalam Onderafdeling Zuidelijk Atjeh Landschappen, yang terdiri atas distrik Singkil, Simpang Kanan, Simpang Kiri, dan Onderafdeling Banyak Einlanden (Pulau Banyak). Distrik Hoofd Singkil adalah Datuk A. Murad, Simpang Kanan oleh T. Raja Hidayo, Simpang Kiri oleh Ruhum, dan Onder District Pulau Banyak oleh Raja Alamsyah. Controleur onderafdeling Singkil pernah dipegang oleh A.J. Piekaar.

Pada tahun 1861 hingga 1907, untuk lebih mudah pengawasan, maka Pemerintah Hindia Belanda atas permintaan komandan tentara Belanda di Kutaraja menugasi Pootman sebagai residen yang sekaligus diperbantukan kepada tentara KNIL, memegang pemerintahan militer selama pemerintahan sipil belum terbentuk, dan memutuskan bahwa wilayah Singkil tunduk kepada Gubernur Sipil dan Militer Aceh yang berkedudukan di Kutaraja. Hal tersebut ditetapkan pada tahun 1905 dengan Stbl. No. 440.

Controleur J.C. Tigelman sesuai dengan laporan terakhirnya pada tanggal 15 Nopember 1941, bahwa wilayah Singgkil terdiri atas 4 jabatan districthoofd dan 16 onderdistricthoofd, yaitu: District Benaden Singkil terdiri atas Onderdistrict Benaden Singkil adalah Datuk A. Murad, Onderdistrict Rantau Gadang, Onderdistrict Teluk Ambon, dan Onderdistrict Paya Bumbung oleh Raja Maholi. Distrik Simpang Kanan terdiri atas Onderdistrict Tanjung Mas oleh Datuk Bambon, Onderdistrict Belegen, Onderdistrict Kombih oleh Datuk Ruhum, Onderdistrict Kota Baru oleh Raja Baharu, Onderdistrict Tualang oleh Raja Gontar, Onderdistrict Longkip oleh Raja Kuta, Onderdistrict Pasir Belo oleh Raja Yusuf, serta Onderdistrict Batu-Batu oleh Raja Kamaruddin. District Banyak Einlanden oleh Sutan Umar, terdiri dari Onderdistrict Pulau Tuanku oleh Datuk Somik dan Onderdistrict Pulau Delapan oleh Datuk Badiaga.

Dalam beberapa almanak Pemerintah Hindia Belanda diterangkan bahwa Kota Singkil (Singkil pertama) telah dibangun pada tahun 1841. Dijelaskan bahwa pada saat itu daerah tersebut merupakan salah satu wilayah yang tergabung dalam Keresidenan Tapanuli. Data atau informasi yang disajikan tersebut kiranya perlu disikapi secara hati-hati, apakah Kota Singkil memang baru dibangun pertama kali pada tahun 1841 atau pada saat itu kota tersebut hanya melanjutkan program pembangunan yang telah ada sebelumnya. Akan tetapi yang jelas semenjak saat itu mulailah di Kota Singkil dibangun berbagai fasilitas pemerintahan, seperti rumah controleur (1843), Pendopo (1847), Kantor Keuangan (1850), Kantor Bea Cukai dan Pelabuhan (1850), dan sebuah Rumah Sakit Militer (1949). Selain itu, dibangun pula pemukiman penduduk dan pasar. Pada saat pemerintahan Belanda melakukan Sensus Sosial Ekonomi pada tahun 1852 diterangkan, bahwa semua infrastruktur yang telah dibangun sebelumnya masih dalam kondisi yang baik kecuali rumah controleur. Kemudian pada tahun 1857 dibangun pula sebuah penjara.

Secara geografis kota Singkil pertama terletak di sebelah barat kota Singkil yang sekarang yaitu tepatnya terletak di ujung kota Singkil. Bekas kota Singkil pertama tersebut saat ini terletak jauh di tengah laut dan daerah itu merupakan jalur yang berbahaya bagi pelayaran kapal. Para nelayan Singkil menyebut lokasi tersebut dengan nama Berok. Pada saat pasang surut kadang-kadang bekas bangunan perumahan penduduk pada jaman dahulu muncul ke permukaan dan dapat dilihat, terutama oleh nelayan-nelayan yang sedang menangkap ikan. Selain itu, bekas-bekas bangunan dan peralatan rumah tangga penduduk kota Singkil pertama sering pula didapatkan penduduk pada saat mereka melaut. Hanya sayangnya berbagai bukti sejarah tersebut tidak pernah diinventarisasi dan diteliti.

Setelah kota Singkil pertama hancur mulailah pemerintah Belanda mempersiapkan sebuah kota baru yang lokasinya agak menjorok ke darat dan persiapannya dimulai sejak tahun 1861 sampai tahun 1863. Kota tersebut mulai ditempati pada pertengahan tahun 1863 dan dikenal dengan kota Singkil kedua. Kota Singkil kedua tersebut terletak berseberangan dengan kota Singkil yang sekarang. Kota Singkil kedua sering juga disebut dengan Singkil Lama. Sedangkan kota Singkil yang sekarang disebut dengan Singkil Baru (Niew Singkil). Kota Singkil kedua tersebut terpaksa harus ditinggalkan karena terjadinya pendangkalan di muara sungai Singkil yang mengakibatkan jauhnya kapal-kapal untuk bongkar muat barang, terutama untuk kepentingan militer Belanda.

Kota Singkil sekarang terletak di tepi muara sungai Singkil dan pinggir pantai barat Aceh. Kota Singkil merupakan kota yang dipersiapkan Belanda sebagai pusat administrasi. Sebelum memindahkan Kota Singkil lama tersebut, pemerintah Belanda terlebih dahulu mengatur tata kota Singkil Baru dengan mendirikan kantor-kantor pemerintah, rumah controleur, tangsi Militer, rumah Beacukai, Dermaga, Mercusuar, Lapangan Bola Kaki, Gedung Sekolah, lokasi rumah penduduk, dan pengaturan jalan-jalan. Rumah-rumah orang Eropa sengaja dibangun tersendiri dan menghadap sebuah danau besar yang semula merupakan alur sungai Singkil. Bekas danau tersebut saat ini telah ditumbuhi berbagai tumbuhan rawa, seperti nipah dan eceng gondok yang mengakibatkan terjadinya pendangkalan di muara sungai Singkil.
Pemerintah Hindia Belanda juga membangun rumah Datuk Besar Singkil yang biasa disebut dengan Rumah Gadang dan sebuah mesjid besar. Selain itu, pemerintah Hindia Belanda juga membangun sebuah kantor pos serta kantor telegram yang dapat menghubungkan kota Singkil dengan berbagai kota lainnya di Indonesia. Sebagian bangunan peninggalan Belanda tersebut masih dapat dijumpai di kota Singkil seperti rumah Gadang, rumah controleur dan dermaga. Sebaliknya bekas-bekas rumah orang Eropa kebanyakan sudah diruntuhkan dan diganti dengan bangunan kantor pemerintah.

Wilayah Singkil yang terletak di pantai barat Sumatera, berdasarkan keputusan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 10 Oktober 1908 No. 3 serta Stbl. No. 604 tahun 1908, sebagai berikut:

Di pantai Lautan Hindia (Indonesia) pada ketinggian puncak dari Blang Sulpa ke Lae Muntu, kemudian ke arah kanan dari ujung sungai dan terdapat jalan kecil dari pangkalan Cinendang yang membelah dari Sukananing dan pangkalan Puge. Dari pangkalan Puge sampai ketinggian puncak Dleng Pemberangan dan Deleng Belilingen, Deleng Cambaren, Deleng Pangulubalang, Deleng Pabaken Singkeruh ke Muara Sibalik. Selanjutnya menuju ke depan dari seberang Simpang Kiri ke Lae Bengkong dengan perbatasan sungai. Garis perbatasan utara Singkil dengan Alas dapat dilihat dari Lae Bengkong sampai pantai laut Itam.

Perbatasan sebelah barat sesuai dengan surat keputusan Gubernur Hindia Belanda pada tanggal 27 Januari 1930 No. 32/p.z, sebagai berikut: sebelah kiri dari Alur Putih atau arah timur menuju Gunung Manu dan ke arah selatan menuju Titi Orat. Dari Titi Orat ke arah Selatan menuju Titi Toro. Arah sebelah barat menuju Suak Mangkuto sampai ke ujung Lintang Utara sungai-sungai yang membelok dari arah barat kemudian ke batas berikutnya sampai pada tempat Mampelam dan terakhir ke arah kanan Barat Daya mengarah ke Ujung Pasir Galak. Sebelah selatan merupakan batas lautan Indonesia termasuk Pulau Banyak di sebelah barat daya Singkil serta lima pulau besar di Ujung Manuk-Manuk.

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. salam kenal..
    catatan yg sangat lengkap ttg singkil
    terima kasih

    ReplyDelete
  2. Assalamu'alaikum, sanak.
    kok bisa, share juo la tentang budaya-budaya singki, baapo tata letak urang2 singki membangun rumah, dll.
    penasaran juo awak baapo singki ko tempo dulu

    ReplyDelete